Saat pelajaran dimulai Abel merasa tidak enak duduk di kursinya sendiri. Seperti ada yang janggal tapi Abel tidak tau apa itu. Abel terus bergerak tak nyaman hingga Pak Pardi—guru fisika yang yang sedang mengajar dikelas Abel memergoki Abel yang tampak tidak konsentrasi.
"Abel ada apa? Sepertinya kamu tidak konsentrasi? Ada masalah?" tanya Pak Pardi.
"Enggak kok Pak, maaf" jawab Abel yang direspon anggukan oleh Pak Pardi. Pak Pardi pun meneruskan menjelaskan materi fisika.
Semua murid kelas itu menatap Abel iba. Tapi tidak ada yang berani memberi tahu Abel bahwa Abel menduduki permen karet bekas Fajar. Rere bingung ketika Abel ditatap iba seperti itu.
"Bel? Kenapa sih?" tanya Rere bingung.
"Mana gue tau. Gue sendiri aja bingung"
Abel menengok ke belakang ke tempat Disha duduk. Abel menaikkan dagunya kearah Disha seolah bertanya 'ada yang salah dari gue?'. Disha menggeleng tidak tahu. Nasib sial Abel, Abel kepergok Pak Pardi lagi.
"Abel silahkan keluar dari kelas saya!" perintah Pak Pardi membentak.
Abel yang kaget hanya mengangguk lalu berjalan keluar dari kelasnya. Rere dan Disha membelalakkan matanya melihat permen karet menempel pada rok Abel bagian belakang. Rere membuka mulutnya hendak bicara. Tapi belum sempat bicara sudah di cegah oleh Pak Pardi.
"Rere diam!" ucap Pak Pardi tegas.
Rere menundukkan kepalanya lalu menggerutu sambil mencoret-coret asal di buku tulisnya. Sedangkan Disha tampak berkomat-kamit merapalkan doa agar ada orang yang menolong Abel.
⚫⚫⚫
Abel berjalan menuju kantin. Saat perjalanan ke kantin, tentu saja Abel melewati kelas Fajar. Abel melihat kakak kelasnya yang bernama Ferinara itu menempel pada Fajar. Fajar tampaknya tak merasa terganggu saat Ferinara menempel terus dengannya.
"Terong emang cocoknya dikasih cabe. Apalagi kalau dioseng. Pasti enak. Ah gue jadi laper" gumam Abel sendiri.
Tiba-tiba ada sebuah jaket berbahan jeans dilingkarkan di pinggang Abel. Abel terkejut seolah ada yang memeluknya dari belakang. Abel membalikan tubuhnya agar dapat melihat siapa yang memakaikannya jaket di pinggangnya.
"Hai" sapa cowok yang melingkarkan jaket di pinggang Abel.
"Subhanallah. Cakep" ucap Abel tidak sengaja. Reflek lihat cowok ganteng.
"Lo bilang apa? Lo kelas X?" tanya cowok itu sambil melirik badge di lengan Abel. Tak sadar ternyata cowok itu masih melingkarkan tangannya di pinggang Abel.
"Eh iya kak" jawab Abel sambil melirik sekilas badge dilengan cowok itu. Abel juga melirik pinggangnya yang masih terdapat tangan cowok itu melingkar. Abel buru-buru menjauhkan badannya.
Reflek cowok itu menjauhkan tangannya dari pinggang Abel. "Sorry" kata cowok itu minta maaf.
"Ehm gapapa kok kak. Kakak kenapa makein jaket di pinggang aku?" tanya Abel cengo.
"Ada permen karet nempel di rok belakang lo" jawab cowok jujur.
Muka Abel langsung memerah menahan malu. Pantas saja semua teman kelasnya menatap ia iba. Satu yang Abel tahu, pasti Fajar pelakunya.
"Udah gak usah malu. Eh gue Davin" kenal Davin kepada Abel yang mukanya masih semerah kepiting rebus.
"Aku Abel kak. Makasih jaketnya besok aku kembaliin" ucap Abel lalu berlari meninggalkan Davin. Abel sangat malu.
"Lo mau kemana? Tungguin gue!" Davin mengejar Abel.
Fajar diam-diam melihat semua kejadian itu tersenyum miring. "Salah siapa cari gara-gara sama gue, Abella Agatha"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate but Love
Ficção AdolescenteSeorang Fajar Dika Dewanggara Badboy sekaligus penyumbang dana terbesar di sekolah ternama jatuh cinta pada cewek yang sangat dibencinya karena sifat nyolotnya? Dan cewek yang berani dengan Fajar itu adalah anak baru di sekolah Fajar. Abella Agatha...
