{Chapter 11} Poor Brother

1.4K 162 31
                                        

Perlahan-lahan, semuanya terasa mulai berjalan dengan cepat. Sudah 3 hari sejak Harry dipenjara dan aku semakin menyukai kebebasanku.

Aku meminta Niall untuk menemaniku dirumah ini. Kendati Louis terus saja datang dan berteriak menyuruh Niall pergi dari rumah sebelum Harry yang datang dan mengusirnya.

Louis tidak berbeda jauh dengan Harry. Mereka tidak berguna!

Siang ini, seseorang mengetuk kaca jendela kamarku. Sedikit terkejut karena ternyata itu adalah Zayn.

"Hey." Sapaku. Zayn tersenyum dan memberiku isyarat agar membukakan jendela untuknya.

"Hey." Jawabnya ketika dia sudah berada di kamarku.

"Kenapa tidak lewat pintu saja?"

"Aku lebih suka masuk melalui jendela." Guraunya sembari tertawa. Zayn melemparkan sebatang coklat padaku. Sementara ia memakan sebatang coklat yang lainnya.

"Dimana Niall?"

"Dia pergi bersama teman-temannya."

"Well, aku tahu jika Niall memang tidak bisa berdiam diri dirumah saja."

Aku tidak menanggapi ucapannya karena sibuk dengan coklat yang sedang kumakan.

"Bagaimana kabar Harry? Apakah dia sudah bisa dibebaskan?"

Aku mendongakkan kepala mendengarnya. Heran, bagaimana bisa Zayn mengetahui jika Harry dipenjara.

"Bagaimana kau tahu jika Harry di penjara?" Selidikku. Zayn nampak terkejut dengan pertanyaanku.

"Aku mendengar kabar ini dari Niall. Kukira Niall hanya bercanda, tapi rupanya ia bersungguh-sungguh." Gumam Zayn.

"Harry dipenjara karena berkelahi. Kedua kakinya di tembak dan itu membuatnya tidak bisa berjalan. Malang sekali. Tapi, aku membencinya."

"Kau membenci Harry?"

"Sangat membencinya. Aku mempunyai alasan mengapa aku membencinya." 

Zayn terdiam. Nampaknya dia cukup terkejut dengan ucapanku.

"Kukira Harry sangat menyayangimu."

"Memang kenyataannya Harry sangat menyayangiku. Hanya saja, aku tidak bisa menyayanginya."

"Kenapa?"

"Aku memiliki alasan pribadi, Zayn." 

Zayn mengangguk paham jika aku tidak bersedia menceritakan alasan mengapa aku membencinya. Semua orang membutuhkan privasi dan aku tidak ingin Zayn mengetahui privasiku.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Sebuah nomor yang tidak dikenal yang menghubungiku. 

"Hallo?"

"Sydney, ini aku, Harry."

"Aku akan menutup teleponnya."

"Tidak. Jangan, Syd. Aku merindukanmu." suara Harry nyaris berubah serak. 

"Bukankah kau sudah mati?"

"Aku hanya akan mati jika tugasku menjagamu sudah selesai."

"ada apa, bajingan?"

"Aku--aku hanya ingin mendengar suaramu. Aku mencemaskanmu, Syd."

"Aku lebih baik tanpa kehadiranmu."

"Jangan khawatirkan aku, Sydney. Aku disini baik-baik saja."

"Bahkan kuharap kau segera mati, Harry."

Ada jeda yang cukup panjang diantara percakapan kami. Mungkin Harry menangis atau entahlah.

"Bagaimana keadaanmu? Siapa yang menjagamu, Syd."

Angel Without WingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang