Untuk Vega

439 31 5
                                    

Author: Qhariesta

***
Seragam sekolah telah dikenakannya lengkap dengan atribut sekolah, dasi dan ikat pinggang favoritenya.
Ia menatap wajah tampannya didepan cermin kamarnya, merapikan kerah seragamnya dan tersenyum.
"Ganteng." Pujinya pada dirinya sendiri.

Yah! Bisa ditebak, siapa lagi pemuda penuh percaya diri itu jika bukan Divario Kivandra Redrigo.
Ia menyemprotkan minyak wangi pada seluruh badannya, hingga wanginya pun  menyebar hingga disekeliling ruangan.

"Dira!"
Dava berdiri didepan pintu kamar Dira yang terbuka, dua menit kemudian pemuda itupun memasuki kamar Dira tanpa memperdulikan wajah tak suka sang adik.
"Bagi minyak wangi lo!" Diraihnya cepat minyak wangi ditangan Dira yang menatapnya tajam.

Dava menyemprotkan minyak wangi pada seluruh badannya, sama percis seperti yang dilakukan Dira tadi.
Dan bisa dipastikan, harum kamar Dira yang kini menjadi dua kali lipat.

"Balikin! Ntar habis gue yang repot!" Diraihnya paksa minyak wangi dari tangan sang kakak. "Keluar sana!" Kini Dira mendorong lengan Dava keras, namun sedikitpun Dava tak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Keluar Dav!"
Dira beranjak, meraih kemeja yang bergelantung pada dinding kamarnya dan memakainya.

keduanya sama-sama mengenakan seragam sekolah lengkap dengan atribut masing-masing, tapi untuk penampilan Dava bisa dikatakan lebih rapi dibanding Dira yang memang lebih nyaman dengan sikap cuek dan asal-asalan, terlebih Dira lebih memilih mengenakan kemeja ketimbang jaket.

"Gue tunggu dibawah!" Dava melangkahkan kakinya menjauhi Dira yang tak menampakkan respon apa-apa.

Dava menuruni tangga menuju meja makan, tampak ayah dan sang bunda yang telah tiba disana.
"Pagi!" Sapanya setibanya dimeja makan, ia pun terduduk disamping sang bunda yang terlihat mengolesi selai strawberry favorite Dava.

"Dira mana?" Fandra menaruh cangkir kopi yang baru diteguknya diatas meja, menatap Dava yang sedang menerima roti pemberian Sovia, sang bunda.

"Sebentar lagi turun." Dilahapnya cepat roti dalam genggamannya.

Dan benar, sepuluh detik kemudian, tampak Dira menghampiri ketiga.
"Pagi." Sapanya tak bersemangat, terduduk didepan Sovia dan Dava, Dirapun meraih gelas susu coklat yang telah disiapkan bu Minah dan meneguknya.

Sang ayah menatap Dira lekat, ada goresan pada bibir pemuda itu, padahal seingat Fandra, walau ia sering kali menampar Dira, tapi sekalipun tamparannya tak pernah meninggalkan bekas seperti itu.
"Wajah kamu kenapa?" Tanya Fandra tegas, pandangannya masih menatap Dira tajam yang kini sedang menikmati mie goreng buatan bi Minah.

"Tumben perhatian."
Jawabnya santai. "

Fandra tersenyum tipis. "Kamu pikir ayah sekejam itu?"

Dan kini giliran Dira yang tersenyum, senyum terpaksakan lebih tepatnya.
"Ayah dimana saat Dira dirumah sakit, saat Dira butuh dukungan ayah untuk menjalani oprasi?" Ia menghentikan makannya dan menarik nafasnya panjang, menatap sang ayah menunggu jawaban.

"Ayah sibuk."

Jawaban yang sangat dihafal oleh Dira.

"Saking sibuknya, tanpa ada waktu seharipun untuk Dira, padahal saat itu hanya ayah penyemangat Dira."
Wajahnya berubah memerah, menahan amarah dan kesedihan menjadi satu. "Tapi apa? Ayah lebih
Mentingin pekerjaan daripada  Dira, anak ayah."

Fandra menarik nafasnya panjang, menerka setiap ucapan yang diutarakan sang anak. "Jangan mengalihkan pembicaraan!" Fandra berkata tegas, kembali meneguk kopi miliknya hingga tersisa setengah. "Wajah kamu kenapa?"

DivarioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang