Putus?

452 36 2
                                    

Author: Qhariesta ^^

...
Sabtu malam, dirumah Vega..

"Ayolah Ve!"
Dira menaikkan kedua alisnya bergantian sambil menatap Ve yang memandangnya kesal.

"Apaan sih Dir, gak penting juga ah!" Ve mengelak, "Permainan macam apa itu?"

"Udah lo nurut ajah, kalau nolak berarti takut!" Dira sengaja menekan suaranya menantang, "Lo emang gak pernah menang dari gue kalau masalah suit-suitan gitu."

"Gak penting, Idiot!!"

"Lumayan Ve, kalau gue kalah lo boleh nampar gue," Dira melebarkan senyumnya, "Tapi kalau gue menang.."
Ia menggantungkan perkataannya, menatap Ve mengisyaratkan gadis itu melanjutkan.

"Lo boleh nyium gue." Dengan tak bersemangat gadis itupun bersuara. "Dasar otak mesum!" Ditamparnya pelan pipi Dira yang terduduk disampingnya. "Idiot! Cowok idiot!"

"Udah ayo! Lo bisa nampar gue sepuasnya kalau lo menang!!"

Ah!!!
Mau tak mau, akhirnya gadis itupun menurut, mengelakpun sepertinya akan sia-sia.
Gadis itu hanya bisa berharap semoga Tuhan sedang berbaik hati padanya, untuk memenangkan permainan tak penting ini.
Dira memang kekesih Ve, mereka sudah bersama kurang lebih satu bulan, walau begitu Ve bukanlah type gadis yang dengan mudah membiarkan sang kekasih, Dira menciumnya.
Karena itu ia berharap Tuhan tak membiarkan Dira untuk menang.

Dan Dira!!!
Pemuda itu tersenyum senang dalam hati, ini satu kesempatan, jika dirinya menang, Ve tak akan bisa mengelak lagi untuk menghindar, karena pasalnya, Ve selalu mengelak keras saat Dira akan menciumnya, dan kinilah saatnya gadis itu harus menurut untuknya.
"Gue harus menang!" Hati kecilnya terus menyemangati dirinya sendiri.

Dan permainanpun dimulai.

Plak!!!
Satu tamparan untuk Dira mendarat tepat dipipi kanan pemuda pemikat hati para gadis itu.
Ve tersenyum puas saat dirinya mendapati Dira kalah dalam permainan pertama.

Dira mengelus pipinya yang sedikit dirasakannya perih. "Ah! Lagi-lagi!" Ia mulai melemas-lemaskan jemarinya.
"Gunting, batu, kertas!"

Dan....
Plak!!!!!

Kembali tamparan apik mendarat sempurna dipipi kiri Dira.

"Ah!" Dira mendengus pelan, pandangannya menatap kesal Ve yang menampakkan wajah penuh kepuasan.
Kedua pipi Dira mulai terliat memerah, tapi pemuda itu tak akan menyerah.
"Sekali lagi!" Tantangnya pada Ve yang mengernitkan keningnya.
"Batu, kertas, gunting!"

Sial!! Untuk ketiga kalinya, ia kalah!!!
Ini tak biasa, seorang Dira kalah dalam permainan suit-suitan seperti ini.

"Makanya punya otak itu gak usah mesum!"

Dira menatap Ve kesal yang terus bersuara.

"Semua cowok itu emang sama, mesum," Ve melirik Dira dengan senyuman sinisnya. "tapi untungnya Tuhan itu adil, Dia gak akan ngebiarin cowok mesum kayak lo ngerebut kesucian bibir gue, karena itu hari ini gue me..."

"Berisik!!!!"
Dira memotong perkataan sang kekasih, ditariknya lengan Ve hingga tubuh gadis itu mendekat, wajah keduanyapun begitu dekat, tanpa perlu aba-aba atau apapun, Dira dengan sigap mencium bibir tipis Ve.

Gadis itu membelakkan matanya tak percaya, atau lebih tepatnya terkejut.
Beberapa detik bibir keduanya beradu, hingga....

"COWOK IDIOT!!!"
Ve menjauhkan bibirnya dari bibir Dira, didorongnya cepat tubuh Dira menjauh,"I Hate You!" Gadis itu berdiri dan berlalu memasuki rumah.

"Ve, Ve!" Dira terus menyahut, tapi gadis itu tak menghiraukannya.
"Tuh kan salah lagi gue!" Dira menarik nafasnya pelan, ia memalingkan wajahnya kesamping kanan, matanya membesar saat mendapati Evan sedang terduduk santai disampingnya.
"Cincau!! Sejak kapan lo disini?" Tanya tak percaya.

DivarioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang