Melihat gadis yang ada dihadapannya melihatnya lekat, Fajar menatap balik Abel. Tanpa berkedip Abel melihat Fajar. Matanya seolah terkunci oleh tatapan Fajar. Mata elang Fajar yang tajam dan mengintimidasi membuatnya membeku.
Tak buang kesempatan, Fajar mendekatkan kepalanya dan mencium pipi kiri Abel yang terkena tamparan. Abel membelalakan matanya tak percaya atas yang dilakukan Fajar. Fajar hanya senyum manis.
Stefan menganga melihat Fajar."Bangsul si Fajar gas polll!"
Adrian dan Iger hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh. Fajar jika sedang dimabuk asmara memang tidak tahu tempat. Akibatnya pipi Abel merah dan semua murid yang ada di kantin langsung berkasak-kusuk melontarkan perasaan iri nya terhadap Abel. Namun untungnya Fajar dan Abel tidak menghiraukan kejadian yang ada disekitarnya. Seolah dunia hanya milik mereka berdua
"Biar sembuh" alasan Fajar receh.
"Dasar lo mo—dus" Abel gugup.
Fajar menyeringai. "Halah sama-sama diuntungkan kok"
"Diuntungkan apa sih!"
"Gue seneng, begitu juga dengan lo"
"Ih apaan sih tai!"
Abel bangkit dari duduknya. Sambil menutupi kedua pipi merah menggunakan telapak tangannya, Abel meninggalkan Fajar yang masih dengan seringaiannya. Abel berjalan cepat menjauhi kantin. Tak peduli dengan tatapan-tatapan para murid yang berada di kantin.
Fajar juga bangkit dari duduknya Dan mengejar Abel."Bel! Tungguin!"
Abel hendak berjalan ke kelasnya. Abel yang mendengarkan panggilan Fajar mempercepat langkahnya. Tak sadar bahwa langkah cepatnya kini menjadi berlari. Langkah Abel terhenti di depan ruang kelas Fajar. Abel sangat kaget saat menyadari Ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Mau lari kemana, hm?" bisik Fajar.
"A—apaan sih lo playboy kampret cap daki badak!" lawan Abel gugup namun tak bergeming.
"Abel salting ciee" goda Fajar.
"Lah elo sih!"
"Gue kenapa, Bel? " tanya Fajar dengan nada halus Yang justru membuat Abel merinding.
"Elo main nyosor"
"Mau nambah gak Bel? Jarang loh disosor sama cogan kayak gue" Fajar semakin menggoda Abel. Dan itu membuat jantung Abel jungkir balik diiringi terbangnya kupu-kupu di perutnya.
"Gak!"
Abel menginjak kaki Fajar. Fajar melepas pelukannya. Abel menggunakan kesempatan itu untuk lari dari Fajar.
"Heh Bel!" seru Fajar namun tak dihiraukan Abel.
Abel berlari kecil. Keringat mengalir di pelipisnya. Sesekali Abel menyeka keringat pada pelipisnya. Napas Abel pun kini tersengal-sengal. Abel berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Tiba-tiba ada uluran tangan yang menyodorkan sapu tangan. Abel mendongak untuk mengetahui siapa yang memberikannya. Ternyata dia, Davin.
"Hapus tuh keringat lo" ujar Davin.
Abel menatap sapu tangan itu sejenak lalu menerimanya. "Thanks"
Davin menyunggingkan senyum manisnya. Tangan Davin terulur untuk mengacak rambut Abel yang tergerai.
"Sih! Berantakan kan" keluh Abel.
Lagi-lagi Davin tersenyum. "Tapi lo tetep cantik kok Bel"
Abel tersenyum mendengar perkataan Davin.
"Abel lo—" langkah Fajar terhenti dan ucapannya terputus saat melihat Abel kini tengah bersama Davin. Fajar mengeraskan rahangnya. Fajar emosi. Davin sudah merebut mama Fajar, apakah sekarang Davin hendak merebut gadis yang dicintai Fajar? Fajar mengepalkan tangannya hingga buku tangannya memutih
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate but Love
Roman pour AdolescentsSeorang Fajar Dika Dewanggara Badboy sekaligus penyumbang dana terbesar di sekolah ternama jatuh cinta pada cewek yang sangat dibencinya karena sifat nyolotnya? Dan cewek yang berani dengan Fajar itu adalah anak baru di sekolah Fajar. Abella Agatha...
