"Harry!!" Aku memeluknya dari belakang. Harry yang tampaknya terkejut dengan kedatanganku hanya menyentuh punggungku ringan.
Kueratkan pelukannya, menciumi aroma tubuh Harry yang kusukai. Aroma tubuhnya berpadu dengan aroma parfume yang Harry kenakan.
Aku selalu suka parfume yang Harry kenakan. Aroma vanilla yang disempurnakan dengan campuran lavender dan lemon. Sedikit aroma 'woody' juga didalamnya.
Harry berbalik, hingga akhirnya aku memeluk tubuh bagian depannya. Aku menyukai pelukannya yang hangat.
"Kau sudah pulang rupanya." Harry mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang.
"Ini waktunya untuk makan siang, Syd. Aku membawakanmu makanan. Mencoba membuat kebab dan steak ayam." Ungkapnya sembari menuntunku menuju bangku taman.
Aku menunggunya dengan sabar di bangku taman, sementara Harry sibuk menyiapkan makan siang untukku. Kakakku ini sangat perhatian.
"Cuaca cukup terik. Apakah kau mau es limun?" Tawarnya. Aku menganggukan kepala dengan cepat.
"Dimana Louis?" Aku sedari tadi belum menemui manusia menyebalkan itu. Dia datang dan pergi sesuka hatinya. Terkutuklah kau, Tomlinson.
"Dia pergi dari tadi pagi. Mungkin dia memiliki urusan yang harus diselesaikan."
"Louis selalu saja datang dan pergi sesuka hatinya." Keluhku. Harry tertawa geli.
Aku bersorak girang ketika Harry datang membawa es limunnya. Aku meneguk es limun dengan cepat, cuaca yang terik membuatku kepanasan.
Harry memotong-motongkan steak itu untukku. Berulang kali kukatakan padanya jika aku dapat melakukannya sendiri, tapi Harry tidak peduli.
"Makanlah." Ujarnya ketika dia selesai memotongkan steak menjadi kecil untukku.
"Louis memang seperti itu, Syd. Aku tidak merasa heran lagi dengannya. Dia sudah seperti hantu yang suka datang dan menghilang secara tiba-tiba."
Kuanggukan kepalaku, pertanda aku mendengarkan ucapannya.
Kusingkirkan rambutku yang menghalangi pandangan. Harry bertindak cepat, dia menguncir rambutku dengan gesitnya.
"Tidak perlu seperti itu, Hazza. Aku bisa melakukannya sendiri." Ujarku ketika Harry menguncir rambutku.
"Biarkan aku saja. Cuaca yang cukup terik akan membuatmu merasa kepanasan jika rambutmu terus teruai seperti ini."
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Tuhan, aku sangat beruntung memiliki saudara seperti Harry.
Dia duduk didepanku, Memperhatikanku yang tengah makan. sesekali aku menawarkan padanya untuk makan bersamaku tetapi Harry menolak. Dia beralasan jika akan mengurangi porsi makanku jika dia ikut makan bersamaku.
"Bagaimana sekolahmu tadi? Apakah Nicole masih mengganggumu?"
"Tidak. Dia tidak berani mengangguku lagi." Jawabku dengan mulut yang penuh.
"Habiskan dulu makan di mulutmu itu, Syd."
Aku menurut. Kuhabiskan makananku terlebih dahulu. Harry berdiri, menuju minivan dan mengambil beberapa cupcake.
Aku hanya memperhatikan, Harry membawa tiga buah cupcake rasa coklat dan dua rasa vanilla didalam sebuah piring kecil. Tangan kirinya meraih sebuah benda yang ternyata adalah gitar.
Tidak berkomentar apapun, aku hanya memperhatikan apa yang Harry lakukan.
"Louis meninggalkan gitarnya." Harry seolah-olah menjawab pertanyaanku yang belum sempat kuungkapkan. Gitar berwarna coklat karamel itu terlihat begitu indah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Without Wings
Hayran KurguKetika kau memiliki seorang saudara seorang keparat, bajingan dan makhluk hina. Kau berharap kematian segera mendatangi orang itu. Ya, dia Harry Styles. Seorang bajingan besar dengan segala catatan kejahatannya. Dan dia adalah saudaraku. Kuhabiskan...
