Maafkan sya. Karena tidak tau harus memilih visual para pemainnya. Mohon gunakan imajinasi masing-masing untuk memvisualkan para pemerannya😁😁😁
Thank you for loyalty waiting for this story.
Happy Reading Guys.
_______________________
Gerald POV
Aku terbangun dengan kepala yang rasanya ingin pecah. Aku lupa berapa gelas yang aku minum semalam. Yang aku ingat hanya insiden di apartemen Steve. Tapi tiba-tiba saja rasa sakit kepalaku menghilang sejenak ketika mataku tertuju pada lantai di depan sofa yang aku tempati tidur.
Dia benar-benar seperti malaikat sedang tertidur. Wajahnya sangat polos tanpa polesan seperti bayi. Aku terus menatapnya lalu merubah tidur telentangku menjadi tiarap masih terus memandanginya. Aku menyingkap beberapa anak rambutnya yang menutupi wajahnya. Lalu menelusuri kulit pipinya yang sangat halus oleh jari-jariku.
Aku tidak mengerti ketika Dayana yang mereka bicarakan sedikitpun aku tidak terusik tetapi ketika Jonathan menyebutkan namanya dan memiliki rencana kurangajar yang ingin merebutnya dariku, aku seakan terbakar olehnya. Amarahku tidak bisa ku kendalikan. Apakah benar aku sudah jatuh hati pada gadis ini?
Selama ini tak ada satupun wanita yang mampu mengurusku dengan baik kecuali Mama tentunya. Bahkan kemampuannya melebihi dari Mama. Ataukah aku hanya jatuh cinta pada titik sebelahnya saja? Aku masih merasa dia sangat menyebalkan. Tapi servis dalam mengurus rumahtangga sangat luarbiasa.
Apa yang harus ku lakukan? Aku belum bisa menyentuh titik sensitif di hatinya. Ataukah aku yang tidak bisa membuka titik itu untuknya? Entahlah. Aku bingung. Yang aku rasakan aku betah tinggal di rumah sekarang.
Tidak! Tidak bisa. Jika begini itu artinya aku kalah dari anak kecil ini. Tapi, aku juga tidak bisa menerima penghinaan dari Jonathan. Dia akan memastikan agar aku tidak bisa menyentuh gadis ini katanya? Hah!!! Tau apa kau?! Hanya sedikit usaha agar aku bisa mendapatkannya setiap malam.
Setiap malam? Sepertinya aku melupakan sesuatu soal semalam.... Aarrrgghhh apa yang ku lakukan semalam??? Pasti dia akan menghajarku sebentar jika dia bangun. Aish !!! Kenapa aku melakukan itu?! Bodoh!
Tunggu, dia bangun. Matanya sangat lucu mengerjap-ngerjap seperti itu. Dia benar-benar lucu.
"jam berapa sekarang?" tanyanya dengan mata sembab dan kesadaran yang belum benar-benar pulih. Aku hanya menatap jam digital persegi di atas meja samping tidur, dia mengikuti arah pandanganku.
"aish, jam delapan. Mati aku." rutuknya bergegas bangun dengan rusuh. "kenapa kau tak membangunkanku? Aku harus buat sarapan buat Eyang." teriaknya marah padaku lalu melempar selimut sembarangan. Aku hanya heran melihatnya rusuh sendiri.
"hya, Kau!" tunjuknya padaku sebelum membuka pintu kamar. " bangun lah! Aku akan membuatkanmu sup penghilang mabuk. Kau juga harus menemui Eyang. Dia akan pulang hari ini. Cepat lah!!!" teriaknya lagi lalu menghilang dari balik pintu.
Aku masih tetap saja memandangi pintu yang tertutup itu, kemudian tersenyum. Aku saja bingung kenapa harus tersenyum. Gadis itu benar-benar lucu. Aku kira dia akan menghajarku ketika dia bangun. Aaarrgghh.... Kepalaku.
***
Author POV
Ajeng terburu-buru lari menuruni anak tangga menuju dapur. Tapi segera mengerem larinya ketika mendapati Eyang tengah minum teh panas bersama Mertuanya di meja makan. Ajeng tampak bersalah sekarang.
"yah, ampun. Ma, Eyang. Maafin Ajeng. Aku bangun telat. Tunggu sebentar, Ajeng buatin Eyang roti bakar." tuturnya segera masuk kedapur.
"tidak usah, Ajeng. Mama kamu sudah buatin Eyang, kok. Roti bakar Mama kamu sudah habis malah. Eyang sudah kenyang." ungkap Eyang tersenyum lembut. Mata Ajeng segera mengarah piring kosong yang ada didepan Eyang dan Mama mertuanya. Ah, Eyang benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
90 Hari untuk Gerald
RomanceWarning (18+). *Ajeng : "Menikah, Ibu bilang? Setelah melihat ke dua kakakku bahagia dengan pernikahannya aku sudah mempersiapkan diriku jauh-jauh hari untuk menikah. Tapi, dengan siapa? Masih jamanka perjodohan? Oh, tidak. Jangan dengan cucu Eyang...
