D-Day SeoArt Night Part I

608 99 25
                                        

Tidak terasa mereka kini tengah mempersiapkan hari SeoArt Night. Keesokan harinya pembukaan lomba dansa dibuka. Dara dan ketiga temannya tentu mengambil kesempatan ini untuk mencoba peruntungan mereka karena hanya 50 pendaftar pertama yang akan dijadikan peserta.

Hadiah yang dijanjikanpun tidak main-main. Mereka akan mendapat kesempatan berkencan di beberapa tempat wisata bersama pasangan masing-masing. Dengan biaya ditanggung oleh acara tersebut.

Sandara menatap cermin full body di depannya. Kembali mematut dirinya agar terlihat menawan diacara yang mereka tunggu ini. Dan sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Ia melihat prianya memeluk dirinya dengan wajah yang menelusup di lekukan leher jenjang Sandara yang terbuka.

Gaun selutut berwarna merah muda itu terlihat cocok dengan rambut yang disanggul menyisakan anak rambut dibelakang dan bagian pinggir wajahnya menambah kecantikan Sandara yang telah diluar batas.

"Bisakah kita membatalkan acara ini? Kau terlihat begitu menawan dan aku tak bisa mengatakan pada yang lain bahwa kau milikku," ucap Jiyong menatap manik hazel itu di lewat cermin. Sandara hanya tersenyum hangat. Menyimpan tangannya di punggung tangan prianya.

"Aku selalu milikmu dan tidak pernah berubah. Tidak perlu mengatakan semua itu keras-keras, kita selalu tahu bukan. Cukup kita yang tahu itu." ucap Sandara dengan lembut. Jiyong tersenyum sebelum mencium pundak tertutup itu.

Tangan Jiyong berubah mengusap lengan atas Sandara yang terbuka. Mereka melempar senyum sebelum mengangguk sebagai kode bahwa mereka siap dan akan berangkat.

Perjalanan menuju universitas tak terlalu panjang. Sandara keluar dari mobil Jiyong di depan pintu masuk gedung acara sedangkan Jiyong akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu. Pria itu bahkan baru sampai dan hampir melupakan acara yang telah ia wanti-wanti sejak jauh-jauh hari.

Bayangkan saja, pria itu melupakan janjinya untuk menemani Dara membeli gaun untuk acara itu 3 hari yang lalu. Setelah itu, tadi pagi, pria itu bahkan masih mengurusi latihan bersama teamnya, dengan mengatakan ia telah membuat janji karena acara perdana mereka hanya tinggal hitungan hari.

"Dara!" Sandara berbalik dan melihat teman-temannya berjalan menghampiri dirinya bersama pasangan mereka masing-masing. Ia melirik lorong disekelilingnya. Hampir seluruh mahasiswa yang datang bergandengan tangan dengan pasangannya.

Sandara menunduk. Ia merasa ada yang kurang dalam dirinya melihat hampir semua temannya bersama pria dan gadisnya masing-masing. Ia kembali ingat posisinya dan tersenyum miris. Tuhan tahu seberapa ingin ia membawa prianya, bergandengan tangan bersama pria itu, menggenggam tangannya disekitar jalan.

Ia ingin merasakan bagaimana rasanya melakukan kencan seperti pasangan pada umumnya, ia juga ingin berkencan di Namsan dan tempat romantis lainnya. Bukan berarti Jiyong tidak pernah melakukan itu. Pria itu bahkan sering membawanya ke restaurant untuk makan malam romantis dengannya.

"Kau tak datang bersama Baby Boy?" suara itu mampu membuat Sandara mendongak untuk melihat Bom yang menggandeng Choi Siwon sebagai pasangannya. Ia melirik Chaerin yang datang bersama Lee Soohyuk dan Minzy bersama Kim Jongdae.

Dara menggeleng dengan senyum diwajahnya, "Ahh ya kenalkan, ini Siwon. Dia... Dia adalah mahasiswa seni musik," ucap Bom memperkenalkan pria disampingnya. Dara meraih tangan yang menjulur kearahnya untuk berkenalan.

"Eonni, ini Soohyuk Oppa, dia mahasiswa tingkat 2 di seni peran," ucap Chaerin ikut memperkenalkan pasangannya, sandara masih dengan senyum diwajahnya mengulurkan tangan membalas uluran tangan Soohyuk.

"Dan ini Jongdae Oppa," ucap Minzy mengalihkan perhatian Sandara, "Dia biasa dipanggil Chen dan berasal dari seni musik." Sandara membalas uluran tangan Chen dan mengucapkan namanya. "Apakah Baby Boy-mu benar-benar tak akan kemari Eonni?" tanya Minzy.

Dara menatapnya lalu menggeleng dengan senyum diwajahnya, "Ia masih memiliki jadwal lain yang tak bisa ditinggalkan," ucap Sandara dengan senyumnya. Ketiga sahabatnya menatapnya khawatir yang Dara balas dengan senyuman.

"Gwaenchana lagi pula ini bukan terakhir kalinya kita akan melewati ini bukan?" tanya Sandara, ia menatap sahabat-sahabatnya, "Mungkin kita bisa kemari bersama di tahun depan atau tahun selanjutnya." Sandara mengangkat bahunya dengan tawa hambar keluar dari mulutnya.

Mereka memasuk ballroom milik Universitas mereka dan sudah disuguhi oleh akustik dari club orkestra dan beberapa club musik lainnya. Sandara berjalan sendiri sedangkan tiga teman lainnya bersama pasangan mereka masing-masing untuk mengambil minuman.

Ponsel sandara bergetar di clutch berwarna gading ditangannya, ia mengambil ponselnya dan membaca pesan yang dia terima. Senyumnya mengembang saat membaca pesan pria itu. Prianya mengatakan bahwa ia telah sampai. Tapi senyumnya luntur saat ia ingat ia tak bisa bersama pria itu seperti seharusnya.

Ia melihat sosoknya.

Sosok pria yang kini bersama beberapa dosen pria muda lainnya.

Mata mereka bertemu dan sebuah senyuman terpancar dari wajah pria itu sebelum ia kembali memalingkan wajah kearah lawan bicaranya. Ia masih memperhatikan dosen itu hingga dosen itu menghilang dikerumunan, dan ponselnya kembali bergetar.

"Kemana teman-temanmu?" –Baby Boy-

"Bersama pasangan mereka. Mereka menanyakanmu" –My Daraling-

"Haruskah aku menemanimu? Atau haruskah kita pulang?"- Baby boy-

Sandara menggeleng membaca pesan dari prianya. Ia menggeleng dan mengetik jawabannya,

"Silly you, hanya nikmati malam ini, aku yakin kita bisa mengambil kesempatan tanpa mereka ketahui" –My Daraling-

Sebuah batuk menginterupsi pikiran Sandara. Ia mengangkat kepalanya dan melihat dosen seni lukisnya berdiri disampingnya, "Sandara Park." panggil pria jangkung dan tampan itu yang Dara balas dengan anggukan.

"Aku Park Haejin. Dosen seni lukismu," ucap pria itu mengulurkan tangannya walau ia yakin gadis didepannya sudah mengetahui hal itu tapi ia tidak bisa menahan diri. Ia bahkan terlihat seperti orang dungu berdiri di depan mahasiswanya yang tengah berkencan dengan ponsel putih digenggamannya.

Sandara membalas uluran itu dengan senyum hangatnya. "Apakah kekasihmu tak kemari?" Dara menggeleng sebagai jawaban, "Sayang sekali, banyak pria yang patah hati karenanya dan ingin bertemu dengannya. Aku fikir ia akan datang saat acara seperti ini tapi nyatanya tidak," ucap dosen tampan itu dengan senyum manisnya.

"Eum... sebenanya ia ingin datang tapi tugasnya membuatnya tak bisa datang. So, seperti ini jadinya." Sandara tertawa canggung dan menggaruk tengkuknya bingung. Ia hanya tidak tahu apa yang harus ia lakukan di depan pria yang menjabat sebagai dosennya itu.

"Apakah kau tidak merasa kesepian? Kau tidak pernah memperlihatkan priamu itu, maaf jika aku menyakitimu tapi apakah kau benar-benar memilikinya?" tanya Haejin membuat Sandara menatapnya tidak percaya, apakah- "Aku minta maaf, hanya saja ini terlalu aneh kau tidak pernah menunjukkan wajah priamu itu." Sandara hanya dapat menundukkan kepalanya.

"Mungkin ini terlalu cepat bagimu tapi aku tak bisa menahannya lagi ...." Sandara mendongak untuk melihat pria yang kini berdiri di depannya, "Kau terlihat sangat cantik dengan balutan itu dan ... aku semakin menyukaimu." ucap Haejin menatap manik hazel itu.

Sandara tertegun mendengar pernyataan dosen tampan didepannya. Maniknya beralih pada sosok dibelakang pria itu. Kwon Jiyong menatapnya dengan alis satu mengangkat. Ini tidak baik bagi kelangsungan hidup Dara.

"Tapi bagaimana dengan posisi kita Mr. Park ... Maksudku bukankah seorang mahasiswa dan dosen tidak diperbolehkan berkencan? Bagaimana bisa kau mengatakan itu dengan mudah." alis Dara bersatu dengan wajah yang bingung terlihat jelas.

Dosen itu tertawa kecil sebelum menarik tangan Sandara untuk digenggam dengan kedua tangannya. Sandara terkejut dan segera menariknya namun tertahan dengan genggaman erat Haejin. "Aku bisa keluar dari universitas ini, dan lagi pula aku telah membuat gallery yang akan aku jadikan lahan usahaku," ucapnya dengan bersungguh–sungguh.

Manik Sandara kembali ke sosok yang berjalan cepat kearahnya dengan wajah menahan amarah. Seperti sebuah alarm telah berdengung di otaknya sandara segera melepaskan genggaman itu dan pamit pada dosen di depannya yang mengerutkan keningnya tidak mengerti.

---WHAT-IS-NEXT---

JanusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang