DUAPULUHDELAPAN : KHAWATIR

9K 625 7
                                        

Fajar jalan ke motornya dengan tertatih. Sesekali dia meringis karena kesakitan. Wajah lebam jadi bukti pertengkaran nya. Senyum Fajar mengembang saat mendapati gadisnya, Abel sedang berdiri di samping motornya.

Abel memainkan tali ranselnya. Sebenarnya Abel tahu Fajar mendekat dengan keadaan kurang baik. Abel tahu Fajar sedang babak belur. Abel juga tahu hal yang selama ini di sembunyikan Fajar. Tapi Abel memilih pura-pura tidak tahu dari pada memperpanjang masalah.

"Hai" sapa Fajar membuyarkan lamunan palsu dari Abel.

Abel menatap Fajar sebentar. "Muka lo?"

"Biasa lah cowok. Yuk pulang" ajak Fajar.

"Yakin bisa pulang dengan keadaan kayak gini?"

"Yakin"

Fajar memakai helm nya. Abel juga begitu. Fajar meringis saat luka di pipinya terkena helm bagian dalam. Hati Abel terasa ngilu melihat Fajar yang seperti itu.

Fajar pun menaiki motornya. Abel juga langsung duduk di belakang Fajar. Rasa khawatir menyeruak di dada Abel. Takut terjadi apa-apa pada Fajar saat di perjalanan nanti. Diusir jauh-jauh pikiran negative itu dari pikiran Abel.

Perlahan motor Fajar berjalan dengan kecepatan normal. Dibawah panasnya matahari, ada juga seorang laki-laki yang hatinya sedang panas. Bayang-bayang Abel dan Davin masih jelas di pikirannya. Fajar menghela napas berusaha menyakinkan dirinya bahwa Abel tak kan berpaling darinya. Abel ada disini bersamanya.

Sampailah mereka berdua di depan rumah Abel. Terlihat mobil milik Melati sudah terparkir di garasi. Abel turun dari motor dan melepas helmnya. Sedangkan Fajar menurunkan standar motornya lalu ikut turun dan melepas helm.

Abel menatap Fajar sendu."Masuk yuk. Gue obatin luka lo"

Fajar mengangguk. Tak seperti biasanya Fajar yang menggenggam tangan Abel duluan, kini tangan Abel yang menggenggam Fajar duluan. Fajar sempat terperanjat dengan sikap Abel yang manis. Sebuah senyum terukir di bibir tipis Fajar.

Saat masuk ke dalam rumah,  terlihat Melati sedang mengemil sambil menonton televisi. Sesekali dera tawa Melati pecah saat melihat tingkah konyol tokoh di televisi tersebut.

Abel memutar kedua bola matanya. Kakaknya ini hobi sekali yang namanya mengemil. "Heh dugong camilannya jangan di embat semua bloon"

Melati mencari asal suara adiknya yang super super cerewet itu. "Dasar lo adek jahanam! E-eh ada Fajar. Muka lo kenapa Jar?"

"Abis jungkir balik dari perosotan bocah TK" gurau Fajar.

"Kak, rumah kok sepi? Mama mana?" tanya Abel yang tak melihat sosok mamanya itu.

"Nemenin papa pertemuan di kantor" jawab Melati acuh yang memilih fokus pada televisi dan camilan nya.

Abel menganggukkan kepalanya lalu menyeret Fajar menuju kamarnya.

Ketika sampai di kamar Abel, Fajar langsung duduk di tepi ranjang milik Abel. Sedangkan Abel menaruh tas ransel miliknya di kursi meja belajar dan duduk di kursi.

"Lo mau ngapain Bel ngajak gue ke kamar? Gue belum kerja Bel. Belum punya duit buat nafkahin elo dan anak kita nanti" ujar Fajar mengada-ada.

Abel melotot kepada Fajar yang otaknya rada geser itu. "Otak lo mesum banget sih njir"

"Lah kan gue kira mau anuan" Fajar terkekeh.

Abel tambah melirik kesal ke arah Fajar. Karena emosi, tanpa sadar Abel melempar buku tulis ke wajah Fajar dan itu tepat mengenai wajah Fajar yang lebam.

"Adaw! Sakit Bel!" keluh Fajar.

Raut wajah Abel berubah jadi khawatir. Abel mendekati Fajar. "Maaf Jar. Elo sih ngeselin!"

Tanpa persetujuan Fajar, Abel langsung ke dapur mengambil air hangat. Setelah mengambil air hangat Abel kembali ke kamarnya lagi. Abel membuka lemari nya dan mengambil handuk kecil. Abel mendekat kembali pada Fajar.

Dengan telaten Abel mengompres luka Fajar. Senyum tulus terajut pada bibir Fajar. Gadis yang dulu sangat dibencinya kini menjadi care dengannya. Mata Fajar terus mengamati Abel tanpa diketahui Abel. Sempurna, satu kata untuk Abel sang pacar idaman bagi Fajar.

Tanpa Abel dan Fajar ketahui,  Melati diam-diam mengintip dibalik pintu. 'Jiah adek gue udah gede. Udah tau cinta-cintaan' batin Melati. Melati menahan cekikikannya karena takut ketahuan jika saat ini dia sedang mengintip.

Hate but Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang