Part 19

2K 157 3
                                        

Aku menekan bel dan tidak ada respon aku menunggu dan mencoba menekan lagi, tapi tidak ada jawabannya, apa justin tidak ada di dalam, aku mencoba menekan lagi dan nihil, tidak ada jawaban.. "apa aku masuk saja?" Entah dari mana ide ini "yah aku bisa tahu sandi justin karena aku sering melihatnya jika membuka pintu ini, bukan maksud untuk masuk ke rumah orang lain tampa permisi yang punya, tapi aku hanya ingin memastikannya saja"

Aku mencoba menekan sandi apartemen justin, aku berniat masuk dan memasakkan makanan untuknya dan pulang, setidaknya ketika dia tiba di sini dia bisa langsung makan, aku yakin dia akan tau aku yang memasak ini untuknya..

Aku berhasil membuka pintu dan masuk "justin?" Aku memanggil mencoba memastikan apa justin ada di dalam atau tidak..

"Justin? Apa kau ada di kamarmu?" Aku mencoba memanggilnya lagi dan sedetik kemudian aku mendengar suara justin tidak jelas "deli" aku mendengar dengan jelas suara justin memanggilku suaranya seperti serak..

Aku berjalan cepat mengarah kamarnya dan dia tidak ada aku berlari keluar mencarinya dan aku melihat justin terbaring lemah di atas sofanya...

"Justin? Kau kenapa?" Aku mencoba membangunkan justin dan mengangkatnya masuk kedalam kamarnya, aku bisa merasakan kalau badannya sekarang demam dan dia begitu lemas.. aku memutuskan untuk menaikkannya di punggungku dan membawanya kedalam kamar...

Aku membaringkan justin dan membuka jas, baju dan sepatunya, aku mengganti pakaiannya dan mengelap keringatnya "apa yang terjadi justin?" Aku terisak melihat justin seperti ini "aku tidak tahu apa yang telah terjadi padamu justin, tapi aku tidak bisa melihatmu dalam keadaan seperti ini" aku berbicara dan sedari tadi air mataku mengalir...

"Jangan menangis, kau jelek jika menangis" aku mendengar suara justin, begitu pelan tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas "deli, benarkah ini kau?" Justin memegang pipiku dan aku melihatnya tersenyum..

Aku mengenggam tangan justin "kau tidak apa-apa justin, aku sangat khawatir, aku akan memanggilkanmu dokter, tunggu sebentar" aku mencoba mencari handphoneku tapi tanganku tiba-tiba di genggam oleh justin..

"Tidak perlu deli" ucap justin "baiklah kalau begitu tunggulah disini aku ingin membuatkanmu bubur, kau tidak boleh menolaknya okey" aku berjalan kedapur dan meninggalkan justin..

***

"Justin kenapa kau bisa jatuh sakit? Aku melihatmu di kantor kau seperti tidak biasanya, apa kau ada masalah?" Aku menyuapi justin bubur yang telah aku buatkan syukurlah dia ingin memakannya walaupun dia sempat menolak

"Aku tidak apa-apa, mungkin hanya karena kurang istrahat" aku bisa merasakan nada bicara justin berbeda padaku, apa dia marah? Aku juga tidak mengerti apa yang telah terjadi

"Hmm.. justin bisakah aku meminta sesuatu?" Aku menunduk dan mengaduk-aduk bubur justin "apa?" Aku mendengar suara berat justin menjawab keinginanku, aku tersenyum dan menatapnya "bisakah aku menginap hari ini? Aku benar-benar khawatir, kau tau aku tidak bisa pulang dalam keadaan kau sedang sakit, kau tau semenjak aku pulang dan kembali ke apartemenku aku tidak lernah istrahat dengan benar, aku hanya memikirkanmu terus"

Ahh bodoh mengapa aku kelapasan berbicara, aku melihat justin menatapku dengan alis terangkat satu "hmmm a...a... maksudnya aku memikirkanmu karena kau sudah tidak berbagi tugas denganku, makanya aku gelisah"

Aku selalu payah dalam berbohong, semoga justin percaya "terserah kau saja, tapi sebaiknya kau tidur di kamar sebelah, aku tidak ingin kau bersamaku di sini, keadaanku sedang tidak sehat kau bisa sakit juga jika kau tetap bersamaku" aku menatap justin penuh dengan tanya..

"No, I will not leave you alone" tegasku dan menaruh mangkok ke atas nakas justin dan aku langsung tidur dan menarik selimut, aku tau justin akan kesal melihatku seperti ini..

What Do You Mean? (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang