Chapter 26

3.5K 527 122
                                        

3 Jam Sebelumnya

Sesaat mobil van hitam itu terhenti di sebuah lahan parkir basement, penumpang yang berada di dalamnya pun mulai berbondong keluar. Dengan memegangi belakang leher masing-masing jelas sudah bahwa mereka dalam kondisi letih. Berbeda dengan yang lainnya, Jimin tak langsung masuk ke gedung apartemen mereka. Melainkan berdiri di depan pintu mobil hingga menghadang Taehyung yang hendak keluar.

“Kenapa? Ada yang tinggal?” nada kantuk terdengar jelas dari Taehyung yang mulai berdiri di sisi  kanan Jimin.

“Aku mau pergi dulu, masuklah duluan.” Tak hanya Taehyung yang mendengar itu, Jin serta Namjoon yang belum berada jauh dari mereka pun berbalik menatap Jimin.

“Anak-anak, istirahatlah. Besok akan lebih padat,” ujar Sejin mengalihkan atensi mereka sesaat, sebelum mobil van itu melaju dan mengembalikan pusat atensi pada Jimin.

“Mau ke mana malam-malam seperti ini, kau sangat lelah hari ini. Masuk dan istirahatlah.” Langkah dengan tempo pelan Namjoon bawa mendekat pada Jimin.

“Aku hanya menghirup udara segar, tidak jauh. Hanya berjalan kaki di sekitar sini.” Tak ada tenaga pula terdengar dari Jimin di sana, ia pun tak memaksakan kehendaknya dan malah terdengar seperti memohon dengan putus asa.

“Baiklah, pergilah. Kembali sebelum tengah malam,” ujaran Jin sukses membuat Namjoon dan Taehyung melempar tatapan mereka pada Jin. Bukannya membantu mereka menahan kepergian Jimin, tindakan sebaliknya malah dilakukan Jin.

“Iya, aku pergi ya.” Sesaat kalimat itu terucap Jimin memutar tubuhnya ke sisi kiri dan meninggalkan mereka di sana, seraya memakai topi yang sedari tadi dipegangnya hingga menaikkan hoodie-nya.

Hyung, tidak apa-apa seperti itu? Apa perlu aku ikuti?” Taehyung melirik Namjoon dan Jin secara bergantian setelah menatap punggung Jimin yang semakin jauh.

“Sudahlah, Jimin punya cara tersendiri mengobati lukanya.”

“Ayo, kita masuk saja.” Namjoon meraih pundak Taehyung seraya menariknya pelan agar mengikuti langkahnya dengan Jin yang lebih dulu masuk setelah berucap tadi.

Jimin benar-benar sudah meninggalkan gedung apartemennya, ia melangkah dengan tempo pelan tanpa tujuan. Tak ada tempat yang ingin dikunjunginya, jika ada maka ia tak dapat ke sana. Dialognya bersama Jin di tempat syuting tadi kembali menyeruak saat ini dalam pikirannya.

“Kenapa? Kau tidak bisa fokus?”

Kesalahan kecil yang tak biasa dilakukan oleh Jimin kini sudah beberapa kali ia lakukan. Bahkan sutradara sempat menghentikan syuting mereka selama 15 menit.

“Aku juga tidak tahu, hanya saja ... sedikit hampa.” Duduknya ia di lantai dengan sedikit menyibakkan rambut blonde-nya itu menjelaskan pula bagi Jin bagaimana frustasinya Jimin saat ini.

Berjongkok menjadi tindakan Jin kemudian, ia menyamakan posisinya dengan Jimin sebelum berucap, “Aku bertemu Ahseul beberapa hari yang lalu.”

Tertunduknya kepala Jimin tak berlaku saat nama Ahseul tersebut di sana, ia menatap Jin penuh tanya.

“Aku memintanya untuk menemuiku.”

“Kenapa?”

“Kau sangat beruntung rupanya.”

Kerutan dahi serta sedikit memicingnya mata sipitnya itu menjelaskan betapa bingung ia akan kalimat Jin tersebut, “Apa maksud, Hyung?”

“Dia menangis di hadapanku sambil mengatakan bahwa harinya hampa tanpa dirimu. Ia tidak tahu kalau peranmu begitu besar dalam hidupnya,” sedikit senyuman tak percaya dengan napas pendek mendampingi terdengar sebagai jeda di sana, “ia bahkan membayangimu saat menatap gedung apartemennya. Apa itu masuk akal?”

BEHIND THE SCENE (B.T.S)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang