Saat Ahseul bersama timnya masih terpaku karena fotonya bersama Jimin yang telah tersebar, Jihoon tiba-tiba datang dengan langkah yang cepat menghampirinya. Ia bahkan menarik tangan Ahseul kasar hingga Ahseul mau tak mau mengikutinya.
"Ini apa lagi?" Sungjae melihat Jihoon tanpa aba-aba menarik Ahseul menjauh dari mereka.
Jihoon kemudian membawa Ahseul ke tempat di mana mereka sering bicara, mesin minuman otomatis.
"Ia menyuruhmu menunggu untuk ini?" Jihoon tak bisa menahan nada bicaranya.
Ahseul masih tampak belum bisa berpikir jernih saat ini. Ia masih tampak menerawang apa yang sebenarnya tengah terjadi ini.
"Noona!!"
Ahseul kemudian mendongak menatap Jihoon yang tampak begitu emosi saat ini.
"Bukan seperti ini, ada yang salah." Ahseul menggelengkan kepalanya pelan.
Jihoon kemudian mendengus kesal menatap Ahseul yang terlihat belum menyadari kondisi saat ini.
"Jadi, apa yang benar? Sudah kukatakan sejak awal ia tak berniat membenarkan ini dan hanya mempersulitmu!"
"Aku harus pergi," ujar Ahseul berbalik.
Dengan cepat Jihoon menangkap pergelangan tangan Ahseul.
"Maaf," ujarnya kembali menepis tangan Jihoon pelan, tak ingin mendengar Jihoon lebih lagi.
***
"Pd-nim, apa ini?" Jimin tak mampu berbasa-basi saat ia masuk ke ruangan direkturnya itu.
"Itu yang ingin kutanyakan. Sudah kukatakan untuk berhati-hati. Kau tidak sadar banyak paparazzi yang mengikutimu sejak foto pertama disebarkan? Kau terlalu lengah!" balas Bang PD.
Jimin mengacak rambutnya frustasi. Ia berdecak kesal saat ia tidak tahu harus melakukan apapun saat ini.
"Berhentilah menemuinya," ucap Bang PD pelan yang sukses membuat Jimin sontak menatapnya dengan sedikit menaikkan kedua alisnya.
"Belum sampai 24 jam saat kau menyetujui hubunganku dan sekarang apa? Berhenti?"
"Ini salahmu. Aku menyetujuinya karena aku yakin kau dapat menyembunyikannya dengan baik. Tapi, lihatlah! Belum 24 jam kau sudah lengah."
Jimin terdiam menatap bagaimana Bang PD berbicara begitu tegasnya.
"Aku tidak yakin kau akan bisa menyembunyikannya lagi untuk ke depannya. Jadi, berhenti menemuinya adalah yang terbaik."
"Mustahil! Sekarangㅡ"
"Tidak mustahil jika kau tidak ingin menghancurkan mimpimu. Ingatlah bagaimana kau bisa berada di sini," ujar Bang PD yang lagi-lagi membuat Jimin terdiam menatapnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar dan membuatnya tersadar dari lamunan singkatnya itu. Ahseul, memanggilnya. Jimin sempat menoleh pada Bang PD sebelum ia mengangkat panggilan itu.
"Jimin-ah,"
"Tak apa, nanti malam kita bicara."
Ahseul terdiam sesaat mendengar kalimat itu.
"Apa sangat serius?" Begitu hati-hati bagi Ahseul untuk bertanya saat ini, takut Jimin seperti kemarin.
"Jangan khawatir, bekerjalah. Aku tunggu di apartemenmu." Jimin mengakhiri panggilannya dengan tatapan pada Bang PD.
Bang PD pun tampak membalas tatapan Jimin yang terkesan mengintimidasi itu.
Sedangkan, Ahseul malah semakin khawatir sejak sebelum ia menelpon Jimin. Ucapan Jimin sungguh membuat perasaannya semakin tak tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEHIND THE SCENE (B.T.S)
Fanfic__Park Jimin__ Ketika ia yang kau cintai mengatakan untuk menghancurkan mimpimu Ketika kau harus menghancurkan hatinya demi membiarkan hidup mimpimu Ketika kau harus membuat luka baru demi melupakan rasa sakit pada luka lainnya __Lee Ahseul__ Keti...
