Jonatan Christie

7.3K 312 10
                                        

*flashback

"Lalu rencanamu yang lain kedepannya, apa?" tanya Gerald sambil menyesap Mochacinonya. "bagaimana dengan rumah yang akan kita tinggali nanti, dan berapa pembantu yang akan kau butuhkan?" tanyanya lagi sambil mengangkat dagunya angkuh

"bukannya kau punya rumah? Atau kau ingin tinggal dirumah orangtuaku dan hidup bersama mereka lalu dengan segera perjanjian ini akan terbongkar. Apa yang itu kau inginkan?" tanya balik Ajeng sambil bersedekap.

"baiklah. Kita tinggal dirumahku dan masing-masing memiliki kamar. Apa itu yang kau inginkan?"

"pastinya. Apa kau ingin tidur denganku? Melihat dirimu saja yang sekarang, kau bahkan sedikitpun tak tertarik padaku. Tapi aku tidak peduli bahkan ku akui kesetiaanmu pada wanitamu. Ck, jaman sekarang mana ada laki-laki seperti dirimu." Ajeng berdecak kagum.

Gerald menyunggingkan senyum bangga yang membuat Ajeng mencibir melihatnya. Sejurus kemudian Ajeng menyesali pujiannya tadi.

"lalu, bagaimana dengan pertanyaanku tadi?" tanya Gerald lgi.

"aku tidak butuh seribu pembantu yang ada di rumahmu itu. Aku yakin dengan adanya mereka dan melihat keadaan kita aku rasa perjanjian ini akan segera terbongkar juga nantinya dengan secara cepat. Sebaiknya kau singkirkan saja mereka. Pindahkan ke rumah-rumahmu yang lain."

"lalu siapa yang akan mengurusi kita nanti?" tanya Gerald menaikkan Alis kanannya.

"apa kau meragukanku?" Alis Gerald makin tinggi saat mendengar pernyataan Ajeng, membuat Ajeng merasa harga dirinya terinjak.
"aku bisa mengurusmu layaknya aku istrimu. Tapi sebatas hanya menyiapkan makanan atau apapun itu di luar hubungan suami istri yang sebenarnya." Gerald makin tertantang dengan penjelasan Ajeng.

"apa kau tau masak?" pertanyaan Gerald makin membuat hati Ajeng panas. Dia paling benci diremehkan.

"bukankah waktu pertemuan Eyang Lyli bersama kedua orangtua kita kau menikmati makanan dirumahku? Ayahku memerhatikan makanmu dan dia bilang kau sangat menikmatinya." jelas Ajeng lagi, membuat Gerald mengangguk-angguk pelan.

"apa kau yang memasaknya?" pertanyaan Gerald makin mengiris hati Ajeng

Ajeng meringis "apa kau menyukainya?" tanya Ajeng sambil menyilangkan kaki dan tengannya sambil mengangkat dagunya. Sekarang dia kelihatan anggun.
"dan kalau aku tidak salah ingat, Eyang Lyli memuji masakan itu. Apa kau harus ragu lagi? Tenanglah Tuan Gerald Ardani Ganendra. Aku bukan orang yang bodoh dan keji apa lagi memiliki fikiran untuk membunuh putra mahkota satu-satunya penerus Ganendra Bangsawan!" ungkap Ajeng makin membuat alis Gerald terangkat.

"baik lah, lalu bagaimana dengan bersih-bersih rumah dan pakaian kotor".
Oh, baiklah. Dia putra penerus dari Ganendra grup. Wajahnya tampan hampir sangat mirip dengan atlet bulutangkis yang dia kagumi "Jonathan Christie". Tapi haruskah tingkahnya seperti seorang perempuan? Dia terlalu bawel!

Ajeng memutar bola matanya.
"aku rasa me-loundry cucianmu setiap hari tidak akan membuatmu bangkrut!"

"oke, oke! Mungkin kau merasa aku terlalu bawel..." right! kau benar. Kau mampu membaca fikiranku. Gumam Ajeng. "tapi itu karena mungkin aku terlalu hyperprotektif soal hidupku sendiri." ungkap Gerald menaikkan pundaknya.

"baiklah, baiklah. Lakukan apapun yang kau mau. Dan aku yakin, sedikit colekan pada pembantumu dari Eyang Lyli dan sandiwara pernikahan kita ini akan selesai di minggu pertama. Dan kau pasti tau apa yang akan terjadi padamu. Yah, sedikit banyak pasti imbasnya kepada dirimu. Untukku mungkin hanya secuil." jelas Ajeng sambil menjentikkan kukunya.

Gerald berfikir dan membenarkan apa yang Ajeng ungkapkan tadi. Dirinya hanya merasa sedikit takut bila rumah dan dirinya tidak akan terurus dan dia sangat membenci bila itu terjadi. Maka dengan harus sangat terpaksa dia harus menyetujui gagasan Ajeng.

"baiklah. Kita lihat saja nanti dan apakah benar kau akan membuktikan kata-katamu tadi? Semogah itu bukan hanya pencitraan diri seorang anak ingusan saja."
Ungkapan ini membuat bara hati Ajeng menculas. Wajahnya memerah marah. Dirinya paling benci mendengar orang bahwa seorang anak yang orangtuanya kaya akan sangat manja bahkan tidak bisa dan tidak becus mengerjakan sesuatu.

"Oke!!! Kita lihat saja nanti. " tantang Ajeng.
"eh, tapi tunggu dulu, aku menyinggung soal harta goni gini yang kau sebutkan itu. Aku ingin mengajukan satu syarat lagi."

"Apa itu?" tanya Gerald menyenderkan punggungnya ke kursi sambil menyilangkan kakinya.

"jika saja nanti tidak sengaja... Ngg... Atau entahlah bagaimana ceritanya sehingga aku mengandung anakmu, tidak segan-segan aku akan menuntut harta gono-gini itu sebanyak 50% dari kekayaanmu. Maka karena mungkin kau dengan pelitnya untuk memberikan hartamu pada orang lain, maka hati-hatilah dengan pergerakanmu, Tuan."

Gerald berusaha tenang. Ingin rasanya dia tertawa keras karena mendengar pengakuan gadis kecil didepannya ini. Entah kenapa gadis ini sangat menarik. Dia sangat takut untuk di sentuh.

"Wooo. Sayangnya aku bukan Pria tampan tak tahu malu dan sangat pelit seperti yang kau sebutkan itu, Nona Ajeng Arien Willter! Aku adalah Pria tampan yang sangat dermawan dan loyal pada siapapun. Jadi, kalaupun kau mengandung anakku nantinya. Jangan takut. Apapun akan ku berikan padamu. Dan harus kau ingat Nona... Gerald mencondongkan tubuhnya sedikit maju ke hadapan Ajeng "jika memang kau mengandung anakku nanti. Kau tidak akan pernah ku lepaskan. Kau harus ingat itu!"

Ajeng tidak gentar. Hanya saja entah kenapa perasaan takut itu selalu ada jika dia membayangkan akan disentuh oleh pria arogan di depannya ini.

"baiklah, akan ku pegang kata-katamu, Tuan. Dan semoga kau tidak akan menyentuhku sedikitpun. Karena aku akan sangat membencimu bila itu terjadi!"

Gerald hanya bersedakap memandang dingin gadis kecil yang ada didepannya ini. Sangat mustahil untuk menyentuhnya, sedangkan selalu saja wanita tercintanya ada untuk memuaskannya.

Ajeng menyesap Cappucino-nya. Sambil memandang garang Gerald dari balik cangkirnya. Dilihat dari manapun ketampanannya benar-benar sebelas duabelas dengan "Jonatan Christie". Ajeng sangat mengagumi sosok atlet muda itu. Tapi dia tidak berfikir bahwa dirinya akan bertemu duplikat idolanya. Hanya saja sikap mereka sangat jauh berbeda.

Terlalu jauh malah. Pria yang ada didepannya ini sangat sombong, angkuh, arogan, kasar, culas, dan terlalu dingin. Ditambah lagi dia sangat bawel. Harus bagaimana dia menghadapi pria ini? Sepertinya membunuhnya di awal cerita akan sangat beresiko.

Kenapa pula Kakeknya dulu harus bersahabat dengan Eyang Lyli. Dan kenapa juga mereka harus membuat janji yang konyol? Menjodohkan cucu-cucu mereka nantinya. Dan kenapa dirinya yang harus jadi korbannya? Rasanya Ajeng ingin menjambak rambutnya sendiri.

********

Aku update lagi.

Tidak ada kerjaan sih sebenarnya.
Mohon di vote, yah. Berikan saran, masukan juga koreksian. Agar aku tau dimana letak kesalahan dan kekurangankuu.

Masih belajar siih.

Selamat membaca Cingu. Terimakasiiih😄😄😄

90 Hari untuk GeraldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang