Too Much?

669 108 58
                                        

Dara POV

Aku membuka mataku dan yang aku lihat pertama kali adalah langit-langit kamar kita. Ingatan saat aku menyerangnya tadi malam masuk ke dalam otakku dan yang bisa aku lakukan hanya tertawa. Aku melirik note yang disimpan pria itu untukku.

Aku harus pergi ke perusahaan untuk meeting bersama beberapa artis, hubungi aku jika kau ingin sesuatu

Aku mengangkat bahu lalu memasuki kamar mandi untuk membasuh mukaku. Berjalan kelantai bawah untuk menyiapkan sarapan untukku dan anakku yang kelaparan.

Selama dua hari ini aku selalu membuatnya susah dengan beberapa permintaan mendadak dimalam hari. Seperti malam kemarin aku bermimpi untuk bisa tidur bersama suamiku dan saat dipagi hari rasa kesalku kembali menyerang.

Dan saat tadi malam dimana aku merindukan suara emasnya yang sudah cukup lama tak aku dengar. Aku tidak tahu jika aku akan berakhir dengan menggodanya hingga tertidur.

Baiklah sebenarnya aku tidak benar-benar tertidur. Aku hanya berpura-pura tidur setelah aku menggodanya.

Makan pagi telah disiapkan oleh Jiyong sehingga aku hanya harus menghangatkannya dan memakannya. Aku melirik jam di salah satu dinding dan memutuskan untuk menonton karena aku bingung apa yang harus aku lakukan.

Ponselku berdering saat aku tengah menikmati drama kolosal yang aku tonton di TV. Aku mengangkatnya tanpa melihat siapa ID penelpon, “Yeobseo” aku menegang saat mendengar suaranya. Apa yang gadis ini inginkan?

“Apa kau memiliki urusan denganku Nona?” tanyaku tidak begitu peduli dengan nada suaraku yang terdengar tak bersahabat. Jangan salahkan aku yang begitu membencinya!

“Aku hanya penasaran kemana mahasiswaku berada. Kau menghilang setelah berita itu muncul Sandara, bahkan kau membuat pria yang kau cintai menunggu. Kau tahu apa yang telah kau lakukan padanya Park? Kau hanya bisa membuatnya tersiksa akibat tingkah kekanakanmu” Sandara menatap ruang kosong didepannya.

Jemarinya dengan kuat meremas ponsel pintar digenggamannya. “Ia mendatangiku tadi, ia mengatakan padaku bahwa ia mulai lelah denganmu. Kau terlalu mempermainkannya Park. Kau wanita jalang tak memiliki hati. Kau bahkan bersembunyi di balik sosok polosmu untuk bisa mengelabui Jiyong. Aku benar-benar kasihan padanya. Ia terlihat kurang tidur dan tak bersemangat hanya untuk pergi ke kantor. Kau benar-benar telah membuat harinya lebih berat Park” ucapan itu seolah menohoknya.

Air matanya mengancam keluar, giginya terkatup rapat menahan buncahan amarah dan isakan yang mungkin keluar. Jika memang ia hanya menyusahkannya mengapa ia kembali kehadapannya? “Ia hanya berusaha untuk mempertahankan hubungan pernikahannya denganmu tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan mempersulitnya. Jadi, jika suatu hari nanti ia menyerah dan tak lagi berusaha untuk menyelamatkan rumah tangga kalian jangan salahkan orang lain karena ini semua murni kesalahanmu” air mata itu berhasil keluar tak tertahankan.

Amarahnya benar-benar membuncah dan ia siap berteriak untuk siapapun yang mengganggunya hari ini. “Aku harus pergi karena aku masih memiliki jadwal mengajar. Sayang sekali Tuan Kwon tak lagi berada disini dan ini semua karenamu” ucap gadis itu sebelum menutup panggilannya.

Sandara berteriak keras sebelum membanting ponselnya untuk yang kedua kali. Perutnya kram tanpa alasan dan yang ia bisa lakukan hanya menggeram kesakitan hingga beberapa waktu. Ia mencengkram kuat perutnya yang terasa kebas.

Setelah rasa sakitnya hilang ia segera merapikan penampilannya. Ia akan pergi dan tak akan kembali. Ia hanya tidak ingin dianggap sebagai wanita yang tak punya hati. Ia melakukan ini karena ia tak ingin dianggap mudah oleh suaminya. Ia hanya ingin membuat sebuah pelajaran untuk suaminya agar ia tak melakukan hal yang sama dikemudian hari. Ia mengambil dompet dan segera pergi kesuatu tempat yang ia harap bisa menyembunyikannya dari pria itu.

Sebut dia pengecut, ia tak peduli!

---

Jiyong kembali kerumahnya dengan makan malam ditangannya. Setelah seharian ini berada dikantor membuatnya merindukan sosok yang selama ini membuat harinya cerah. Ia ingat selama 6 tahun ini ia akan menghubungi Sandara sebelum tidur dan setelah bangun tidur. Ia hanya tidak ingin kehilangan moment dengan gadisnya.

Mereka bahkan berkencan layaknya anak dibawah umur. Tak ada tinggal serumah atau apapun. Ia mengikuti apa yang Sandara-nya inginkan. Dan ia tak pernah merasa menyesal telah melakukan itu. Ia seperti anak anjing yang patuh pada majikannya dan siapa dirinya yang bisa menolak itu semua.

Baby” panggilnya saat ia membuka pintu masuk dan yang bisa ia rasakan hanya kekosongan. Ia menyimpan paper bag ditangannya dan segera pergi ke kamar mereka. memeriksa seisi rumah berharap gadisnya berada disana.

Nihil.

Gadis itu menghilang.

Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi ibu mertuanya, “Apakah Dara ada disana?” tanya pria itu langsung, jawaban dari ibu mertuanya membuatnya lemas. Gadisnya kembali menghilang. Kemana lagi pria itu harus pergi? Dan apa kesalahannya sekarang? Apakah karena ia meninggalkannya pagi tadi?

Ia mencari nama kontak gadisnya dan segera menghubunginya saat matanya menangkap benda yang ia kenal. Benda itu hancur berkeping. Gadisnya membanting benda itu bahkan hingga pecah tak berbentuk. Entah apa yang terjadi itu membuatnya semakin takut.

Kakinya benar-benar lemas dan otaknya kosong. Ia kehilangan akal dengan apa yang terjadi hari ini. Ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia segera melihat nama pemanggil itu dan kembali lemas saat ia melihat nama orang yang menjadi urutan terakhir yang ia harapkan memanggilnya malam ini.

Yeobseo

“Apakah kau sedang sibuk?”

“Apa yang kau inginkan Kiko?” tanya pria itu tak ingin berlama-lama berhubungan dengan wanita ular yang kini menghubunginya.

“Tidak ada, aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama, kau tahu, sebagai tanda bahwa kita kembali menjadi teman”

Jiyong mendesah panjang sebelum menggeleng, ini bukan waktu yang tepat ia bersenang-senang, “Aku tidak bisa, istriku tak ada dirumah dan aku harus mencarinya” ucap Jiyong kini menatap langit-langit kamarnya.

“Istrimu tak ada dirumah? Bukankah kau tadi mengatakan bahwa gadis itu tengah menunggumu dirumah? Apakah sesuatu terjadi?”

Jiyong menggeleng, “Aku tidak tahu, aku meninggalkannya tadi pagi bahkan ia masih terlelap saat itu dan saat aku kembali ia tak ada dirumah. Ponselnya hancur dan aku tak dapat menghubunginya saat ini” ucap Jiyong dengan nada tak bersemangat.

Senyuman gadis itu terlihat jelas, rencananya selalu berjalan dengan lancar. Gadis itu benar-benar mudah untuk dikelabui “Poor you, Jiyong. Apakah ini kali pertama kalian seperti ini? apakah kau sudah mencarinya?”

“Aku sudah menghubungi ibunya dan ibunya mengatakan bahwa ia belum kembali sejak tadi malam”

“Apakah kau tidak lelah mencarinya? Ia benar-benar mempersulitmu Jiyong. Ia tak benar-benar menginginkanmu. Ia hanya menarik ulur hatimu yang telah terperdaya olehnya-“

“Jaga bicaramu Nona Mizuhara, bagaimanapun ia adalah istriku” ucap Jiyong dengan nada memperingati yang langsung membuat gadis itu menutup mulutnya. Ia hanya tidak ingin membuat pria itu mengetahui akal bulusnya.

“Aku minta maaf, aku hanya berfikir bahwa gadis itu... ya.. kau tahu... Eum selamat mencarinya Kwon, kau tahu dimana aku berada bukan jika kau butuh sesuatu”

Kalimat itu menjadi kalimat terakhir sebelum Kiko mematikan sambungannya. Jiyong mendesah panjang, ia menutup matanya erat. mengistirahatkan otaknya dari segala macam kepenatan yang ia hadapi hari ini.

---WHAT-IS-NEXT---

JanusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang