{Chapter 8} Posesif Brother

1.5K 160 21
                                        

Aku bersedekap ketika Harry memaksaku untuk duduk. Aku dapat melihat kemarahan Harry nyaris mengendalikan seluruh raganya. Beberapa kali Harry memejamkan matanya, berusaha mengusir amarahnya yanh nyaris ia tumpahkan.

"Darimana kau mengenal Niall?"

"Apa itu urusanmu, Harry?"

"Darimana kau mengenal Niall, Syd."

"Berhenti mencampuri kehidupanku, Bajingan!"

"Astaga! Apakah terasa sulit mengatakan darimana kau mengenal bedebah itu?!" Louis nyaris memekik sebelum akhirnya Harry memberikan tatapan peringatan.

"Sydney, kau tidak tahu, Niall itu berbahaya. Dia keparat."

"Kau bajingan."

"Niall tidak baik untukmu, Syd. Dengarkan aku, kau adikku, Syd. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Termasuk mencegah Niall mengganggumu."

"Dia tidak mengganguku, Harry. Dia guru privatku."

"Berguru dengan seorang bangsat? Astaga, rendah sekali."

"Tutup mulutmu, Louis! Ingat kau sedang bicara dengan adikku."

"Niall bukan orang yang baik, Syd."

"Benarkah? Kau menyebut pria seperti Niall itu tidak baik? Bagaimana caraku menyebut seorang keparat sepertimu? Kau bahkan lebih menjijikan dari sampah!"

"Bahkan teman pelacurku tidak pernah berkata seburuk itu. Mulutmu sangat kotor, Syd."

Sebuah pukulan mendarat di pipi mulus Louis. Louis yang nampak terkejut itu berteriak tidak terima.

"Jaga ucapanmu, keparat! Jangan pernah mengumpamakan adikku dengan pelacur-pelacurmu!" Harry berteriak didepan wajah Louis. Louis yang tidak senang segera mendorong Harry agar mundur dari hadapannya.

"Dia tidak baik, Syd. Niall itu keparat."

"Setidaknya dia tidak sejahat kau, Harry."

Harry berbalik. Dia mengacak rambutnya dengan kesal. Kulihat Harry berdercak menahan amarahnya.

"Sydney." Harry menjatuhkan lututnya didepanku. Kedua tangannya meraih tanganku, matanya menatapku lekat-lekat.

"Kumohon, jangan berdekatan dengan Niall. Dia tidak baik untukmu, Syd. Kau adalah permataku yang sangat berharga jadi aku tidak akan membiarkan tangan-tangan kotor dan nista menyentuhmu. Kau adikku, kebahagiaanku."

"Menjauh dariku, Harry." Aku menepiskan tangannya lalu mendorong dada Harry sehingga membuatnya terduduk.

"Kau dan teman keparatmu itu tidak berhak mengatur hidupku, Harry. Kalian itu makhluk yang tidak berharga. Sampah!" Ungkapku sebelum akhirnya aku pergi meninggalkannya. Aku masih sempat melihat kesedihan tersirat dimatanya. 

karena Harry adalah sumber masalah untukku. Dia terkutuk.

Aku tidak pernah lagi memiliki rasa kasih sayang padanya. Semuanya sudah menguap begitu saja seiring perputaran waktu.

Aku hanya melihat kebencian pada Harry. 

Tidak ada lagi Harry kakakku.

Tidak ada lagi Harry yang polos.

Bahlan, Aku sudah tidak memiliki seorang kakak lagi.

Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.

Keluargaku hancur. 

Ayahku mati karena bunuh diri, ibuku pergi bersama kekasih barunya dan meninggalkan kami lalu kakakku yang juga lebih memilih untuk masuk ke dunia hitam daripada memperhatikan adiknya.

Angel Without WingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang