39 - Together

165 8 4
                                    

-Author POV-

"Queen?" lirih Hayden dengan mata yang membelalak kemudian melembut. Disaat yang sama Queen juga sama terkejutnya dengan Hayden namun sebuah rasa takut dan khawatir sedikit menghilang berganti dengan pertanyaan.

Selama beberapa detik mereka hanya bisa saling menatap satu sama lain, sampai kemudian Hayden berjalan lambat ke arah Queen yang berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bagaimana bisa?" ujar gadis itu kecil nyaris berbisik.

Hayden berhenti dan memberi jarak dua langkah diantara mereka. Queen mengigit bibirnya tak mampu lagi menahan semua perasaan yang ada di dalam dadanya. "Aku takut, aku pikir kau benar – benar koma. Syukurlah kau baik baik saja."

"Koma?" tanya Hayden hanya bisa terdiam, tidak cukup berani untuk membalas pelukan Queen yang begitu erat. Disaat yang sama Hayden mulai mengerti dengan apa yang terjadi, semua ini adalah perbuatan David.

"David... dia berbohong padamu. Aku rasa dia yang mengatur semua ini." Ujar Hayden, Queen menyadari bahwa Hayden tidak membalas pelukannya, gadis itu lantas melepaskan pelukannya dari Hayden.

"Kau yakin, bukan kau yang mengaturnya? Bukan kau yang ingin bertemu denganku?" tanya Queen dengan suara parau menahan tangis. Setelah semua perasaan sedihnya, semua masalah yang menimpanya bertubi-tubi, hanya Hayden yang Queen inginkan lebih dari apapun didunia ini.

"No."

Setetes air mata mengalir di pipi Queen, dadanya terasa sesak seakan tidak ada oksigen untuk bernafas. Seperti ada tali yang mengikat erat di dadanya, begitu menyesakkan. "Apa kau... tidak senang melihatku lagi?" tanya Queen.

"Aku sangat bahagia... semula aku pikir semua ini hanyalah mimpi, melihatmu ditempat yang tidak pernah ku duga." Ujar Hayden dengan suara bergetar.

"Lalu, kenapa kau tidak membalas pelukanku? Apa kau tidak mencintaiku lagi?" tanya Queen dengan setetes air mata yang mengalir di pipinya lagi. "Tidak pernah sedikitpun, rasa cintaku padamu berkurang... Aku berusaha keras, untuk tidak membalas pelukannmu. Karena satu menit tadi seperti mimpi bagiku, melihatmu disini, bahkan masih seperti mimpi bagiku."

"Why are you doing this to me? I want you Hayden." Ujar Queen terisak.

Hayden mengalihkan pandanganya dari Queen, lebih dari apapun Hayden sangat ingin menarik Queen kepelukannya saat ini. Dia bahkan bisa memeluk gadis itu sepanjang malam tidak ingin melepaskannya.

"Please Queen. It's over for both of us. I already told you that I..." Hayden seakan tak mampu melanjutkan kalimatnya saat melihat Queen yang sangat terluka di hadapannya. Sang Raja baru saja meninggalkannya, entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkan Queen belakangan ini. Yang Hayden lakukan hanyalah terus menuangkan garam diatas luka-luka itu. Membuat gadis itu merasakan sakit. Dan itu sungguh membuat Hayden frustasi.

"Apa ini semua benar-benar karena aku? Karena siapa diriku? Darimana diriku berasal?" tanya Queen terisak diantara kalimatnya. Hayden menggeleng lemah, memijat tulang hidungnya seakan berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata. "No Queen, It's all because of me. Because of who I am, not you."

"And I already told you Hayden, it doesn't matter."

Hayden hanya bisa menggeleng, tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Queen. Karena bagi Hayden Queen mampu mendapatkan pria yang satu juta kali lebih baik darinya.

"Aku akan mengatakan kepada seluruh dunia, bahwa aku bukanlah keturunan Kakekku. Aku akan mengatakan kepada seluruh dunia bahwa aku tidak memiliki setetespun darah keluarga kerajaan. Apa itu akan membuat sedikit keraguanmu padaku?" ujar Queen mengeluarkan ponsel yang telah dimatikannya sejak meninggalkan istana.

QUEENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang