{Chapter 22} Hazza's cupcake (2)

985 137 7
                                        

"Apa kabarmu, Nona Styles? Lama tidak berjumpa." Nicole menghalangi jalanku ketika hendak pulang. Aku melipat tanganku didepan dada, melemparkan senyuman manis padanya.

"Well, senang rasanya melihatmu merindukanku, Nic." 

Nicole berdecih, nampak muak dengan kata-kataku.

"Kudengar saudaramu sudah lebih baik. Bagaimana kabar kaki pincangnya itu?"

"Harryku dalam keadaan baik. Terimakasih sudah mendoakannya."

"Benarkah? Kuharap kali ini Harry tidak tertangkap tangan lagi ketika sedang memakai narkoba."

"Saudaraku tidak lagi memakai narkoba." Bantahku. Dia tertawa hina.

"Tidak usah membantah seperti itu, Styles. Semua orang tahu jika Harry merupakan pengguna narkoba yang ketergantungan."

"Apa masalahmu? Harry tidak pernah mengganggumu. Dia saudaraku."

Lagi, Nicole tergelak karena ucapanku. Seolah yang kukatakan adalah lelucon paling menggelikan yang pernah ia dengar.

Aku mengabaikannya, memilih untuk pergi meninggalkannya. Tapi, Nicole menarik lenganku dengan erat.

"Jangan pernah bertindak tidak sopan denganku, Syd!"

"Memangnya kau siapa? Kau bukan orang yang berjabatan di sekolah ini!"

"Beraninya kau!" Dia mencengkram lenganku lebih erat. 

"Durjana!" Teriak Nicole kemudian. Aku terkejut, melihat Harry sudah berdiri dibelakang Nicole dan memilin lengan Nicole ke belakang.

"Bukankah sudah kukatakan jika aku akan mematahkan tulangmu jika kau berani menganggu Sydney lagi, Nona?" Ujar Harry dengan suara serak.

"Kalian keparat! Kau dan Sydney sama saja!"

"Kau boleh membenciku, tapi jangan pernah menganggu adikku. Kau bahkan lebih hina daripada aku!" Harry memilin lengannya sekali lagi hingga Nicole menjerit kesakitan.

Aku berani bertaruh, Harry hanya mengeluarkan sedikit tenaganya untuk memberikan pelajaran pada Nicole. Tidak terlalu kuat, tapi cukup memberikan rasa jera padanya.

Harry mendorong Nicole kearahku, aku hanya tersenyum melihat Nicole yang meringis kesakitan.

"Keparat!" Pekiknya kuat.

Aku terkekeh. Harry menarikku kedalam pelukannya. Menatap Nicole dengan tegas.

"Untuk terakhir kalinya, kuperingatkan padamu. Jika kau berani menyakiti adikku lagi, maka aku tidak akan menjamin keselamatanmu setelah itu. Jangan salahkan aku jika kau mengalami cacat fisik ataupun yang lain." Tegas Harry. Nicole berdecih sombong.

"Mungkin dulu saudaraku memang pencandu narkoba, tapi sayangnya itu dulu. Harryku bukan seperti yang kau katakan! Dan, kau tidak lebih baik daripada saudaraku! Kau menyakiti orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa kesalahannya. Semoga harimu menyenangkan, Nicole." Ujarku kemudian melenggang pergi bersama Harry. 

Sepanjang koridor, sorotan mata tidak terlepas dariku dan Harry. 

Banyak bisikan dan pergunjingan yang mempertanyakan kedekatanku dengan Harry yang sekarang.

Aku mengerti, satu sekolah mengetahui jika aku sangat membenci saudaraku. Hanya saja, itu dulu.

"Harry, aku sudah tidak sabar untuk pergi ke kedai. Siapa yang berjaga disana?"

"Aku dan Louis sudah berada di taman satu jam yang lalu. Tapi, tenanglah. Kami hanya membersihkan tempatnya, belum sepenuhnya membuka kedai. Kami masih menunggumu." Harry mengusap rambutku lembut. Aku memeluknya manja.

Angel Without WingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang