EMPATBELAS : JALAN

11.2K 725 12
                                        

Abel mengamati langit-langit kamarnya. Perasaannya sungguh kacau. Fajar benar-benar anak yang mengesalkan. Abel menyesal karena telah berurusan dengan cowok itu. Abel memutuskan untuk menjauhi Fajar. Cukup sudah Fajar mempermalukannya.

Sekelebat perasaan tidak enak hati muncul dihati Abel. Karena kesal dan tidak mood, tadi disekolah Abel mengabaikan Rere dan Disha. Abel hanya diam tak menanggapi kekhawatiran sahabatnya itu.

Abel menghela napasnya. Ini hampir jam tujuh. Sepulang sekolah tadi Abel langsung tidur karena lelah menangis.  Abel segera mandi dan berganti baju. Abel hanya mengenakan celana jeans warna hitam dan baju kaos berwarna peach.

"Dek, Davin dateng" teriak Melati dari balik pintu.

"Iya, bentar" jawab Abel.

Abel membuka pintu. Dilihatnya muka Melati sedang tersenyum. Pipi Melati bersemu. Abel menatap Melati lekat-lekat lalu menempelkan telapak tangannya pada dahi Melati.

"Enggak panas kok. Lo kenapa kak?" tanya Abel cengo.

"Lagi berbunga-bunga" jawab Melati sambil tersenyum lebar.

"Because?"

"Pas tadi lo tidur, Iger kesini minta maaf sama gue sambil bawa bunga" jelas Melati dengan tersenyum lalu melompat kegirangan.

"Ya,ya,ya selamat. Udah ah gue ditunggu Davin"

"Mau kemana lo?"

"Kepo"

Melati hanya memutar kedua bola matanya. Abel menyengir lalu pergi keruang tamu untuk menemui Davin. Mata Abel melihat Davin mengobrol dengan mamanya. Tampak akrab, padahal baru ketemu. Abel mengendikkan bahunya lalu mendatangi Davin.

"Hai" sapa Abel kepada Davin.

"Hai"

"Udah ayo berangkat malah ngobrol sama mama udah kayak emak-emak bahas arisan lo kak" ledek Abel.

"Hehehe. Yaudah tante, Bella nya saya pinjem dulu ya..." pamit Davin lalu mencium tangan mama Abel. Abel juga mencium punggung tangan mamanya.

"Hati-hati ya" mama Abel mengingatkan yang dibalas anggukan oleh Davin dan Abel.

⚫⚫⚫

Mobil Davin menelusuri jalan raya kota Jakarta. Mata Abel menatap nyalang pengendara yang berada di depannya. Davin bungkam saat menyetir. Abel kurang suka dengan suasana awkward seperti ini.

"Mau kemana sih kak?" tanya Abel.

"Lo maunya kemana?" tanya Davin balik.

"Lah lo kan yang ngajak jalan onta"

"Yaudah ke puncak mau gak?" Davin terkekeh.

"Ini kan udah malem. Hmm... Yaudah jajan dipinggir jalan aja yok?" saran Abel.

"Yakin lo mau jajan dipinggir jalan?"

"Yakinlah. emang kenapa?

"Gue kira semua cewek cuma suka cafe"

"Gue mah yang penting kenyang"

Abel terkekeh lalu menghela napas. Abel melihat keluar jendela. Matanya melihat di pinggir jalan para penjual jajanan sedang mencari nafkah untuk keluarganya. Davin sepertinya juga melihat para penjual jajanan. Davin menepikan mobilnya.

"Mau jajan apa?" tanya Davin ketika sudah turun dari mobil dan berjalan disamping Abel.

"Hmm... Bakso bakar!"

"Yaudah ayo beli. Gue bayarin"

"Yes! Makasih" ucap Abel senang.

Abel memesan tujuh tusuk bakso bakar sedangkan Davin hanya tiga tusuk bakso bakar. Abel sungguh maruk ketika makan. Padahal satu tusuk bakso berisi lima bakso. Davin menggeleng melihat porsi makan Abel. Rupanya Abel cuek dan tidak terlalu menjaga image alias jaim.

"Kenyang gue. Ayo balik" ajak Abel.

"Ayo. Dasar lo maruk makan" ledek Davin yang mendapat hadiah pelototan dari Abel.

"Ikhlas gak lo bayarin gue?"

"Ikhlas kok! Ayo pulang nanti mama lo nyariin kalau pulangnya terlalu malem"

Abel hanya mengangguk lalu mengikuti Davin menuju mobil. Mata Abel sangat mengantuk hingga setelah sampai rumah hanya berterima kasih kepada Davin dan langsung tidur dikamarnya

Hate but Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang