Akhir

619 31 11
                                    

Author: Qhariesta

***
“Okay! Coba sekarang, matanya dibuka perlahan!” dokter menyarankan Dira pelan, setelah selesai membuka perban yang menutupi mata indah pemuda itu, operasi telah dilakukan dengan baik, dan sekaranglah saatnya Dira dapat kembali memandang keindahan dunia.

Perlahan pemuda itu, membuka matanya, hatinya berdegup tak karuan, rasa khawatir bercampur haru terlihat disekeliling ruang putih itu.
Evan dan sang bunda, setia menemani Dira disana.

Mata itu dibukanya perlahan, sampai benar-benar terbuka utuh, penglihatan yang awalnya samar-samar berganti menjadi jernih dan jelas.

“Kamu dapat melihat kami?” pertanyaan sang dokter membuat Dira mengangguk pelan.

Ditatapnya sang Bunda yang menangis bahagia. “Bunda!” berganti ia menatap Evan yang tersenyum menatapnya. “Cincau!”

Sovia mendekat pada Dira, menaih wajah pemuda itu dan menatapnya penuh cinta. “Akhirnya kamu dapat melihat lagi!” dilabuhkannya kedua tangannya mengelus pipi pemuda itu yang mengangguk.
“Dava pasti bahagia dengan semua ini, pengorbanan dia gak akan sia-sia!” dipeluknya tubuh Dira erat.

Dira menutup matanya, merasakan sesuatu yang hilang kembali ia temukan, pelukan hangat sang bunda.
Perlahan pemuda itu melepas pelukan Sovia. “Dimana Dava, Dira mau liat dia untuk terakhir kalinya!”

***

Kakinya gemetar saat memasuki kamar hening itu, kamar yang dipenuhi dengan beberapa manusia yang tak lagi bernyawa dan Dava salah satunya, ia terhenti ditengah ruangan, menatap enggan beberapa pasien yang tubuhnya tertutupi kain putih.
“Kak, Dira datang!” ia menutup matanya perlahan, hawa dingin seketika menghembus bulu romanya, seolah ia merasakan keberadaan Dava disisinya.

:::
“Kak Dava, itu kamar apa kak?”
Dira yang saat itu berusia tujuh tahun, bertanya pada sang kakak Dava yang berusia terpaut satu tahun darinya, Dava menatap kemana jemari telunjuk Dira mengarah.

“Ruang mayat.” Baca Dava pelan, mengeja papan tulisan yang terpajang diatas pintu.
Saat itu keduanya sedang berada dirumah sakit, berjalan-jalan sebentar setelah mengantar Dira check up.

“kamar mayat itu apa?” tanya Dira polos pada Dava yang tersenyum kecil.

“Itu kamar khusus buat orang yang udah meninggal.” Dava mencoba menjelaskan, Dira kecil hanya manggut-manggut mendengar sang kakak yang masih bicara, “Dan nanti kalau kakak Mati, kakak juga akan ditaruh diruangan ini.” Dava kecil maju satu langkah, menunjuk pintu kamar mayat itu pelan. “Nanti kalau aku ada didalam sana, kamu bakal nemuin aku kan?” ia bertanya pada sang adik penuh harap.

Dira menggeleng cepat. “Tidak! Untuk apa?”

“Kamu gak mau liat aku untuk yang terakhir kalinya? Kan aku mati.” Dava berkata polos sambil menatap Dira yang tetap menggeleng.

“Tidak, tidak dan tetap tidak!” Dira mendekat dan membuka pintu ruang itu perlahan, pandangannya seketika mengarah pada beberapa pasien yang tertutupi kain putih.
“Lagipula, mereka banyak, ditutup kain putih lagi, mana Dira tau yang mana kak Dava,” Dira masih menatap ruangan hening itu. “Males ah, kalau Dira harus bukain kainnya satu persatu Cuma buat nemuin mayat kak Dava,”

Dava tersenyum tipis mendengar penuturan sang adik kecilnya. “Gak usah dibukain satu-satu, kerajinan kamu namanya,” Dava mendekat dan melabuhkan tangan kanannya pada bahu sang adik.
“Cukup tutup matanya, biar hati kamu yang bawa kamu ke tempat aku.”

“Enggak ah!” Dira menepis tangan Dava menjauh dari bahunya. “Kalaupun kak Dava mati, Dira gak akan pernah memasuki kamar ini, Dira gak pernah peduli!” Dira berlalu pergi meninggalkan Dava yang menunduk sedih.
:::

DivarioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang