{Chapter 13} broken family

1.2K 145 38
                                        

Malam ini Niall mengajakku mengunjungi rumah Liam. Liam mengadakan pesta dirumahnya, dan dia mengundangku.

Tentu saja aku senang. Aku belum pernah datang ke acara pesta seperti ini sebelumnya.

Aku bergeliat tidak sabar, menunggu kedatangan pria berambut blondeku. Niall.

"Aku sudah tidak sabar." Gumamku pada diri sendiri.

"Rain?" Suara sialan itu lagi.

"Ada apa, keparat? Kau belum mati?"

"Kemana kau akan pergi?"

"Itu bukanlah urusanmu, Harry! Kenapa kau tidak mati saja? Seharusnya mereka memukulimu sampai kau mati, bukan hanya pincang seperti ini!"

Harry hanya diam saja, tidak membalas hardikanku.

"Kau akan pergi dengan siapa?"

"Terkutuklah kau, Harry! Berhenti mencampuri urusanku!"

"Aku hanya ingin memastikan jika kau aman."

"Apakah itu penting? Sebaiknya persiapkan saja kematianmu, Harry. Aku sudah muak denganmu!"

Kali ini Harry tidak menjawab. Dia lebih memilih menjauhiku dan itu membuatku merasa lebih baik.

"Harry sialan! Dia merusak moodku." Ujarku pada diri sendiri.

Aku bingung, bagaimana bisa Harry yang tergolong pria bajingan tidak lekas mati? Bukankah mereka selalu mengatakan jika orang jahat akan mati terlebih dahulu? Lalu, mengapa sampai saat ini Harry belum juga mati?

Aku benci semuanya!

Aku benci Ayahku. Dia pengecut yang memilih mengakhiri hidupnya hanya karena wanita murahan yang menyebut dirinya sebagai ibuku itu telah meninggalkannya.

Aku benci Ibuku! wanita jalang itu meninggalkan kami hanya untuk pria yang lebih kaya dan membuat ayahku memutuskan untuk bunuh diri.

Terakhir, aku sangat benci Harry. Manusia hina nan terkutuk itu ditakdirkan menjadi saudaraku.

Durjana itu menjual narkoba, dan itu mempermalukanku!

Apakah ada yang lebih menjijikan daripada keluargaku?

Kuharap, suatu saat hidupku akan lebih baik dari sekarang. Dan tanpa Harry!

"Sydney?" Seseorang mendekapku dari belakang. Menyembunyikan wajahnya dibalik leherku dan itu membuatku geli.

"Aku sudah lama menunggumu, Ni." Rajukku. Dia terkekeh tepat di telingaku.

"kau sudah tidak sabar?"

"Kurasa seperti itulah."

Niall berbalik kearahku, membuatku sepenuhnya berhadapan dengan matanya. Dengan iris biru lautnya itu.

Dia membelai kepalaku dengan pelan, mendaratkan ciuman di keningku.

"Aku mencintaimu, Syd."

"Aku juga, Ni."

Niall tersenyum. Detik selanjutnya dia terdiam dan akhirnya menciumi bibirku tanpa aba-aba apapun lagi. Aku terkejut, sungguh. Niall begitu tidak terduga.

Aku membalas ciumannya dengan bersusah payah. Jujur saja, aku masih belum terlalu mahir untuk berciuman seperti ini.

Entah berapa lama, akhirnya Niall memutuskan untuk melepaskan ciumannya.

Menggigit pelan telingaku dan menyeringai menyebalkan.

"Ayo kita pergi, Syd."

●●●

Angel Without WingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang