Bel pulang berbunyi. Abel membereskan buku-buku miliknya yang tergeletak diatas meja. Saat yang ditunggu-tunggu Abel yaitu pulang. Dengan pulang kerumah dia tak menjumpai lagi bagaimana sikap orang yang dekat dengannya menjadi berubah seolah tak kenal.
Usai membereskan buku-bukunya Abel berdoa lalu bangkit dari duduknya. Abel menoleh ke belakang melihat Rere dan Disha yang tampak baik-baik saja tanpa adanya Abel. Abel tersenyum getir. Biasanya mereka bertiga. Kini tak lagi karena Abel telah dianggap tak ada.
Abel menggendong ranselnya. Abel berjalan keluar kelas. Sepertinya mendung. Awan tampak gelap dan cahaya matahari tak nampak. Abel tau sebentar lagi akan turun hujan. Abel mempercepat langkahnya menuju ke halte depan sekolahnya. Gerimis mulai turun saat Abel sampai gerbang sekolah.
Ia berlari menuju halte dan duduk disana. Menikmati pemandangan butiran air hujan yang sedang jatuh ke bumi. Hujan tambah lama tambah deras disertai angin sepoi yang dingin. Abel tersenyum melepas ransel yang berada di gendongannya.
Abel berjalan pelan keluar dari halte. Abel hujan-hujan. Baju Abel kini basah. Ia kedinginan namun tak peduli. Melintas dipikirannya saat ia hujan-hujanan bersama Fajar.
"Fajar, hujan. Dingin" ujar Abel lirih ditengah guyuran hujan.
"Fajar, mata gue perih kena air hujan. Lo gak mau ngehalangin air hujan biar gak kena mata gue?" tanya Abel. Air mata Abel mengalir bersama dengan air hujan yang mengalir di pipinya. Tak ada yang tahu bahwa Abel sebenarnya sedang menangis.
Kaki Abel lemas. Lututnya terasa seperti jelly. Ia jatuh bersimpuh di bawah hujan. Abel menangis tersedu mengingat Fajar. Abel sepertinya sudah benar-benar jatuh cinta pada Fajar.
Abel mendongak saat ia merasa air hujan tak mengguyurnya lagi. Ada seseorang menggenggam sebuah payung biru yang meneduhi Abel. Abel bangkit, berbalik menatap orang yang meneduhinya. Davin. Abel tersenyum getir.
"Jangan hujan-hujan" kata Davin.
"Gue kira kalau gue hujan-hujan Fajar bakal datang dan main hujan sama gue kayak waktu itu. Tapi nyatanya enggak. Gue bego, Vin" Abel mengusap wajahnya yang terkena hujan.
"Lo gak bego. Jangan hujan-hujan. Ayo balik ke halte" ajak Davin lalu menyeret Abel agar kembali ke halte.
Tanpa Davin dan Abel sadari, ada Fajar yang melihat mereka dibalik gerbang. Fajar melihat Abel dan Davin secara sembunyi-sembunyi. Kaki Fajar terasa kaku untuk melangkah ke arah Abel. Untuk sekedar memeluk Abel dan memberi kehangatan di tengah dinginnya suhu saat hujan.
"Maaf, Bel" gumam Fajar.
#94 in teenfiction guys😭
Aaaa gue terharuu. Makasi banget atas dukungan kalian😘 ayafluu. Tetep pantengin Hate but Love yaa. Thankss😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate but Love
Teen FictionSeorang Fajar Dika Dewanggara Badboy sekaligus penyumbang dana terbesar di sekolah ternama jatuh cinta pada cewek yang sangat dibencinya karena sifat nyolotnya? Dan cewek yang berani dengan Fajar itu adalah anak baru di sekolah Fajar. Abella Agatha...
