Sandara POV
Aku telah siap dengan dress bunga berwarna putih. Aku melirik pria disampingku yang mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam. Ia memakai kaca mata dan topi untuk menutupi wajahnya.
Kami hanya tidak ingin ada seseorang yang mengenali kami. Aku menghembuskan nafas panjang. Haruskah aku mengatakan padanya tentang pembicaraanku dengan Mr. Park kemarin?
Kami sampai di Lotte World. Destinasi pertamaku untuk memulai kencan pertama kami setelah tinggal bersama. Aku meliriknya dan tersenyum cerah, sama seperti senyumnya saat mata kami bertemu.
Aku menariknya menuju salah satu arena bermain saat telingaku menangkap tangisan seorang anak kecil. Ia berhenti dibelakangku menungguku untuk melakukan hal yang aku inginkan. Aku meliriknya dan melirik kerumunan tempat sumber tangisan anak kecil itu berada.
Aku kembali menariknya untuk melihat apa yang terjadi. Aku tidak tahu mengapa disini semua orang begitu tak peduli pada pria manis sepertinya. Pria kecil itu mungkin masih berada di umur empat tahun, dengan pipi gembul dan hidung mungil. Tubuhnya bulat membuatku gemas ingin memeluknya dan menenangkannya.
Aku melepaskan genggamanku pada tangan Jiyong dan menghampiri anak kecil itu, "Apa yang terjadi Baby?" tanyaku menyamai tinggi dengannya, ia melepaskan tangan yang ia pakai untuk mengusap matanya yang berair, "Kemana orang tuamu?" tanyaku menghapus bekas air matanya.
Air matanya masih mengalir dengan isakan yang masih terdengar, aku melirik Jiyong yang juga berlutut disampingku. Mata kami berbicara seolah bertanya apa yang terjadi dan aku hanya mengedikkan bahu tidak tahu.
"Apakah kau tersesat baby?" tanyaku masih berusaha menenangkan pria kecil didepanku, ia menatapku lalu mengangguk. Aku memeluknya sebelum menggendong pria kecil itu,
"Kita bawa ke bagian informasi, kedua orang tuanya pasti mencarinya." aku meliriknya sebelum mengangguk. Jiyong membawaku ke bagian informasi dengan lengan berada di punggung. Aku merasa ini adalah sesuatu yang benar dan aku ingin merasakan hal seperti ini setiap hari.
Kami sampai di bagian informasi, pria kecil dipelukanku masih terisak. Lengannya melingkar sempurna di leherku dengan kepala yang terkulai lemas. Aku mengusap punggungnya menunggu Jiyong melapor pada bagian informasi. Tak berapa lama suara pengumuman terdengar dengan Jiyong yang datang dengan tas ransel kecil milik pria kecil ini.
Ia duduk disampingku lalu mengusap pelan rambut anak laki-laki dipelukanku, "Apakah ia masih tak ingin berbicara?" tanyanya yang aku balas dengan gelengan kepala. Sejak beberapa waktu lalu aku mencoba untuk bertanya siapa namanya dan bersama siapa ia kemari tapi yang ia lakukan hanya menundukkan kepalanya.
Kami menunggu orang tua pria kecil ini hingga satu jam lebih tapi tak ada tanda-tanda dari kedua orang tua itu akan datang. Aku meliriknya yang tengah bercanda dengan Jiyong, dengan ia yang berada dipangkuanku dan Jiyong yang menggodanya disampingku. Sesekali ia akan tertawa lalu memelukku membuatku mau tak mau ikut bermain bersamanya.
Sekali lagi aku melirik jam dipergelangan tanganku. Tidakkah ini cukup aneh? Bahkan kami telah menunggunya selama satu setengah jam tapi kedua orang tua atau seseorang yang bersama pria kecil ini tak juga datang. Apakah mereka telah kembali kerumah dan meninggalkannya?
Aku melirik Jiyong yang kini masih memperhatikan pria kecil dipangkuanku memakan gula-gula kapas yang baru saja Jiyong beli. Ia membalas tatapanku dengan tatapan hangatnya, "Apakah semuanya akan baik-baik saja?" tanyaku, "Ini bahkan lebih dari satu jam setengah," lanjutku melirik sekitarku.
Ia tersenyum hangat dan mengusap rambutku lembut, "Daddy Ji," kami meliriknya secara bersamaan, "Aku ingin ke kamar kecil," ucapnya dengan ekspresi yang lucu. Sepertinya ia menahannya sejak tadi, Jiyong tertawa kecil sebelum mengangkat pria kecil itu dan membawanya pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Janus
FanfictionJust like a janus who has two face. Sandara membenci pria itu hingga keujung rambutnya. Sandara mencintainya dengan seluruh hatinya. Sandara Park. 20. Mahasiswi semester 2. Asisten dosen Kwon Jiyong. Dosen musik di Universitasnya. Dosen yang menjadi...
