Eyang Lily tidak percaya dengan apa yang di tangkap oleh matanya sekarang. Sepasang cucunya yang tidak ia percayai dalam-hubungan-suami isteri itu ternyata tidak seperti apa yang dirinya bayangkan selama ini.
Dirinya merasa takjub juga terharu... Entahlah, benarkah dirinya terharu melihat pemandangan di depannya sekarang. Gerald dengan nyenyak-nya tertidur di atas pinggul Ajeng. Sedangkan tangan Ajeng ada di atas dada Gerald.
Eyang Lyli selama ini tidak pernah percaya dengan hubungan yang katanya sepasang "suami isteri" ini. Pasalnya Eyang Lyli tau apa yang ke dua cucunya ini lakukan.
Dengan cekatan Eyang Lyli mengarahkan kamera smartphone-nya pada pemandangan yang ada didepannya sekarang. Hanya saja blitz kameranya lumayan terang dan suara shutter kameranya sangat mengganggu.
Ajeng mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum dirinya benar-benar sadar dari tidurnya. Dia melihat kesekeliling lalu mendapati Eyang Lyli tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya tidur dengan senyum yang benar-benar cantik yang sebelumnya tidak pernah Ajeng lihat, dengan tangan Eyang Lyli yg masih mengacung ke arahnya menggenggam smartphone-nya. Sekali lagi blitz juga suara shutter kamera dari smartphone itu benar-benar menyadarkan Ajeng.
Ajeng menepuk lembut dada Gerald berusah untuk membangunkannya. Karena sekarang dirinya merasakan keram yang lumayan pada bagian pinggulnya
"Eyang..." gumam Ajeng dengan suara serak baru bangun tidurnya.
Gerald mengerang kecil sambil bangun terduduk dari tidurnya seraya mengerjap-ngerjapkan matanya mengumpulkan kesadarannya.
"Eyang butuh sesuatu? Eyang mau makan?" tanya Ajeng dengan posisi duduk yang sama dengan Gerald.
"Tidak, Eyang tidak butuh apa-apa" jawab eyang Lyli sambil menggelengkan kepalanya. "tidurlah lagi. Maafkan Eyang membangunkan kalian." ungkap Eyang Lyli lalu berlalu menaiki tangga dengan senyum masih terulas di bibirnya.
Gerald menatap Ajeng penuh tanya. Ajeng juga seperti itu. Hanya saja tatapannya tertuju pada Eyang Lyli yang sekarang sudah masuk ke dalam kamarnya.
--------------------------------------------
Waktu jam makan malam tiba. Ajeng sedang sibuk di dapur menyiapkan beberapa menu untuk makan malam. Gerald sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menonton siaran berita bisnis.
Kedua bocahnya sudah pulang sore tadi di jemput oleh Kak Sania sendiri dengan membawa berita bahagia. Persidangannya sukses. Kak Sania memenangkan sidang tersebut dengan hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Kak Sania. Mereka berdua sempat loncat-loncat kegirangan sebelum Eyang Lyli datang dan menghentikan aktifitas tidak wajar kakak beradik ini.
Tatapan Gerald serius tertuju pada layar LCD Tv yang sedang menayangkan siaran berita tentang angka saham bisnis disana. Dirinya bahkan tidak sadar bahwa sekarang ada segerombolan empat pria dewasa dengan santai memasuki rumahnya dengan senyum sumringah memandang pemandangan yang ada di depan mereka.
Gerald yang sedang menonton dan di seberang dalam sana seorang perempuan cantik yang tak lain Isteri Gerald sedang sibuk memasak.
"Hey, Dudeee... Sore begini harusnya kau menutup dan mengunci rumahmu." tutur salah seorang dari empat pria tersebut sambil menepuk keras pundak Gerald dan membuatnya tersentak kaget.
"Kalian..." teriak Gerald antusias, lalu segera berdiri dan memeluk keempat pria itu yang tak lain sahabatnya sendiri. "Kalian tega tak menghadiri pernikahanku. apa yang kalian lakukan sehingga membuat kalian serempak tak bisa datang???" ungkap Gerald usai memeluk sahabatnya.
"Wow... kau kacewa pada kami, dude??? kami kira kau tak mengharapkan kami?" ungkap salah sorang lagi yang membuat gelak tawa keempat pria itu.
"Yah, kalian membuatku kecewa. Tapi sudahlah, karna kalian sudah disini, tinggallah lebih lama disini. Aku ingin mendengarkan alasan kalian kenapa bisa kompak tak bisa datang ke pernikahanku kemarin."
"Baiklah, baiklah. Tapi, ijinkan kami mengenal wanita cantik yang ada di sana". ungkap seorang lagi dari mereka dengan senyum sumringah sambil menunjuk Ajeng dengan dagunya.
"Ooh... Maaaann Kau menyembunyikan gadis cantik di dapur? kau benar-benar keterlaluan." ungkap pria tersebut yang disambut tawa oleh teman-temannya yang lain.
"Diam Kau, Steve!" ungkap Gerald, lalu segera memanggil Ajeng. Ajeng segara menghentikan kesibukannya lalu mematikan kompornya sebentar dan mendekat ke arah Gerald.
Baru saja ingin protes karena kegiatan favoritnya di ganggu Ajeng tiba-tiba membeku. Bukan karena melihat ramainya pria-pria yang ada di hadapnnya sekarang. Tetapi salah satu dari para lelaki itu yang membuatnya membeku. Begitu juga sebaliknya, salah satu dari sahabat Gerald tidak menyangka sama halnya dengan Ajeng.
"Kak Jonath!!!" gumam Ajeng lalu tanpa berfikir panjang segera menghambur memeluk lelaki yang disebutkan namanya.
Gerald dan ketiga sahabatnya saling berpandangan mencoba mencari tahu apa yang ada di depan mereka. Tapi, mereka sama-sama menggeleng dan serempak mengangkat kedua pundak mereka.
Berbeda dengan kedua insan yang sedang berpelukan tersebut. Jonathan begitu erat memeluk Ajeng seakan tak ingin sedikitpun melepaskan pelukannya. begitu juga sebaliknya. Ajeng sudah sangat lama rindu pada pria yang sudah dia anggap kakak ini. Pria ini tiba-tiba pergi tanpa memberitahunya dan sangat lama baru dirinya bisa melihatnya lagi. Mereka berdua sama-sama menyalurkan kerinduan mereka tanpa mereka peduli pada ketiga orang yang sedang memperhatikan mereka.
Gerald tersentak dengan kenyataan yang ada tiba-tiba dia begitu emosi melihat Ajeng begitu erat memeluk sahabatnya sedangkan dirinya saja selama hampir sebulan ini tidak pernah menyentuh Istrinya seperti itu, secara tidak ia sadari dirinya mengepalkan kedua tangannya mencoba untuk menahan emosinya. Entah, mungkinkah dirinya saat ini benar-benar sudah menganggap Ajeng sebagai istrinya?
"AJENG !!!" teriakan itu menggelegar di penjuru ruangan. Sontak saja Ajeng melepaskan pelukannya. Mereka berlima menoleh ke arah suara tersebut. Di atas sana, diatas tangga paling atas Eyang sedang berdiri dengan wajah geram bersama ibu mertuanya.
Ajeng setengah mati menelan salivanya. Baru saja dia menemukan "Senjanya" kembali, kini dia harus dihadapkan dengan masalah baru.
"Help me pliiiiiiiiisss" bisik Ajeng sambil meremas jemari Jonathan.
***
Ragara hempong rusak. ceritanya baru bisa update lgi. mohon di maafkeunn 😁😁😁
Happy Reading guys.
Mohon saran & kritiknya.
Mohon d vote juga yaaahhhh.
Terimakasih😁😁😁
KAMU SEDANG MEMBACA
90 Hari untuk Gerald
RomansaWarning (18+). *Ajeng : "Menikah, Ibu bilang? Setelah melihat ke dua kakakku bahagia dengan pernikahannya aku sudah mempersiapkan diriku jauh-jauh hari untuk menikah. Tapi, dengan siapa? Masih jamanka perjodohan? Oh, tidak. Jangan dengan cucu Eyang...
