Author: Qhariesta
---
Ve mendorong tubuh Dira menjauh, hingga ciuman kramat beberapa detik itu terhentikan.
Gadis itu berdiri dan menatap geram Dira yang menampakkan wajah puas, telah mengerjai gadis itu.Ve tak tinggal diam, ia mendekat pada Dira yang berdiri dan
Plak! plak!
Tamparan kiri kanan mendarat tepat pada pipi cowok itu.Dira hanya tersenyum sinis, tak menampakkan wajah sakit sedikitpun.
Toh cowok itu tlah terbiasa ditampar seperti oleh sang ayah.Dira mengelus pelan pipi kirinya, "Ini pipi gue, bukan untuk lo tampar, tapi untuk lo cium!" tersenyum tipis pada Gadis itu yang berusaha menjauh.
"Cowok idiot!!!"
Untuk saat ini, Ve memang tak berselera untuk berdebat, lebih baik menghindar dan memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti, untuk membalas perbuatan cowo menyebalkan itu.Dira meraih tas selempang diatas ranjang UKS, dan memakainya.
"Dira!"
Cowok itu menajamkan penglihatannya, menatap seseorang yang tiba dari balik pintu.
Dava mendekat pada Dira yang masih menatapnya tajam.
"Obat lo, ketinggalan!" Dava mengeluarkan satu botol kecil berisikan kapsul obat dari saku seragamnya.
Menyodorkan pada Dira yang meraihnya enggan."Gue gak mau lo pingsan lagi!" Dava menepuk punggung Dira pelan dan berlalu keluar ruangan.
Dira menatap Dava yang semakin menjauh, hingga bayangan cowok tinggi itu hilang dari pandangannya.
Cowok itu terduduk dipinggir ranjang, menatap botol obat ditangannya.
Kejadian kemarinpun, seketika terliang kembali dalam pikirannya.Sore itu..
"Dir, Dira!"
Suara seseorang memanggil namanya menyadarkan Dira dari pingsannya.
Ia mencoba membuka matanya perlahan, masih ia rasakan sakit pada jantungnya, ia mencoba terduduk."Dira, makan siang udah siap!" Dava tiba dari balik pintu, langsung masuk dan berdiri didepan Dira yang bersikap biasa.
Cowok itu tak ingin Dava tau tentang jantung Dira yang kembali kumat karena telat minum obat.
Dira berusaha berdiri, menghindar dari tatapan mencurigakan Dava. "Lo duluan ajah!"
Dira terhenti dimeja belajar, berdiri membelakangi Dava yang menatapnya aneh."Obat Lo mana?" Dava mendekat pada Dira, cowok itu memperhatikan dengan seksama ekspresi wajah Dira yang mencoba menahan sakit.
"Jantung Lo kambuh?" Dava semakin yakin akan penyakit jantung Dira yang kambuh, terlebih saat Dira menekan jantungnya keras untuk sekedar menghilangkan rasa sakit."Pergi Lo!" Usir Dira, ia mendorong tubuh Dava menjauh.
"Lo gak telat minum obatkan?"
Dava menatap Dira tajam.Dira kembali mendorongnya hingga keluar kamar.
"Pergi, dan janji pernah sok peduli sama gue!"
Dira menggigit bibir bawahnya saat sakit pada jantungnya semakin menjadi."Dira gue.."
Dava menghentikan perkataannya saat mendapati tubuh Dira yang seketika terjatuh.Dava mendekat, meraih kepala Dira dan menaruhnya dalam pangkuan.. "Dira.. Obat lo mana?"
Dava menatap tajam Dira yang memandangnya samar2..Bibir Dira seketika bergetar, ia mencoba mengatakan sesuatu.. "Ayah.."
Dava mengerutkan keningnya, ia menuntun Dira berdiri dan berjalan hingga ranjang bermotif AC.Milan itu, kemudian Dava membaringkan tubuh Dira pada Ranjang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Divario
Teen Fiction.. Tentang hate-love Story pemuda bernama Dira .. Dia Dira, pemuda dengan seribu cara untuk membuat para gadis terasa istimewah, Dan dia Ve, satu-satunya gadis yang menolak keras perhatian tulus Dira. *** "Lo baca, lo bakal jatuh cinta sama Vega!" ...