TIGAPULUHTIGA : DILUAR EKSPETASI

8.2K 520 22
                                        

Fajar diam di pelukan Abel. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Hatinya serasa ditikam belati. Ini sungguh di luar ekspetasi Fajar. Abel yang mempererat pelukannya pada Fajar seolah malah memberi rasa sakit lebih pada Fajar.

"maaf kak, gue belum bisa"

Kata-kata itu mengiang di telinga Fajar. Fajar melepaskan pelukan Abel dan berjalan meninggalkan ruang keterampilan. Abel segera menyusul Fajar yang kian lama kian menjauh. Iger, Melati serta yang lain hanya menatap bingung Fajar yang meninggalkan Abel.

Setelah beberapa saat terdiam akhirnya mereka sadar mengapa Fajar meninggalkan Abel. Semua menunduk kecewa. Bunga yang di pegang oleh Melati, Rere, Disha, Nara, Hana dan Ajeng hempas dari genggaman mereka. Sorot lampu warna-warni padam.

"Gue kecewa sama Abel" celetuk Iger.

"Baru kali ini Fajar mau ribet karena cuma mau nembak cewek. Dan ternyata cewek itu malah nolak" imbuh Adrian dengan nada sedikit jengkel.

Melati yang statusnya sebagai kakak Abel hanya diam. Entah mengapa Melati bingung dengan adiknya. Di satu sisi Abel selalu merona dan senang ketika Fajar berperilaku baik padanya. Tapi mengapa saat ini Abel malah menolak Fajar? Bisa terbayangkan betapa malu dan sakitnya Fajar.

"Bubar" kata Stefan sambil berlalu meninggalkan ruang keterampilan.

Semua pergi dengan langkah kecewa. Persiapan sudah dilakukan dengan sedemikian rupa tapi hasilnya malah bukan yang mereka harapkan. Abel labil. Itu yang ada di benak mereka.

⚫⚫⚫

"Fajar! Dengerin gue dulu!" seru Abel sambil terus lari mengejar Fajar.

Bukannya merespon dan berhenti Fajar malah mempercepat langkahnya. Fajar belum siap bertemu Abel. Hatinya masih sakit mengingat kata-kata yang terucap dari mulut Abel.

Dari arah yang berlawanan Davin berjalan santai. Mata elang Davin menatap figur Abel yang sedang berlari. Entah mengejar siapa Davin tak peduli. Yang ia fokuskan adalah figur Abel.

Ketika Abel berjalan melewati Davin, Davin langsung mencekal pergelangan tangan Abel. Abel pun menghentikan langkahnya.

"Gimana jawabannya? Lo mau jadi pacar gue?" tanya Davin to the point.

Sungguh tak tepat jika Davin menanyakan hal seperti itu. Abel mendongak mentap Davin. Mata Abel yang sudah dari tadi berkaca-kaca akhirnya meneteskan air matanya.

Melihat air mata Abel menetes, respon Davin langsung memeluk Abel. Memberi ketenangan Abel agar tak menangis. Sayangnya pelukan itu malah membuat Abel semakin menangis. Davin mempererat pelukannya.

⚫⚫⚫

Fajar berjalan dengan perasaan gusar. Kecewa, sakit, dan merasa terkhianati bercampur menjadi satu membuat Fajar merasa sesak.

Derap langkah Abel yang tadi mengikutinya kini tak terdengar lagi. Fajar menghentikan langkahnya. Fajar menghela napasnya meredam emosi yang memuncak.

Fajar membalikan badannya dan membeku. Rahangnya mengeras. Emosinya yang sudah teredam kembali memuncak.

Abel berpelukan dengan Davin. Rasanya Fajar ingin merobohkan sekolah ini saja. Tangan Fajar mengepal. Dipukulnya dinding laboratorium fisika yang kini dihadapannya. Tangan Fajar berdarah tapi Fajar tak sedikitpun merasa perih. Karena perih di hatinya lebih perih daripada perih ditangannya. Darah di tangannya mengalir seiring rasa sakit yang menjalar ke hatinya.














Maaf ya kalo diluar imajinasi kalian😭 sebenernya sih rada males ngetik ini soalnya galau gitu😭 tetep pantengin HBL ya nanti malem update kok❤

Hate but Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang