DUAPULUHTIGA : MASALAH

9.5K 689 22
                                        

Abel telah memasuki kelasnya. Dilihatnya figur Disha dan Rere sedang tertawa riang. Seperti ada sesuatu yang sangat membahagiakan diantara mereka. Abel penasaran lalu ikut mengobrol dengan kedua sahabatnya.

"Ada apa nih?" tanya Abel ikut nimbrung.

"Gue sama kak Iyan jadian!" bisik Rere dengan nada bahagia.

Abel menaikan sebelah alisnya. "Tunggu-tunggu, kak Iyan maksut lo kak Adrian?"

Rere mengangguk semangat.

Abel membelalakan matanya terkejut. "Lah, gue kok gak lihat sesi PDKT lo?"

"Gue aja gak tau, Bel. Sok privacy banget nih Rere" cibir Disha.

Rere mendengus lalu memutar kedua bola matanya. "Kaliankan jomblo, nanti kalau lihat sesi PDKT Rere sama kak Iyan yang romantis kalian jadi pengen"

Sontak Abel dan Disha langsung melayangkan jitakannya kepada Rere.

"Aw! Sakit daki badak!" gerutu Rere sambil mengelus kepalanya yang dijitak oleh kedua sahabatnya.

"BODO AMAT!" ucap Abel dan Disha serempak.

Bel masuk berbunyi nyaring dikelas Abel.

"WOY! PAK PARDI OTW!" teriak Dio yang berada di ambang pintu. Dengan tergopoh-gopoh Dio langsung duduk tertib di bangkunya. Abel, Rere, dan Disha pun juga ikut duduk dibangkunya masing-masing.

Selang beberapa menit setelah semua murid duduk di bangkunya masing-masing layaknya seorang murid tertib, guru berkumis dan berkacamata minus memasuki kelas. Pak Pardi mengamati seluruh muridnya lalu duduk dan mengucapkan salam.

"Assalamualikum wr.wb"

"Wa'alaikumusalam wr.wb" jawab murid serempak.

"Pagi anak-anak" sapa Pak Pardi ramah.

"Pagi juga Pak" para murid menjawab lesu.

"Baiklah hari ini kita akan membahas tentang....."

Mulut Pak Pardi menjelaskan materi fisika yang membuat para murid mengantuk. Bagaikan Pak Pardi bercerita dongeng penghantar tidur yang membuat para murid beberapa kali menguap. Tak terkecuali Rere, Abel, dan Disha.

Abel mencoret-coret bukunya. Saat ini Abel ada di kelas tapi pikirannya melayang bersama hatinya. Perlakuan Fajar di rooftop mall kemarin terputar jelas bagai video di benak Abel. Abel jadi tersenyum sendiri dibuatnya.

Setelah mengantuk dan jenuh, akhirnya bel istirahat berbunyi. Para siswa yang tadinya mengantuk kembali bugar setelah mendengar deringan bel istirahat. Beberapa siswa buru-buru ke kantin takut tak kebagian meja.

Abel tak ke kantin. Rasanya Abel sedang malas alias mager. Abel hanya menelungkupkan kepalanya diantara lengannya. Senyum yang disembunyikan Abel akhirnya terbit. Seperti ada rasa yang membludak dalam dadanya. Entah apa itu.

Rere menggaruk kepalanya. "Ayo jajan. Laper"

"Sama gue juga. Ayo Bel, Re" timpal Disha.

Rere mengangguk. Sedangkan Abel mengibaskan tangannya menyuruh Rere dan Disha duluan. Rere dan Disha pun pergi ke kantin tanpa Abel.

"Ada yang namanya Abel?" Seru seorang cewek bersama kedua temannya cantik dengan dandanan cetar menatap semua murid yang ada di kelas Abel.

Abel mengangkat kepalanya melihat siapa yang mencarinya. Abel mengangkat tangannya. Finally, cewek itu adalah Nara, Yohana, dan Ajeng sedang melirik sinis kepada Abel. Abel pun hanya santai karena ia tak merasa melakukan kesalahan.

"Sini Bel. Lo ikut gue" perintah Nara. Nara keluar kelas diikuti Yohana dan Ajeng.

Abel ikut kemana arah Nara berjalan. Ada perasaan tak enak dalam hatinya. Seperti pertanda buruk. Namun dengan modal keberanian karena tak bersalah, Abel terus mengikuti langkah Nara yang sekarang berhenti di belakang gudang. Tempat yang sepi.

"Ada apa ya kak manggil saya?" tanya Abel ramah.

"Lo gak usah kegatelan sama Fajar deh! Fajar itu punya gue!" Nada Nara berubah menjadi membentak.

Abel menaikan satu alisnya. "Saya gak deketin Fajar kak"

Tiba-tiba Yohana memanas-manasi Nara. "Nyolot tuh anak Nar! Gue tadi pagi lihat dia berangkat bareng sama Fajar"

"Mana dengar-dengar dia dipakein jepit di rambutnya. Tuh kan ada!" timpal Ajeng sambil melihat jepit rambut yang dikenakan Abel.

"Bener yang dibilang temen gue?" tanya Nara dingin.

Abel mengangguk ragu. "Tapi—"

Plak!

Nara menampar Abel. Abel meringis merasakan pipi kirinya panas dan perih. Abel tak bisa diam dengan perlakuan kasar Nara. "Gue gak gatel! Fajar yang makein gue jepit tanpa gue minta KAK NARA!"

"Jaga omongan lo sama kakak kelas!" Tangan Nara hendak melayang menampar Abel. Namun gagal karena ada tangan seseorang menahannya. Tangan Fajar.

"Lo punya hak apa ngelarang gue deket Abel?" tanya Fajar dingin dan menusuk.

Nara memasang muka kagetnya dan mengangkat sebelah alisnya. "Fajar? Bukannya selama ini kita deket?"

"Gue deket sama lo sebagai teman! Gue sih b aja, tapi lo baperan!" Fajar menghempas kasar tangan Nara yang tadi di cengkeramnya.

Tanpa basa-basi Fajar menarik pergelangan tangan Abel menjauhi rombongan cewek cantik otak udang. Abel yang tangannya ditarik hanya ikut kemana Fajar melangkahkan kakinya.

"Lo kok tau gue disini?" tanya Abel saat jalan.

Fajar menoleh sebentar lalu menatap kedepan lagi. "Tadi gue ngerokok disini. Pas lihat lo sama rombongan Nara gue ngumpet"

"Lo ngerokok?!" Abel kaget dengan pernyataan Fajar.

"Kalau lagi banyak pikiran sama masalah aja" jawab Fajar tanpa menoleh sedikitpun ke Abel.

Fajar dingin. Tampak dia seperti banyak masalah yang ia pendam sendiri. Sorot matanya menampakan sedih, kecewa, dan marah. Entah apa alasannya Abel tidak mengetahui.













Yeay! Ga kerasa udah dua puluh tiga part<3 makasih ya buat kalian yang udah baca cerita amburadul ini:') makasih juga buat yang udah vote sama comment jadi makin sayang:*

Salam,
Author gaje yang berharap
Karyanya bakal diterbitkan:')



Hate but Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang