Juna berjalan begitu pelan, menyusuri jalan yang dipijaki seseorang, ia tak tahu mengapa dirinya hari ini begitu rindu akan gadis itu, begitu ingin melihatnya dari dekat.
Tapi seberapapun Juna merindukan Shilla, gadis itu masih menjadi seseorang yang tak termaafkan, ia masih penuh ego.
Juna berhenti sejenak saat gadis itu berhenti untuk melihat toko disebelahnya, gadis itu seperti mencoba mengingat nama toko itu lalu tersenyum tipis dan mengangguk pelan, seolah toko itu yang ia cari.
Juna mengikuti gadis itu dari belakang, dan ikut masuk kesalah satu toko roti yang gadis itu masuki, sementara gadis itu memesan roti, Juna langsung beralih pada tempat duduk yang sekiranya tak terlalu menjadi pusat perhatian.
Juna mengamati gadis itu lagi, kini ia bisa melihat gadis itu tersenyum pada penjaga kasir, dan jujur itu masih membuat hati Juna berdegup kencang.
Juna tersenyum tipis, ia merasa bahwa dunianya sekarang begitu terbalik, dulu ia selalu berpura pura tak tahu jika Shilla mengikutinya dari belakang, menghindari gadis itu agar gadis itu kehilangan jejaknya dan sekarang ia yang mengikuti Shilla.
Namun bedanya. Gadis itu tak tahu.
Tapi dugaannya salah.
Ketika Shilla membawa roti pesanannya, gadis itu tak mencari tempat kosong, ia berjalan begitu yakin menuju Juna, mata gadis itu menatap Juna.
Shilla, perempuan itu kini berdiri dihadapan Juna, dan duduk didepannya.
Shilla tersenyum tipis. "Lo siapa?"
Juna hampir tak bisa berfikir dalam situasi ini.
"Maaf, sorry?" Ucap Juna.
Shilla membuang pandangannya. Dan menatap Juna kembali. "Lo orangnya kan? Lo orang yang ada disamping gue waktu gue sadar? Lo orang yang pertama kali gue lihat sehabis kecelakaan itu? Iya kan?"
Shilla mencoba mencari jawaban dari mata pria itu dan ia tersenyum. "Bener kan?"
Shilla menatap langit langit, matanya memerah, lalu menatap Juna kembali. "Jadi siapa lo? Kenapa lo selalu ngikutin gue dari belakang? Kenapa lo gak nampakin diri lo? Kenapa lo sembunyi sembunyi? Hah?"
Juna terdiam. Semua yang ditanyakan gadis itu membuatnya terdiam.
"Kenapa?" Tanya Shilla dengan suara parau.
Juna menggeleng pelan. "Karena lo gak inget gue."
Shilla menghela nafas berat. "Terus kenapa... lo gak berdiri didepan gue? Kenapa lo gak dateng ke gue dan buat gue inget lo?"
"Karena lo gak akan inget gue," tandas Juna.
"Kita udah selesai. Baik lo ataupun gue, punya janji buat saling melupakan." Ucap Juna lagi.
Shilla menekan dadanya, gadis itu merasa begitu sesak, dan ia meneteskan air mata. "Lo siapa? Apa peran lo dalam hidup gue?"
Juna menggeleng lemah. "Bukan siapa siapa, baik lo atau gue sama sama gak berharga dimata masing masing,"
Shilla tersenyum miris. "Kalau lo bilang semuanya udah selesai, kita saling melupakan, kenapa lo masih ngikutin gue?"
Juna terdiam. Tak menjawab pertanyaan Shilla.
"Kenapa?" Tanya Shilla lagi.
Shilla menatap mata Juna begitu lama, pria itu tak akan menjawab, yang Shilla temukan adalah sendu dimata pria itu, tapi mengapa hatinya sakit? Mengapa ia selalu ingin menangis setiap melihat pria itu.
"Lo tau? Dari seminggu yang lalu gue selalu sadar keberadaan lo, selalu tau lo diam diam jalan dibelakang gue, tapi kenapa gue baru berani sekarang? Karena setiap gue tatap mata lo sekilas, hati gue sakit."
KAMU SEDANG MEMBACA
After Sunshine
Teen FictionUntuk seseorang yang mengira melupakan adalah jalan terbaik. Jawab aku. Mengapa diam diam gadis itu masih bertanya tanya mengapa dirinya terlupakan? Cover by salsabilandita
