30 - Regret

265 15 3
                                    

-Hayden POV-

Semula sepanjang perjalanan menuju kemari, aku merasakan perasaan bahagia, tak sabar untuk segera melihat wajahnya dengan mata kebiruannya yang menatapku sumringah. Perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, kebahagiaan yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya, kebahagiaan berbeda dari saat menatap orang-orang yang selama ini kubantu tersenyum bahagia atas apa yang kuberikan pada mereka. Bahkan perasaan ini jauh lebih menyenangkan dibanding dengan saat aku melihat senyum bahagia milik Rosetta.

Aku sungguh tak sabar melihat gadis itu, melihat Queen, sebuah nama yang membuatku bahagia. Sampai kemudian aku mendengar suara gadis itu berteriak, bertengkar dengan seseorang. Aku berdiri mematung jauh di balik pintu karena aku dapat mendengar pertengkaran mereka.

"Jika bersama Hayden mampu membuatku menyadari bahwa aku hanyalah seorang warga Inggris biasa, maka biarkanlah itu terjadi. Jika memilihmu untuk tetap berada disini dan menjadi seorang calon penerus kerajaan, yang bahkan kenyataannya sudah menunjukan bahwa aku tidak memiliki setetes pun darah keturunan Kerajaan Inggris. Untuk apa aku tetap disini?"

Kulihat daun pintu terbuka, sontak aku tersenyum saat melihat sosok Queen yang muncul. "Bahkan jika itu harus menginggalkan Raja? Seorang Kakek yang selama ini telah menyayangimu dengan tulus?" Seketika senyuman yang terbentuk di bibirku menghilang, aku mengurungkan niatku untuk menyapanya.

"Bagiku Raja dan kakekku adalah hal yang berbeda, jangan menyangkut pautkan semua ini dengan Kakek!!"

"Jujur, aku... sangat penasaran akan reaksi Yang Mulia Raja jika mengetahui bahwa cucu perempuan yang selama ini sangat disayanginya ternyata bukanlah cucu kandungnya... Apa yang akan terjadi?"

Suara itu, dia bertengkar dengan pria itu? Dengan pengawal pribadinya? Aku mengepalkan tanganku, menahan kesal karena dia sudah mengatakan kalimat yang sungguh berlebihan.

"CUKUP DANIEL!!!" Queen berteriak, membuatku berhenti melangkah dan seketika terpatung kembali ditempatku berdiri.

Ah, sekarang aku yakin bahwa pria itu, Reeves, memang memiliki perasaan terhadap Queen?

"Kau tetap akan pergi?" Dia bertanya dengan nada yang berubah 180 derajat, melembut. Queen tetap diam tak bergeming, saat ia hendak melangkah keluar pria itu kembali berbicara. "Apa kau akan tetap memilih Hayden pria brengsek itu dibanding Kakekmu?" pria itu berteriak yang membuat Queen terhenyak marah.

"Kakekmu... sakit parah Nona. Dokter kerajaan bilang... Kakekmu sudah terlalu tua untuk dapat memerangi penyakit... yang sedang membuatnya terbaring. Umurnya tidak akan lama lagi." Sambung pria itu dengan suara pelan yang dapat kudengar. Queen berbalik menatapnya, aku bisa melihat dia mengepalkan tangannya menahan kesal.

Sang Raja? Jatuh sakit?

Aku mendengar percakapan mereka, dapat kulihat bahwa Queen ternyata sangat mencintai Kakeknya lebih dari apapun di dunia ini. Sampai kemudian kulihat Queen yang jatuh terduduk setelah mendengar penjelasan dari pengawalnya itu. Gadis itu menangis, tertunduk dengan bahunya yang naik turun. Aku tidak tega melihatnya seperti ini, aku ingin memeluknya membiarkannya menangis di pelukanku.

QUEENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang