{Chapter 15} confused

1K 125 2
                                        

"Kau tahu, Syd?"

"Apa?"

"Aku memutuskan untuk pergi dari rumah Liam."

"Kenapa?" Aku menoleh kearahnya, dia menggelengkan kepalanya dengan jenuh.

"Aku .... aku hanya merasa bosan."

"Bukankah kau memiliki alasan, Zayn?"

"Tidak. Aku benar-benar jenuh." 

Zayn menghembuskan nafasnya dengan berat sebelum akhirnya berbaring di ranjangku.

Malam ini Zayn datang kerumahku, memanjati rumahku dan pergi masuk kedalam kamarku.

Jika aku bertanya kenapa dia tidak masuk melalui pintu utama saja, Zayn selalu menjawab jika dia sudah terbiasa memanjati dinding-dinding kamarku.

"Kehidupan terasa sangat berat untukku, Syd." 

"Kau memiliki beban fikiran?" Aku membuka bungkus kacang kulit milikku, membuka kulit kacang itu dengan tidak sabar lalu memasukannya kedalam mulut.

"Tak ada. Aku merasa jika hidup ini tidaklah adil."

"Ya, hidup memang tidak adil. Kenapa Harry harus menjadi saudaraku?"

Zayn hanya berdehem kecil, tidak menjawab apapun.

"Dimana Niall? Apakah dia tidak kemari?"

"Sudah dua hari lamanya dia tidak menemuiku. Kau ingat saat pesta dirumah Liam? Itulah saat terakhir aku bertemu Niall."

"Mungkin dia sedang sibuk."

"Aku juga merasa seperti itu."

"Ehem .... Sydney, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

"Katakanlan."

"Bagaimana aku menurutmu?"

"Maksudmu?"

"Ya, kau tahu jika diluar sana orang-orang menganggapku tidak baik. Maksudku, apakah kau pernah merasa tidak senang ketika aku mengunjungimu seperti ini?"

"Tentu saja tidak. Pertama melihatmu, kukira kau orang yang acuh."

"Mereka juga mengatakanku seperti itu. Apakah kau tahu jika mereka tidak ingin berteman denganku karena penampilanku seperti ini."

"Penampilanmu? Kau tampan dan menurutku .... "

"Bukan. Bukan seperti itu maksudku. Aku bajingan, Syd."

"Tidak. Harry yang bajingan."

"Mereka menghindariku karena aku pembuat masalah. Menurutmu seperti itukah?"

"Tidak. Kau tidak seperti itu. Kau pria yang manis, Zayn."

"Apakah kau tahu, kau orang yang pertama berkata seperti itu padaku."

Aku tertawa kecil, menyenangkan rupanya berbicara dengan Zayn.

"kudengar kau menyukai gitar, benarkah begitu?"

"Aku menyukai gitar sejak keluargaku hancur. Ya, setidaknya gitar membuatku merasa lebih baik."

Zayn mengangguk setuju, dia mengambil langkah menuju gitarku.

"Gitar yang keren." Pujinya.

"Aku mendapatkan gitar itu dari uangku sendiri. Walaupun sudah usang, tapi aku senang memilikinya."

Zayn meraih gitarku, membawanya kedalam dekapan lalu ia duduk didepanku.

"Bolehkah aku menyanyikan sebuah lagu?"

Angel Without WingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang