Davin Putra Wijaya POV
Bel istirahat bunyi. Tapi gue masih betah dikelas menggambar sebuah nama dibuku gue yaitu, Abella Agatha. Dia cewek yang gue tolong waktu ada permen karet di rok belakangnya.
Percaya atau enggak, gue mengalami love first sight kepada Abel. Ya, dia cewek yang gue kagumi saat pertama kali gue tatap mata indahnya. Senyumannya selalu buat jantung gue deg-degan. Tawanya bagai alunan melodi yang indah bagi gue.
Maka gak heran kalau gue kasih perhatian lebih ke dia. Ngehibur dia waktu saudara gue bikin dia jatuh dan ponselnya pecah. Fajar Dika Dewanggara, saudara tiri gue. Gak ada yang tau kalau Fajar adalah saudara tiri gue. Kami memang sepakat untuk tidak membeberkannya.
Mama kandung gue—Riswati Wijaya meninggal kala ngelahirin gue. Gue tinggal dengan papa gue—Andi Wijaya. Dari kecil gue gak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu seperti yang anak lain rasakan. Bokap gue selalu sibuk kerja, kerja, dan kerja. Gue jadi diasuh oleh bi Imah—pembantu dirumah gue. Hidup gue gue jalani tanpa kasih sayang mama dan papa gue. Terlebih mama, gue sangat ingin punya mama. Dan sampai akhirnya gue punya mama tiri namanya mama Rini Dewanggara—mama kandung Fajar. Nama Dewanggara adalah nama papa Fajar yang sudah meninggal.
Mulai saat itu Fajar benci dengan gue. Fajar menganggap bahwa gue udah merebut kasih sayang mamanya. Fajar benci gue karena merasa kasih sayang dari mamanya terbagi dua karena adanya gue. Gue dan Fajar jarang bicara layaknya saudara. Kita lebih banyak saling diam. Bicarapun jika ada hal penting yang mendesak.
Setelah mengamati puas gambaran nama Bella di buku gue, tenggorokan gue jadi merasa haus. Gue memutuskan untuk ke kantin.
Saat gue masuk kantin, gue melihat semua pasang mata murid menatap ke satu objek yang sama. Gue mengikuti arah pandang mereka.
Deg!
Mendadak jantung gue serasa melorot ke perut gue. Dada gue terasa sesak dan hawa menjadi panas. Hati gue terasa seperti ditikam sebuah belati ketika melihat objek yang gue pandang adalah, Abel dan Fajar. Tangan Fajar menempel pada pipi Abel. Yang membuat hati gue mencelos adalah Abel sepertinya tidak keberatan dengan tindakan Fajar. Malah Abel menatap lekat Fajar seolah ada ketertarikan diantara mereka berdua.
Pengen rasanya gue larang Abel untuk dekat dengan cowok lain. Tapi ada sesuatu yang membuat gue tidak bisa melarang yaitu, status. Ya, status gue hanya teman dengan Abel dan gue tidak mempunyai hak untuk melarang Abel.
Gue memutuskan untuk balik ke kelas dan mengurungkan niat untuk membeli minum. Gue berjalan ke kelas dengan dada sesak dan hati remuk. Sejenak gue menghela napas agar emosi tidak menguasai diri gue.
Saat ini gue diam. Abel bahagia gue ikut bahagia. Gue ikhlaskan Abel jika memang bahagia Abel adalah Fajar. Tapi sekali Fajar nyakitin Abel, gue gak akan segan-segan rebut Abel dan membawanya dalam pelukan gue.
Nah, ketauan nama panjangnya Davin dan kisahnya Davin:')
Ah jadi sedih gue:( udah ah jangan sedih lagi:)
Gimana part ini?
Jadi tau siapa Davin kan?
Salam,
Author insom galau
gara-gara baca novel
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate but Love
Teen FictionSeorang Fajar Dika Dewanggara Badboy sekaligus penyumbang dana terbesar di sekolah ternama jatuh cinta pada cewek yang sangat dibencinya karena sifat nyolotnya? Dan cewek yang berani dengan Fajar itu adalah anak baru di sekolah Fajar. Abella Agatha...
