Biarkan aku jatuh cinta...

758 53 8
                                    

Author: Qhariesta

***

[Mata ini indah melihatmu.. Rasa ini rasakan cintamu...Jiwa ini getarkan jiwamu...Jantung ini detakkan jantungmu]

***

Evan....pemuda itu terlihat lemas mendekati rumah sederhana peninggalan sang ayah.. Sudah seharian ini ia mencari keberadaan Dira, tapi tetap saja hasilnya nihil.berulangkali pemuda itu menghubungi ponsel Dira, tapi tetap saja tak ada jawaban.

Ia putus asa, dan memutuskan kembali pulang, menjatuhkan tubuhnya terduduk dilantai teras rumahnya tak bersemangat."Lo dimana Dir?"

Tak beberapa lama muncul sang adik dari balik pintu, menghampiri sang kakak dan berdiri disampingnya."Kakak ngapain duduk disini?, kak Dila udah nungguin kakak Dali tadi?"

Suara sang adik membuatnya berdiri, matanya membesar seketika. "APA?? DIRA??"

Evi mengangguk pelan. "Ia,, kak Dila ada dikamal kakak sekalang!"

Tanpa banyak kata, pemuda itu berlalu cepat memasuki rumah,, langkahnya terhenti ketika ia tiba didepan pintu kamarnya.Matanya membesar saat mendapati apa yang dilihatnya sekarang.Dira, terlihat asik menyender pada ranjang Evan, dengan senyum Dira menyambut kedatangannya.

"Lama amat, gue udah nungguin lo dari tadi, Cincau!" Dira mengubah posisinya menjadi terduduk diujung ranjang milik Evan.

Evan menatapnya tajam. "Lo darimana?"

"Sini duduk! gue bawain makanan kesukaan lo plus buahh segar buat tubuh lo biar makin segar dan berisi."

"Lo Darimana?" Tanya Evan ulang.

"Ada apel sama Jeruk!" Dira mengangkat dua buah beda warna itu sambil menyodorkannya pada Evan yang mendekat. "Ada martabak sama soto ayam, Pizza, hamburger, sate, batagor!" pemuda itupun mulai mengabsen makanan yang telah memenuhi ruangan sempit itu. "Es alpukat, sama es campur, trus..."

"LO DARIMANA?" Suara keras dan bentakan Evan mampu membuat pemuda itu terkejut.

Diraa menatap pelan Evan yang tajam menatapnya, kemudian ia tersenyum tipis. "Jalan-jalan cari angin." jawabnya enteng.

"Kenapa telepon gue gak lo angkat?"

"Ketinggalan dikamar."

Evan menarik nafasnya pelan, berbicara dengan dira memang butuh estra kesabaran. Ia terduduk disamping Dira yang sedang asik dengan buah apel ditangannya.Seketika pandangannya tertuju pada sebuah goresan dikening sahabatnya, dengan darah yang telah membeku. "Kening lo kenapa?"

Dira hanya menjawabnya dengan senyuman.

"Dira! lo habis berkelahi?" Tanya Evan tegas. ia meraih apel dari tangan pemuda itu dan menaruhnya bergabung dengan buah-buahan lainnya. "Jawab gue!"

"Cukup Van!" Dira berdiri dan menatap tajam Evan yang masih terduduk. "Gue muak dengan siap baik lo!, Lo cuma sahabat gue, kalaupun gue mati, kita gak ada ikatan darah!"

Evan terdiam menatap pelan Dira yang membelakanginya.

Dira kembali bicara. "Lo cuma sahabat gue, lo bukan ayah gue ataupun keluarga gue Van." Dira menarik nafasnya pelan. "Mereka ajah gak peduli sama gue, seharian ini gue diluar rumah, tapi apa? gakk ada satupun yang hubungin atau nyari gue" Dira meraih ponsel dari saku celananya, pemuda itu berbalik dan menyodorkan pnsel itu pada Evan yang langsung meraihnya.

"Lo liat, panggilan tak terjawab disana!"

Perintah Dira membuat Evan menatap panggilan tak terjawab dalam ponsel milik Dira. "Tigapuluhtujuh?"

DivarioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang