SELAMA dua puluh tahun hidup, tahukah kamu apa yang paling tak bisa kupercaya?
Ya, janji.
"Rin, kira-kira Nak Awan udah sarapan belum, ya?" Ibuku bertanya sambil memasang bros pada kerudung merahnya. Sekadar informasi, beliau memang hanya mengenakan kain-kain berbahan tipis itu jika akan keluar rumah. Kamu juga baru sadar belakangan ini, kan? "Mama mau beli nasi uduk, nih."
"Yeee, mana Arin tau?"
"Tanyain, gih."
"Ogah, ah!"
"Ampun, deh."
"Kalo mau dibeliin, ya beliin aja, sih, Ma. Orangnya juga nggak keluar-keluar kamar dari semalem," imbuhku yakin lantaran nyaris semalaman terjaga di ruang tamu dan hanya beranjak untuk buang air dan mengambil minum. "Gimana kalo dia ternyata sejenis sama Abin, yang disuruh beli nasi uduk pagi-pagi, tapi baru pulang besoknya? GGB, gitu? Repot, kan? Mending dibeliin sekalian."
Ibuku melotot. "Siapa bilang? Tadi dia sempet keluar, kok, sebentar."
"Terus? Pulangnya bawa oleh-oleh, nggak?"
"Nggak, sih. Bawa buku tulis sama pulpen doang."
Kamu tahu? Yang pertama kali terbayang di benakku saat mendengar buku dan pulpen adalah, yeah, serial Blue's Clues. Anjing biru dan pemuda lamban berkaus hijau yang jadi tontonan favoritku semasa kecil.
"Gimana, dong, Ma?"
Akhirnya, setelah menambah porsi jeda untuk berpikir, ibuku mengajukan putusan, "Beliin aja, deh, ya. Toh, kalo dia nggak mau, perut si Haryo masih nampung. Dia, kan, perut karung."
"Iya, iyaaa .... Dari tadi, kek."
"Jangan lupa angkat jemuran. Udah dua hari nginep, tuh, di atas!"
"Iya, Maaa ...."
"Iya-iya mulu, tapi nggak dikerjain!"
Aku mendengkus. "Terus aku sarapannya kapan kalo Mama nggak berangkat-berangkat?"
Setelah ibuku benar-benar hilang di balik pintu, aku kembali membuka netbook dan menghubungkannya dengan pen tablet yang sedari tadi menjadi saksi debat kami. Dua kembar siamku, kalau menurutmu. Sebagai seorang desainer (oke, kamu memang menyebutnya perancang sampul, tapi aku seribu kali lebih memuja titel desainer), mana bisa aku berlama-lama terpisah dari keduanya? Mereka yang selama ini melindungi rekeningku dari pemblokiran, tahu?
"Rin, Rin .... Nggak inget kasur?" Sayup-sayup decakan Mas Har, yang kukira baru akan keluar dari kamar mandi nanti malam, mengagetkanku. Hebat, ternyata dua puluh menit baginya cuma cukup untuk cuci muka. "Start ngedesain jam berapa, sih, semalem? Itu, tuh, kantung mata kamu makin item. Jelek banget, tau. Tidur sana!"
Kalau saja di rumah ini ada Cerewet Awards, mungkin Mas Har ini peringkat kedua setelah ibuku, baru sesudahnya aku menyusul di posisi ketiga. Awal-awal pertemuan kami, aku juga sempat meragukan kecowokannya. Sudah cerewet, doyan dandan, mandinya lama pula. Katanya, sih, biar kulitnya bisa putih. Sayang, seperti kata orang-orang di rumah, hitamnya seorang Haryo Wibowo sudah mentok.
"Mas Har masuk apa? Pagi?" sambarku, tanpa menoleh ke arahnya. "Berangkat, gih, sana!"
Mas Har menggeleng. "Middle aja, ah. Mager. Kayaknya mau ujan juga."
Sssttt .... Kuberi tahu, satu-satunya hal yang bisa membuatku tahan tinggal serumah dengan laki-laki metroseksual berumur nyaris tiga puluhan ini karena dialah pemasok parfumku. Meskipun hanya berwujud sampel, satu-dua botol per bulannya mampu meluluhkanku. Yah, walaupun tidak bisa dibilang cuma-cuma, sih. Aku juga harus membantu Mas Har memilih aroma andalan untuk bisa ditawarkan pada para customer. Toh, biar awam begini, parfum-parfum pilihanku terbukti berhasil meningkatkan penjualannya berbulan-bulan ke belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Awan
RomanceNamanya cuma satu kata: Awan, tetapi cerita bersamanya takkan selesai dalam satu-dua halaman.
