TIGAPULUHDELAPAN : TITIK TERANG

8.4K 562 51
                                        

I know I can treat you better,

Than he can

Enam minggu setelah hujan dan kenangan turun, Fajar dan Abel bagai orang saling tak mengenal. Fajar tiduran di kamarnya. Lagu Treat you better mengalun dari ponsel Fajar. Lirik lagu itu menyindirnya. Fajar ingin membanting ponsel miliknya namun ia masih membutuhkannya. Terlebih ada banyak kenangan Fajar bersama Abel dalam ponsel itu.

Rindu, Fajar sungguh rindu Abel. Namun Abel telah menghancurkan hatinya. Hancur remuk. Sekali ini Fajar merasa benar-benar sakit namun tak berdarah. Fajar tau bahwa jatuh cinta pasti akan melewati fase jatuh sebelum mendapatkan cinta.

"Turunin! Gue kedinginan tau"

Gerutuan Abel mengiang di telinga Fajar. Fajar tersenyum miris mengenang kebersamaannya. Semua kini merubah segalanya dalam jangka waktu yang cepat.

"Maaf Bel, lagi-lagi gue udah bikin kenangan buruk tentang hujan. Maaf bikin lo sedih karena hujan" gumam Fajar sendirian.

Fajar mengusap wajahnya dan mengacak rambutnya kasar. Ia tengkurap menenggelamkan wajahnya di bantal. Tangan kanannya memukul kasur untuk menyalurkan rasa kesal.

Fajar membalikan badannya ketika mendengar ketukan pintu. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah dengan malas, Fajar membukakan pintu. Mata Fajar yang tadi sendu kini berubah menjadi dingin ketika mengetahui yang ada di hadapannya adalah Davin.

"Apa?" tanya Fajar dingin menatap tajam Davin.

"Abel gak salah. Lo jangan jauhin dia. Dia cinta lo" jelas Davin.

"Makan noh yang namanya cinta" Fajar terkekeh mengejek.

Ingin rasanya Davin menonjok Fajar. Karena bagaimana pun Fajar adalah saudaranya, tak mungkin Davin melakukan itu.

"Jaga omongan lo! Abel nolak lo karena tau kita saudaraan! Gak memungkinkan bagi dia nerima salah satu dari kita dan nyakitin yang lain! Lo bego atau gimana?! Dia nanggung sakit sendiri. Dia lebih hancur dari pada lo!" Davin bicara dengan nada tinggi. Habis sudah sabarnya.

Fajar tercengang mendengar penjelasan Davin. Tubuhnya menegang. Rasa bersalah berkecamuk di hatinya. Lidah Fajar terasa kelu untuk bicara. Kakinya terasa kaku untuk melangkah mengejar Davin yang kini sudah melenggang pergi meninggalkan Fajar yang diam membeku.

Fajar menutup pintu kamarnya dengan keras. Fajar berjalan arah lemarinya. Di hantam Fajar lemari kaca dengan tangannya. Tangan Fajar berdarah. Fajar menganggap itu hukuman untuk dirinya karena telah melukai perasaan gadis yang di cintainya.

Fajar mengambil ponsel dibalik bantalnya. Tetesan darah kini mengenai sprei dan bantal milik Fajar. Ia mengetik pesan untuk Abel dengan tangan yang dialiri darah segar.

FajarDika : Bel, ketemu di cafe Vanila. Penting.

Tanpa menunggu balasan Abel, Fajar langsung meraih jaketnya dan lari ke garasi. Davin yang melihat Fajar pergi dengan keadaan yang buruk diam-diam mengikuti Fajar. Davin takut terjadi sesuatu pada Fajar nantinya.

Hate but Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang