Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Sepotong Hati untuk Ajeng

6.6K 323 2
                                        

Sejam berlalu Ajeng baru saja selesai membersihkan dua kamar tamu yang dia siapkan untuk mertua dan eyangnya. Dia menuruni tangga sambil membawa dua selimut tergulung bersama dua seperai putih dalam dekapannya.

Dirinya takjub melihat apa yang ada didepannya sekarang. Dua bocahnya tadi yang tengah asik bermain kini sudah tertidur lelap dengan dot botol susu masing-masing di mulut mereka. Sedangkan Gerald ikut berbaring di samping si mungil Iba sambil menepuk-nepuk lembut paha kecil gadis itu.

"Hebat!" desis Ajeng, yang di dengar oleh Gerald. Gerald mengangkat kepalanya melihat Ajeng yang kini menatapnya sendu lalu bangkit duduk dari pembaringannya tadi.

"kamu baru selesai? Lama amat bersih-bersih kamarnya?"

"mereka...kamu yang tidurin?" Ajeng tidak menjawab pertanyaan Gerald malah balik bertanya sambil menunjuk kedua bocah yang tidur di sampingnya, dengan memakai dagunya.

"apa kamu lihat orang lain, selain aku?" sergah Gerald

"kau bisa membuatkan mereka susu? Memangnya kau tahu yang mana susu Iba dan Abi?" tanya Ajeng tak mempedulikan Gerald. Dalam kepalanya memikirkan kekagumannya bertambah lagi pada pria di depannya ini.

"aku bisa membaca". Jelas Gerald membuat Ajeng mengangguk mengerti.

"baiklah. Terimakasih." ungkap Ajeng dengan senyumnya yang tulus, yang seketika membuat hati Gerald menculas. Baru kali ini dia melihat senyum seindah itu.

Apa ini? Apakah dirinya benar-benar tertarik pada gadis yang sekarang berjalan menuju tempat pencucian pakaian.

Setelah Ajeng memasukkan kain yang di bawanya ke dalam mesin cuci dan mulai mengoperasikan mesin itu untuk mencuci, dia kembali berjalan mendekati Gerald dan duduk diatas kasur tipis yang menjadi pengalas bocah-bocah itu tidur. Duduk bersila tepat di depan Gerald yang sedari tadi menatapnya. Dirinya menyadari itu.

Ajeng mencondongkan badannya ke depan Gerald memberi jarak beberapa centi meter diantara wajah mereka.

"Berhentilah menatapku. Jangan sampai kau benar-benar jatuh cinta padaku, karna aku tidak akan bisa bertanggung jawab akan hal itu". bisik Ajeng tepat didepan hidung Gerald, lalu berdiri dari duduknya.

Gerald terkesiap sadar dan langsung mendongak geram kepada gadis yang tadi sedang menggodanya.. Engg.. Entahlah apakah tadi itu Ajeng sedang menggodanya? Dirinya sendiri menyadari sedari tadi. Matanya lekat memperhatikan gadis itu.

"hm... Sudah sampai mana Eyang sekarang?" tanya Ajeng yang sekarang melenggang menjauhi Gerald dan masuk ke dapur.

"Mama mu suka masakan apa?" teriak Ajeng sambil memakai apron-nya, dan bersiap mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas.

"Tanya saja sendiri, orangnya ada disini." jawab Gerald tidak kalah berteriak dari ruang tamu. Ajeng terkesiap dan segera berlari keluar untuk menyambut mertua dan Eyangnya.

"Mama, Eyaaanggg...." histeris Ajeng segera menubruk memeluk mertuanya, lalu berganti pada Eyangnya. Ajeng sudah lama mengenal dua perempuan yang ada di depannya. Haya saja dulu dirinya tidak pernah mau tau soal pria yang berstatus suaminya sekarng.

"masuk, yuuk. Eyang sama Mama nginap, kan?" tanya Ajeng mengamit manja pada lengan Eyangnya.

"rencananya Eyang mau nginap selama tiga hari di sini, kangen kamu katanya." jelas mama Diana dengan senyumnya. Eyang Lyli hanya mengangguk-angguk setuju dengan apa yang di katakan Diana tadi.

"assiiiiikkk. Rumah jadi rame kalo gitu. Kebetulan Ajeng libur kuliah juga, Eyang. Nanti aku ajak jalan yaaah. Bosan soalnya tinggal di rumah terus..." Ajeng terus mengoceh dengan manja. Gerald hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah gadis di depannya ini.

90 Hari untuk GeraldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang