TIGAPULUHEMPAT : SALAH PAHAM

7.9K 527 18
                                        

Davin mengeratkan pelukannya pada Abel. Memberi kehangatan dan ketenangan bagi Abel. Justru malah sebaliknya, Abel malah semakin menangis.

"Gu-gue gak bisa jadi pacar lo" ungkap Abel dengan sesenggukan di pelukan Davin.

Jelas hancur hati Davin. Davin menghela napas dan tersenyum tipis untuk menutupi kekecewaannya. Ia melonggarkan pelukannya dan menatap mata Abel yang sendu. "Kenapa?"

"Gimana bisa gue nerima salah satu dari dua cowok yang saudaraan? Itu bikin salah satu sakit"

Deg

Satu pertanyaan yang membuat Davin tersudut. Tangan Davin menangkup wajah Abel. Ibu jari Davin mengusap air mata yang mengalir dari mata indah Abel. Maksut lo?"

"Lo sama Fajar saudaraan kan? Gue udah tau!"

Davin menghela napasnya. "Maaf gue belum kasih tau lo waktu itu. Lo kenapa nangis?"

Air mata kembali jatuh dari sudut mata Abel. "Gue nolak Fajar" Abel tersenyum getir.

Abel menghapus air mata di pipinya. "Lo sama Fajar bareng nembaknya. Jadi gue tolak dua-duanya" Abel kembali tersenyum getir sambil menatap kosong ke arah Davin.

Jantung Davin seperti jatuh ke perut. Hatinya mencelos mendengar pengakuan Abel. Abel rela mengorbankan perasaannya. Davin mengacak rambutnya frustasi.

"Maaf Bel, gue gak tau. Beneran!" jelas Davin jujur.

"Gapapa. Yaudah gue ke toilet dulu. Mau cuci muka" pamit Abel.

Abel langsung pergi tanpa mempedulikan Davin. Air mata tak dapat ditahan agar tak mengalir deras. Tak dihiraukan Abel tatapan heran para siswa lain. Abel berjalan menunduk sambil sesekali mengusap air matanya.

Sampai di toilet, Abel langsung masuk ke bilik itu lalu menutup pintunya. Abel menumpahkan semua rasa sedih dan sakitnya. Bukan ini yang ia harapkan. Ini salah Abel.

Abel memukul dinding toilet melampiaskan emosinya. Fajar terlalu baik untuk disakiti. Ini mutlak salah Abel. Abel hanya dapat menggumamkan maaf di dalam hatinya.

Puas menangis, Abel membasuh wajahnya yang basah karena air mata dan keringat. Perlahan Abel membuka pintu toilet. Abel berjalan menuju kelasnya. Abel harap ketika di kelas ia dapat mencurahkan isi hatinya kepada dua sahabatnya, Rere dan Disha.

Abel terus berjalan tak menghiraukan para siswa yang menggunjing. Cepat sampai kelas itulah tujuan Abel. Namun berbanding balik dengan pikirannya, ini semua membuat Abel terkejut.

Rere duduk dengan Disha. Otomatis Abel duduk sendirian. Abel merasa dijauhi oleh sahabatnya itu. Abel menghampiri Rere dan Disha yang duduk di belakang.

"Re? Kok pindah sih?" Tanya Abel setenang mungkin.

"Bukan urusan lo" Rere ketus.

"Gue kecewa sama lo, Bel" imbuh Disha.

Abel diam mencerna kata-kata sahabatnya. Belum sembuh satu luka, timbul luka yang lain. Abel ingin kedua sahabatnya itu ada disisinya saat ia terpuruk seperti ini. Sungguh miris kenyataan yang ada. Bukannya menanyakan alasannya, sahabat Abel justru langsung menyimpulkan seseuatu tanpa meminta penjelasan. Abel kecewa.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Abel menjauh dari tempat duduk. Dada Abel terasa sesak. Untuk bernapas pun sepertinya susah. Hati Abel ditusuk bagai seribu pisau. Tak berdarah namun lukanya dalam.

Abel duduk di kursinya. Abel menenggelamkan wajahnya diantara dua lengan yang ia tekuk. Abel melakukan itu agar air matanya tak terlihat saat menetes.
















-maaf ga nepatin janji:D
Abisnya kemaren sibuk wkwk. Kalo ada typo langsung komen yaa, nanti biar di benerin wkwk.

Hate but Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang