Author: Qhariesta
Semoga cerita ini tidak semakin ampuradulll hahha
***
Ve terduduk lemas didepan ruang ICU, airmatanya tak henti-hentinya keluar saat perktaan terakhir Dava kembali diingatnya.
"Gue cinta lo!"
Gadis ini tak pernah menyangka bahwa pemuda yang selalu bersamanya dan menjadi sahabat terbaiknya, ternyata menyimpan rasa suka padanya, bagaimana bisa ia tak menyadari itu??Dihapusnya airmata yang terjatuh untuk kesekian kalinya, dadanya seketika terasa sesak..
ia menatap kesamping kiri, ibunda Dava telah tiba dirumah sakit ketika mendapatkan kabar dari kepala sekolah, seperti dirinya, wanita separuh baya itu tak henti-hentinya menangisi sang anak.
Dava dibawa kerumah sakit, karena kondisinya yang sudah teramat parah, dan kini pemuda tampann itu telah berada diruang ICU.
Pintu ruangan itu seketika terbuka, tampak seorang doktor pria keluar dengan raut wajah sendunya. "Keluarga pasien!"
Sang bunda segera berdiri dan berjlan mendekati sang doktor ketika suara dokter itu menggema, begitupula Ve yang berdiri tepat disamping Sovia (bunda Dava).
"Bagaimana keadaaan putra saya Dok?" Tanya Sovia pelan, wanita itu menatap tajam doktor menunggu jawaban.
"Kondisi putra ibu cukup memprihatinkan, darah yang keluar dari tubuhnya sangatlah banyak, karena itu secepatnya kita membutuhkan pendonor."
Kaki Sovia seakan melemas, mendengar pernyataan sang Doktor, Lemah?? memprihatinkan??putranya tidak mungkin lemah!!
"Kalau begitu ambil saja darah saya dok!"Suara Ve membuat Sovia dan dokter menatap gadis itu seketika.
"Golongan darah anda?"
"B."Ve menjawab pertanyaan doktor yang ditujukan padanya.
Doktor tinggi itu seketika menggeleng cepat. "Maaf kita membutuhkan pendonor yang memiliki golongan darah O, sama seperti pasien."
Ve menunduk lemas mendengar penolakan doktor itu, usahanya untuk menyumbangkan sedikit darahnyaa untukk Dava ternyata gagal.
Begitupun Sovia, ia terduduk lemas dikursi samping ruang ICU, ia ingin me ndonorkan darahnya untuk Dava, tapi ia sadar golongan darahnya bukanlah O.
"Tante tenang yah, semuanya pasti baik-baik saja." Ve mencoba menenangkan Sovia, gadis itu terduduk disamping Sovia sambil mengelus lembut pundak wanita paruhbaya itu.
Sovia menaikkan wajahnya, menatap Ve tajam yang terdiam. "Hanya ada satu orang yang bisa menyelamatkan nyawa Dava!"
"Maksud Tante?"
"Dira, dia juga memiliki golongan darah O." Wanita itu menarik nafasnya pelan dan kembali menunduk.
"Kalau begitu kita bisa meminta Dira untuk menyumbangkan darahnya buat Dava."
"Itu tidak mungkin, Dira begitu membenci Dava, dan tante sadar Dira gak akan pernah mau melakukan itu."
"Tante percaya sama Ve, Ve akan membawa Dira kesini dan menyumbangkan darahnya untuk Dava."
***
Dira, pemuda itu terlihat terduduk dipojokan kantin, matanya menatap tajam seisi kantin, mencari sosok gadis yang masih membuat hatinya merasa digantungkan. Istirahat pertama tela tiba, Evan memilih untuk menghabiskan waktu senggangnya diruang perpustakaan, sementara Dira terlihat duduk sendiri dalam kantin yang mulai ramai itu. pemuda itu beralih, menatap kotak makan yang ia temukan tergeletak diatas meja ruang UKS. kotak makan yang rencananya Ve persiapkan untuk Dira. Ia tersenyum, membuka kotak itu perlahan, nasi kuning tampak indah menghiasi isi kotak persegi itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Divario
Teen Fiction.. Tentang hate-love Story pemuda bernama Dira .. Dia Dira, pemuda dengan seribu cara untuk membuat para gadis terasa istimewah, Dan dia Ve, satu-satunya gadis yang menolak keras perhatian tulus Dira. *** "Lo baca, lo bakal jatuh cinta sama Vega!" ...