EMPATPULUHSATU : MIMPI

8.3K 576 86
                                        

Abel melihat Davin sedang duduk di kantin. Ia memakai baju serba putih. Abel menghampiri Davin dengan senyum merekah di bibirnya.

"Davin!" panggil Abel.

Davin tersenyum. Wajahnya kini sangat cerah. Nampak sangat bahagia. Sorot matanya yang tajam kini menatap lembut. Davin yang tenang.

"Lo kok disini?" tanya Abel penasaran.

"Lagi pengen aja" jawab Davin santai.

Setelah itu tak ada pembicaraan diantara mereka. Mereka berdua bungkam menikmati semilir angin yang menerpa tubuh. Langit yang cerah untuk hari ini. Hari yang sempurna.

"Bella"

"Hmm" Abel menggumam menjawab panggilan Davin.

"Gue boleh minta satu permintaan ke lo?" tanya Davin.

"Boleh, asal ada hadiahnya dong" Abel bergurau.

Davin tersenyum. "Tolong jaga Fajar buat gue. Bagaimanapun dia saudara gue. Maklumin ya sifat dia yang kadang childish dan suka seenaknya. Tapi dibalik sifatnya dia yang nyebelin itu, dia punya perasaan yang begitu besar sama lo. Tolong jaga dia buat gue"

"Lo mau pergi kemana? Lo mau ninggalin gue?" Abel curiga.

"Gue gak akan ninggalin lo kok. Gue bakal ada buat lo"

"Janji?" Abel menegakkan kelingkingnya

"Gue gak janji. Karena janji itu berat. Gak boleh diucapin sembarang"  Davin menatap kelingking Abel.

Abel kesal dengan Davin. Ia menurunkan kembali kelingkingnya. Abel langsung berbalik memunggungi Davin. Abel ngambek, kesal. Davin yang menyebalkan.

"Bella ngambek?" Davin menusuk lengan Abel dengan telunjuknya.

Abel diam tak merespon. Abel benar-benar ngambek. Davin tak kehilangan akal untuk membujuk Abel agar tidak ngambek lagi.

"Bella jangan ngambek ya? Gue nyanyiin deh" bujuk Davin. Dan berhasil, Abel kini berbalik lagi menatap Davin. Davin langsung menarik tangan Abel lalu menggenggamnya. Ia menyanyikan lagu All i ask untuk Abel.

"All i ask is if... This is my last night with you... Hold me like i'm more than just a friend... Give me memory i can use. Take me by the hand while we do what lovers do... It matters how this ends.. Cause what if I never love again..." Davin menyanyikan lagu itu dengan memejamkan matanya. Menghayati setiap lirik lagu itu. Tanpa sadar air matanya kini telah menetes.

"Vin, kenapa nyanyi lagu buat perpisahan sih?" Suara Abel serak menahan tangis. Seolah setelah ini akan ada yang hilang dari hidupnya. Perasaan Abel tak karuan.

"Jangan nangis, please" Davin mengusap pipi Abel dengan lembut.

"Kenapa lo besikap seolah lo mau pergi? Lo jahat Vin" Abel memukul pelan lengan Davin untuk pelampiasan kekesalannya.

Davin tak sampai hati melihat Abel seperti ini. Dibawanya Abel dalam pelukan hangat miliknya yang mungkin, untuk terakhir. "Maaf"

"Enggak! Lo gak boleh pergi! Jangan kayak gini!"

Davin menangkup wajah Abel menggunakan tangannya. Ditatapnya wajah sendu Abel. "Gue gak akan ninggalin lo. Lo cinta pertama dan terakhir gue. Gue bakal selalu bersama lo. Entah dengan cara apa"

Abel diam tak berkutik. Tenggelam dalam tatapan lembut Davin. Selalu saja Davin mempunyai cara untuk menenangkannya. Abel heran, kenapa dia tak cinta pada Davin saja? Kenapa Abel malah cinta Fajar? Entahlah ini rumit. Cinta tidak memandang sifat, tapi rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Tanpa melihat siapa, bagaimana, kapan, dan apa. Cinta akan terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Tetap kokoh meski disayat kenyataan.

"Gue sayang, bahkan cinta lo Abella Agatha" ungkap Davin seraya membawa lagi Abel dalam pelukannya.












#77 in teenfiction. Thanks guys:* ayaflu. Pantengin Hate but Love terus yaa<3

Hate but Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang