LIMA hari berlalu, status kita di mata satu sama lain tetaplah sama: orang asing. Seperti sore itu. Kamu, yang berjalan melewatiku sembari menjinjing kresek hitam, baru menoleh saat kusapa, "Dari mana?"
"Beli bajigur. Mau?"
Hanya basa-basi serupa yang dapat menghidupkan suasana kita. Kuakui, tidak banyak hal yang kuketahui tentangmu. Aku hanya tahu namamu Awan dan kamu suka sekali makan. Kamu juga mengaku sebagai pekerja lepas, tapi aku tidak―oke, belum―tahu pekerjaan jenis apa yang mengikatmu. Bisa jadi kamu seorang pengemudi ojek daring yang jarang ambil orderan atau malah kurir narkoba (amit-amit).
"Mau?" ulangmu.
Aku mengangguk. Kamu lantas meletakkan seplastik bajigur dan sepotong ubi rebus di sebelah netbook-ku, kemudian beranjak. Membuatku refleks mencetus, "Mau ke mana?"
Telunjukmu mengarah ke kamar. "Ngelanjutin kerjaan."
"Sini." Kutepuk karpet seraya beringsut, memberi ruang bagimu untuk duduk. "Di sini aja."
Kamu mengernyit. "Nggak ganggu kamu?"
"Aku udah selesai."
Senyummu timbul. Kamu lekas meluncur ke kamar, memboyong sebongkah PC tablet, gelas, dan buku kesayanganmu ke ruang keluarga, lalu duduk beralaskan karpet di sampingku. Sehabis menuang bajigur ke dalam gelas, kamu keluarkan pena stylus yang terselip di samping layar datar itu. Terpampang panel-panel berisi sketsa karakter dan balon teks di sana.
Oh, apakah ....
"Mas Awan komikus?"
Kamu bahkan tak menoleh saat menyahut, "Kamu punya aplikasi Webtoon?"
Bercanda kamu. LINE Webtoon adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih memiliki ponsel.
"Pernah baca After Sleep?" tanyamu lagi.
Jangan ditanya. Aku berlangganan After Sleep sejak masih berada di deretan Webtoon Challenge. Betapa aku menggilai konsepnya yang bercerita tentang mimpi buruk seseorang, yang akan menjadi nyata jika orang itu tidak berusaha mengubahnya saat bangun nanti. Sudah begitu, After Sleep juga berupa komik lepas: yang berarti tak harus membuatku belingsatan saat episode terbarunya muncul dan aku telanjur lupa akan jalan cerita di episode sebelumnya.
"Kebetulan. Aku, tuh, lagi suntuk banget di kamar," katamu di sela-sela lenggokan stylus. Sketsa karakter yang semula buram pun perlahan menegas. Kok, style gambarmu tampak familiar, ya? "Ngerjain satu panel aja rasanya maleeesss banget. Untung kamu ngebolehin aku ngerjain di sini. Moga-moga aja cepet kelar."
"Hah?" tanyaku, sekonyong-konyong.
"Kenapa?"
Aku menelan ludah. "Mas Awan ... pengarang After Sleep?"
Senyummu melebar.
"BENERAN?" pekikku sambil menarik-narik lengan kausmu. "Beneran, nggak, sih? Mas nggak bohongin aku, kan? Mas nggak ngaku-ngaku doang, kan?"
Entah lantaran tersinggung, terganggu, atau paduan keduanya, kamu menjauhkan stylus dari layar tablet dan menatapku dalam-dalam. "Ngapain juga aku ngakuin karya orang, Rin? Nggak ada untungnya."
Ampuuun!
Dunia sempit sekali, sih! Padahal, dari ceritanya yang bijak, penuh motivasi, dan sarat akan pelajaran hidup, kukira pengarang After Sleep itu sejenis Mario Teguh atau malah Andy F. Noya. Tidak harus mirip di tampilan atau pembawaan, sih, tapi minimal sebaya keduanya, lah. Kenapa pengarangnya justru pemuda 26-something yang kurus dan miskin wibawa macam kamu ini?
"Aduh, duh, panas." Lidahmu terjulur usai menyeruput bajigur cepat-cepat. Nah, kan, masa iya karya sebijak itu diciptakan makhluk sekonyol kamu, sih? "Kamu, tuh, emang orangnya begini, ya? Dikit-dikit nuduh, dikit-dikit curiga, pantesan nggak bisa gemuk."
Idih. Apa hubungannya?
"Maaf, deh. Bawaan lahir," sahutku asal.
"Masa?" Sebelah alismu naik tinggi-tinggi. "Kata Ibu, kamu dulu nggak begini."
"Ih, sok tau!"
Kekehanmu terdengar meremehkanku. "Siapa bilang? Aku beneran tau, kok. Kamu, tuh, dari kecil emang nggak bisa mingkem, tapi bukan karena cerewet kayak sekarang. Kamu hobi banget nyanyi. Lagunya random banget, sih, kayak soundtrack Teletubbies atau iklan Sakatonik ABC, tapi gara-gara―"
"Tunggu, tunggu." Aku menginterupsi. "Mama ngomong apa aja, sih, sama Mas Awan?"
"Terus, ya, kamu tuh paling sering marah kalo digangguin pas lagi nyanyi. Apalagi disuruh berhenti. Bisa makin nyaring nyanyinya." Kamu berlagak tuli dan terus bercerita. "Oh, iya. Kata Ibu juga, kamu dulu paling nggak bisa tidur malem. Semalem-malemnya, ya, jam tujuh. Nggak kayak sekarang, tidur kalo kepengin doang. Mana kadang-kadang suka nggak mandi ju―"
"IH, SERIUS!"
"Aku dikasih liat foto kamu juga, lho, waktu jadi peri-perian di pentas. Ck, ck, ck .... Katanya hobi nyanyi, giliran disuruh manggung malah nangis. Padahal kamu lucu banget, tau, pake sayap―"
"MAS! KASIH TAU, NGGAK?" jeritku lagi.
"Oke, oke." Kamu akhirnya menyerah. "Aku tau banyak. Jauh lebih banyak daripada yang kamu kira."
Aku ternganga, tapi diam-diam berusaha mengumpulkan tenaga untuk berteriak, "MAMAAA!!!"
Awas kamu, Mas! Tunggu pembalasanku!
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Awan
RomanceNamanya cuma satu kata: Awan, tetapi cerita bersamanya takkan selesai dalam satu-dua halaman.
