Seperti kemarin, Fajar menjemput Abel. Secerah matahari pagi ini senyuman Fajar. Dan sehangat hari ini suasana hati Fajar. Sungguh hari yang indah. Hati dan cuaca yang mendukung.
Fajar bersender di motor sport miliknya. Menunggu Abel keluar dari rumahnya dengan senyuman yang membuat hari Fajar lebih berwarna. Bibir tipis Fajar terus tersenyum mengingat rencana nya untuk menembak Abel besok. Ya, memang besok acara Fajar menembak Abel. Hari ini adalah hari dimana Fajar akan berdiskusi dan bekerja sama dengan para teman-temannya untuk membuat acara pengungkapan perasaan Fajar kepada Abel lebih meriah.
Akhirnya seorang gadis yang ditunggu Fajar keluar dari rumahnya. Gadis itu adalah Abel. Cewek jutek dengan segala tingkah dan senyuman yang membuat Fajar merasa bahagia. Jepit rambut yang diberikan Fajar kini bertengger di rambut Abel.
"Eh Fajar" sapa Abel.
Fajar hanya mengangguk dan tersenyum. Matanya menatap intens Abel dan membuat Abel salah tingkah.
"Yaudah berangkat yuk" ajak Fajar seraya memberikan helm kepada Abel.
Abel menerima helm dan memakainya. Tapi sial, sepertinya pengait helm itu susah disatukan. Abel menggerutu pelan. "Ini helm kenapa sih"
Fajar yang sudah menggunakan helm full facenya menatap Abel sejenak lalu membantu Abel mengaitkan kaitan pada helm tersebut.
Lagi-lagi Fajar tersenyum. "Kalau gak bisa tuh bilang"
Abel hanya menggumam 'hm' sambil menatap ke arah lain. Jika sampai mata Abel bertatap dengan mata elang Fajar itu membuat Abel tambah salah tingkah.
Fajar naik ke atas motor dan menaikan standar motornya. Disusul oleh Abel yang langsung membonceng di belakang Fajar. Tangan Abel kini bertengger di bahu Fajar.
Fajar diam tak menjalankan motornya. Abel pun mengerutkan keningnya heran. Lalu tangan Abel menepuk bahu Fajar. "Ayo berangkat!"
Fajar mendengus. "Lo pikir gue tukang ojek ha?"
"Maksutnya?"
Fajar langsung menarik kedua tangan Abel dan melingkarkan tangan Abel di pinggangnya. Fajar tersenyum sambil menatap wajah Abel yang bersemu. "Besok kalau mau bonceng gue gini aja. Gue takut lo jatuh kalau gue nantinya ngebut. Gue gak pengen lo kenapa-napa"
Abel hanya diam sambil menundukan kepalanya. Ah, Fajar. Selalu saja membuat pipi Abel menimbulkan semburat merah. Tingkah manisnya membuat Abel meleleh.
Fajar menghidupkan mesin motor dan menjalankan motornya itu. Kali ini Fajar mengendarai motor dengan kecepatan normal. Ralat, bahkan pelan. Fajar menikmati kebersamaannya bersama Abel pagi ini.
Sepanjang perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan. Dua-duanya bungkam. Larut dengan perasaan bahagia yang membuncah. Membuat debaran jantung dan darah berdesir. Dan kebahagiaan itu terbukti dengan senyuman yang lebar.
Abel dan Fajar memasuki parkiran. Banyak tatap murid yang kesal kepada dua sejoli itu. Abaikan itu. Dunia serasa milik Abel dan Fajar saja.
Abel turun dari motor Fajar. Fajar menurunkan standar motornya lalu turun mencopot helm full face yang digunakannya. Abel juga mencopot helmnya lalu merapikan rambutnya. Tanpa disangka tangan Fajar juga ikut merapikan rambut Abel. Abel diam dibuatnya. Fajar menyunggingkan senyum tipisnya.
Fajar meraih tangan Abel dan menggandengnya. Koridor demi koridor mereka lewati. Tiba-tiba Nara bersama rombongannya menghadang Abel dan Fajar.
"Perebut" sinis Nara.
Fajar maju selangkah. Menghalangi Nara mencemooh Abel. Fajar mengeratkan genggamannya pada tangan Abel.
"Urusan lo apa? Hidup belum bener sok ngatain orang"
"FAJAR! GUE TUH SUKA SAMA LO! DARI DULU KITA UDAH DEKET. TAPI DENGAN ADA NYA DIA, LO BRUBAH!" kata Nara bersungut-sungut sambil menunjuk Abel yang berada di belakang Fajar.
Mata Nara berkaca-kaca. Hana dan Ajeng mengelus bahu Nara yang bergetar menahan tangis. Hana dan Ajeng berusaha menenangkan Nara namun tak dihiraukan oleh Nara.
"Nara, lo itu cantik. Banyak yang suka sama lo. Jangan stuck disatu cowok dimana cowoknya itu kayak gue. Yang gak memiliki perasaan apa-apa sama lo. Stop nyakitin diri lo sendiri dengan mencintai orang yang sama sekali gak cinta sama lo. Dan selama ini gue cuma anggap lo temen. Gak lebih" Fajar berkata dengan tenang.
"Tapi dengan begini lo nyakitin gue Jar! Coba lo diposisi gue!"
"Sadar gak lo juga nyakitin seseorang? Rey lebih sakit dari pada lo. Posisi Rey lebih sakit saat dia berjuang buat lo tapi lo malah respectnya ke gue. Sakit mana lo sama Rey?"
Nara diam tak mampu berkata. Kata Fajar juga ada benarnya. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Satu yang Nara sadari. Orang yang peduli dengannya telah ia sia-siakan.
"Kejar Rey. Jangan stuck di gue. Dia sayang elo" ucap Fajar lalu berjalan meninggalkan Nara yang pipinya sudah berlinang air mata.
Fajar menggenggam erat tangan Abel yang dingin.
"Lo gapapa, Bel?" Fajar memastikan.
Abel menggeleng. "Ehm, Jar? Gue ke kelas sendiri aja ya? Gak enak diliatin anak-anak lain"
"Oke, kalau ada apa-apa bilang gue" Fajar mengacak rambut Abel.
Setelah Abel menjauh, Fajar melangkahkan kakinya menuju kelas. Matanya menangkap figur Nara beserta Hana dan Ajeng sedang duduk bertiga. Nara masih menangis. Sejenak Nara menatap Fajar lalu memalingkan pandangannya. Hana dan Ajeng sebisanya menghibur Nara agar air mata yang mengalir di pipinya berhenti mengalir.
Fajar mengangkat bahunya lalu berjalan ke arah Stefan, Iger, dan Adrian. Stefan yang tampaknya menyadari kedatangan Fajar menengok ke arah Fajar lalu menyengir.
"Wusehhh yang mau nembak cewek" ledek Stefan.
Iger dan Adrian ikut menengok juga ke arah Fajar.
"Rencananya gimana?" tanya Adrian sambil mendekat ke Fajar.
Mereka berempat mendekat membentuk sebuah lingkaran. Fajar membisikan rencananya kepada ketiga temannya.
⚫⚫⚫
Di Taman belakang Davin yang sudah berangkat dari tadi pagi duduk di kursi tangan sambil mendengarkan lagu. Davin memasang earphone pada telinganya. Sesekali dia mengangguk mengikuti irama lagunya.
Sekelebat bayang senyuman Abel melintas dipikirannya. Senyum mengembang di bibir Davin. Di hati kecilnya, Davin ingin memiliki Abel.
'Apa gue tembak Abel aja ya besok?' batin Davin.
Sekali lagi senyum Davin mengembang. Abel, cewek cerewet yang mempunyai sejuta pesona bagi Davin.
Maaf baru update:)
Nanti kira-kira yang diterima Abel siapa ya? Fajar apa Davin?
Maaf post lagi soalnya yg tadi kepostnya cuma dikit. Wattpadnya error
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate but Love
Teen FictionSeorang Fajar Dika Dewanggara Badboy sekaligus penyumbang dana terbesar di sekolah ternama jatuh cinta pada cewek yang sangat dibencinya karena sifat nyolotnya? Dan cewek yang berani dengan Fajar itu adalah anak baru di sekolah Fajar. Abella Agatha...
