Aku berlarian diantara koridor rumah sakit dengan tangisan yang tak dapat kutahan lagi.
Aku takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada kakakku, Harry.
Tak kuperdulikan tas ransel besar yang masih melekat diantara punggungku, tak kuperdulikan tatapan orang-orang yang menatapku aneh.
Harry, Harry sedang mengusai fikiranku. Dia sedang berusaha menguasai rasa takutku.
"Sydney!" Jerit seseorang ketika aku kesulitan mencari ruangan Harry.
Aku menoleh, mendapati Zayn yang berjalan cepat kearahku.
"Zayn, dimana Harry? Bagaimana keadaannya?" Tanyaku tak sabar ketika Zayn mendekatiku.
Zayn diam tidak menjawab. Darahku berdesir cepat karena menunggu jawabannya.
"Katakan bagaimana keadaan Harry? Dimana letak ruangannya? Dia membutuhkanku." Gumamku dengan lirih.
Zayn memelukku dan berusaha menenangkanku. Zayn sempat mengusap punggungku.
"Harry baik-baik saja, kan?"
"Kita telah kehilangannya."
Apa?
"Maksudmu?"
"Harry---Harry sudah meninggalkan kita Syd. Dia pergi."
"Kau bercanda? Harry pasti baik-baik saja."
Aku mendorong bahu Zayn dengan kuat. Aku tak menyangka jika Zayn berkata seperti itu
.
menjauhi Zayn, aku berusaha mencari dimana letak ruangan Harry.
'Harry pasti baik-baik saja' itulah yang terus kukatakan pada hatiku.
Aku tak perlu bersusah payah karena Harry akan baik-baik saja. Ini sudah pukul 3 pagi dan dia akan merayakan ulang tahunku dengan meriah. Harry akan menepati janjinya.
Harry hanya tidak sehat, Harry tak akan meninggalkanku.
kakiku berhenti melangkah ketika melihat seseorang yang menangis didepan sebuah ruangan.
Tubuhnya terguncang dengan keras walaupun bagian belakang tubuhnya bertumpuh pada dinding yang ada dibelakangnya. Tangannya berusaha menutupi mulutnya agar isakkannya tak keluar dari mulutnya.
"Sydney." Panggil seseorang yang ternyata adalah Louis.
Aku terdiam, dengan posisi yang masih membelakangi Louis, aku dapat melihat wanita itu menoleh kearahku dan kemudian berhambur kearahku.
"Syd, Harry telah pergi. Harry benar-benar pergi." Isaknya ketika dia memelukku.
Tubuhku lemas, lututku tak dapat menahan berat badanku jika wanita ini tak memegangi pinggangku.
"Kau bercanda! Harry masih hidup! Berhenti menipuku!" Pekikku tak terima.
"Kakakku masih hidup! Harry tak mati. Dia akan merayakan ulang tahunku hari ini. Harry hanya kurang sehat." Tegasku dan membuat perempuan yang mengatakan jika dia adalah ibuku itu semakin menangis kencang.
"Aku akan bertemu dengan Harry dan mengatakan jika rencana bodohnya sudah dapat kutebak. Dia pecundang yang bodoh. Aku akan menertawainya karena dia gagal membuatku terkejut." Tawaku frustasi.
Aku membuka pintu ruangan Harry dan muncullah seorang pria dengan penutup wajah diwajahnya. Dia menurunkan penutup wajahnya ketika melihatku berada didepannya.
"Sydney Seventeen Styles?" Tebaknya. Aku menganggukan kepalaku dengan tak sabar.
"Kakakmu sempat tertahan untuk menunggumu selama setengah jam, tapi akhirnya dia menyerah. Harry menghembuskan nafas terakhirnya dengan damai. Aku turut berduka atas kematian kakakmu" Katanya berduka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Without Wings
Hayran KurguKetika kau memiliki seorang saudara seorang keparat, bajingan dan makhluk hina. Kau berharap kematian segera mendatangi orang itu. Ya, dia Harry Styles. Seorang bajingan besar dengan segala catatan kejahatannya. Dan dia adalah saudaraku. Kuhabiskan...
