EMPATPULUHEMPAT : DAVIN, BANGUN DONG

9K 531 44
                                        

Abel tersenyum dibalik punggung Fajar. Ada banyak cara Fajar untuk meluluhkan hati Abel. Abel setengah kesal, setengah senang. Di satu sisi Abel senang Fajar benar-benar sayang padanya. Tapi di sisi lain Abel sedikit kesal karena Fajar mengambil first kissnya.

Abel bahagia. Namun seperti ada yang mengganjal. Abel mencoba mengingatnya. 'Davin dimana?'. Satu pertanyaan yang mengganjal di hati Abel. Senyum Abel yang tadi merekah kini perlahan pudar.

Abel yang berada dalam gendongan Fajar membisikan sesuatu kepada Fajar. "Davin mana?"

Satu pertanyaan Abel yang membuat Fajar mati kutu tak bisa menjawab pertayaan Abel. Fajar tak ingin melihat gadisnya bersedih lagi. Tapi mau bagaimana pun Fajar menutupinya, pasti Abel akan mengetahui.

"Davin dimana, Jar?" Ulang Abel.

Fajar berdeham. "Tapi janji dulu sama gue"

"Janji apaan?"

Fajar menghela napasnya. "Lo harus kuat"

Abel terdiam tak menanggapi syarat dari Fajar. Sebenarnya apa yang terjadi dibalik syarat Fajar? Mengapa Abel merasa bahwa Davin sedang tak baik-baik saja? Jika Davin baik-baik saja, maka tak mungkin seminggu selama Abel dirawat Davin tak menjenguk.

Fajar melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Davin. Ia harus memberitahu Abel bagaimana kondisi Davin saat ini. Tak bisa Fajar pungkiri, selama Davin tak sadar Fajar merasa kehilangan. Walaupun dulu Fajar benci Davin tapi Fajar tetap menganggap Davin sebagai saudaranya. Benci Fajar kepada Davin kini berubah menjadi rasa sayang layaknya dua saudara yang saling melengkapi.

Perlahan Fajar mendorong pintu ruang rawat Davin. Suara pendeteksi detak jantung terdengar oleh telinga Abel dan Fajar. Abel menggelengkan kepalanya. Ini bukan ruang rawat Abel. Tak ada alat pendeteksi detak jantung di ruang Abel. Ini bukan ruangan Abel.

"Davin ada disini, Bel" Fajar memberitahu dengan suara lirih.

Diruangan Davin terdapat Rini dan Andi yang sedang terduduk di kursi yang berada di kanan ranjang rumah sakit menanti sadarnya Davin. Andi dan Rini menengok ke arah Fajar dan Abel. Baru kali ini Andi dan Rini mengetahui Fajar mempunyai kedekatan kepada seorang perempuan.

Fajar menghampiri Rini dan Andi. "Mama sama Papa bisa keluar sebentar? Fajar sama Abel mau ngomong ke Davin"

"Oh, iya boleh. Ini yang namanya Abel?" tanya Rini.

Abel tersenyum. "Iya tante, saya Abel"

"Ciiee main gendong-gendongan sama Fajar" gurau Rini.

Abel turun dari gendongan Fajar. "Ehm... Soalnya saya gak bisa lihat, tante. Saya buta" Abel tersenyum miris menyatakan kalimatnya.

Rini bungkam. Pernyataan dari Abel membuatnya merasa bersalah. Rini menatap iba Abel. Gadis cantik penyabar dengan segala cobaan.

"Yaudah Mama sama Papa keluar dulu" ucap Andi sambil menggandeng tangan Rini.

Fajar dan Abel tersenyum. Setelah Rini dan Andi keluar, Fajar menuntun Abel agar mendekat ke ranjang tempat Davin terbaring. Suara alat pendeteksi jantung semakin memekakkan telinga. Setiap suara yang di keluarkan dari alat pendeteksi jantung itu membuat hati Fajar dan Abel ngilu.

"Bel, Davin di depan lo" kata Fajar sambil menuntun tangan Abel untuk menyentuh rambut Davin. Jujur sakit bagi Fajar melihat Abel mengelus rambut Davin, tapi Fajar paham Davin kini membutuhkan dukungan dari orang yang dicintainya.

"Davin, lo tidur?" tanya Abel dengan suara serak menahan tangis.

"Bangun dong. Kalo lo tidur terus ntar yang bantu gue waktu Fajar nakal siapa?" Abel terus bertanya walaupun pertanyaannya tak di respon oleh Davin.

Satu tetes air mata menetes dari pelupuk mata Abel. "Jahat lo Vin. Lo milih tidur dari pada ngerespon gue"

Tangan Abel yang tadi mengelus rambut Davin kini mengelus pipinya sendiri menghapus air matanya.

'kenapa lo terlalu baik sama orang sejahat gue, Vin? Lo bahkan pertaruhkan nyawa lo buat gue tanpa berpikir dua kali. Gue emang bego gak bisa bales perasaan orang sebaik lo' batin Abel.

Air mata Abel kini kian deras membasahi pipinya. Tangan Abel mengepal sempurna menahan semua emosi yang ada dalam dirinya. Bahu Abel bergetar menahan tangis walaupun akhirnya air mata tetap menetes. Fajar pun membawa Abel dalam pelukannya. Tangan Fajar mengelus rambut Abel untuk menenangkan Abel.

"I'll be there for you" bisik Fajar kepada Abel.











Oke guys grup line udah dibuat. Silahkan chat gue buat gabung di grup.

Id line : @febbinatasyaa (gausah pake @)

Makasii

Hate but Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang