Dengan napas terengah-engah Davin tetap mengejar Abel. Akhirnya tangan Davin berhasil mencekal pergelangan tangan Abel. Abel berusaha melepaskan cekalan Davin. Tapi tentu saja tenaga Davin lebih kuat dari pada Abel.
"Lo tuh kenapa lari Abel?" tanya Davin sambil mengatur napasnya.
"Ehmm gu—gue malu sama lo kak" jawab Abel gugup. Kepala Abel menunduk melihat tali sepatunya yang ternyata lepas.
Davin menghela napasnya "lo gak usah malu. Kan pake baju, ngapain malu?" Davin tiba-tiba jongkok menalikan tali sepatu Abel yang lepas. Abel menganga dibuatnya.
"Kak! Gue bisa sendiri kok!"
"Udah lo mending diam aja. Untung tadi lo gak jatuh"
Abel hanya diam mematung. Serasa ada jutaan kupu-kupu diperutnya. Pipi Abel sudah blushing saat ini. Semburat merah di pipi Abel sudah tidak dapat disembunyikan lagi.
"Udah. Yuk ke kantin. Kayaknya suhu disini panas sampe lo pipinya merah gitu" ajak Davin sambil terkekeh.
"Apaan sih lo kak!" gerutu Abel sambil menghentakkan kakinya.
Davin tak menghiraukan gerutuan Abel. Davin menyeret Abel ke kantin. Langkah Davin yang lebar membuat Abel terseok-seok menyamakan langkahnya. Untung saja kantinnya dekat jadi sekarang sudah sampai.
"Buk es teh dua!" teriak Davin pada ibu kantin.
"Duduk dimana?" tanya Davin.
"Terserah"
Davin dan Abel akhirnya duduk di tengah. Davin memandangi wajah Abel yang masih terdapat semburat merah dipipinya. Lucu, satu kata untuk Abel batin Davin.
"Apaan sih kak ngeliatnya begitu amat" tanya Abel jutek.
"Gapapa sih. Mata-mata gue juga" jawab Davin sambil tersenyum.
"Lo kok nyolot kak?" Abel tambah kesal.
Pesanan es teh pun datang. Bu kantin meletakkan dua gelas es teh di meja Abel dan Davin. Abel tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada bu kantin.
"Maaf deh hahaha lo abisnya lucu. Pipi lo dari tadi merah"
Abel menutup pipinya dengan kedua telapak tangannya. 'dasar pipi emang gak bisa diajak kompromi' batin Abel.
"Eh iya lo kenapa kok diluar kelas sih? Kan semua kelas X pelajaran" Davin penasaran.
"Gue tadi gak konsentrasi pas pelajaran. Temen-temen pada natap gue gitu. Ya gue jadi salfok. Gue jadi ga fokus ke pelajaran. Terus gue kepergok, yaudah gue dikeluarin dari kelas" curhat Abel.
"Oh gitu" Davin menganggukan kepalanya.
"Lah elo kenapa diluar kelas? Bolos?"
"Freeclass lah. Masa iya gue bolos" bantah Davin.
"Freeclass? Berarti lo sama kayak kelasnya Fajar dong kak?"
"Gue temen kelasnya. Oh iya elo tau siapa yang nempelin permen karet di rok lo?" tanya Davin.
"Fajar" Abel mengucapkan nama Fajar dan raut wajah Abel berubah jadi muram.
"Lo kalau bisa gak usah berurusan sama Fajar. Gue juga males sama itu anak"
"Emang kenapa? Lo takut sama Fajar"
"Gue gak takut. Cuma gak mau ribet. Punya masalah sama Fajar tuh gak ada kelarnya. Masalahnya malah akan bertambah panjang" nasihat Davin.
"Segitunya si abang" ledek Abel.
"Yeee dibilangin nyolot ya lo bocah" kata Davin sambil menonyor dahi Abel.
"Ih apaan sih lo kak! Gue udah gede tau" omel Abel sambil mengelus dahinya.
"Gede apanya bel?" tanya Davin sambil menyeringai.
"Mesum lo kak anjir!" gertak Abel marah.
"Maksutnya gede badannya. Lo nya aja yang ambigu" sarkas Davin lalu terkekeh.
Abel memilih bungkam. Abel meminum es tehnya hingga tak tersisa. 'sama-sama bikin gedek Fajar sama Davin' batin Abel.
"Ngambekan lo bel hahaha"
"Gak"
"Bella"
Abel hanya diam. Namanya adalah Abel dan bukan Bella. Meskipun namanya adalah Abella.
"Pokoknya gue panggil lo Bella. Biar beda dari yang lain"
"Hm"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate but Love
Teen FictionSeorang Fajar Dika Dewanggara Badboy sekaligus penyumbang dana terbesar di sekolah ternama jatuh cinta pada cewek yang sangat dibencinya karena sifat nyolotnya? Dan cewek yang berani dengan Fajar itu adalah anak baru di sekolah Fajar. Abella Agatha...
