Keceriaan menghiasi panggung megah BTS sudah menjadi hal biasa di tiap penampilan mereka. Semua tampak bersenang-senang; para anggota BTS maupun ribuan pasang mata yang mengagumi mereka itu. Konser berjalan dengan semestinya, tak ada penyesalan apapun yang tersisa; dan hanya ada rasa untuk terus berjuang ke depannya.
Hoseok dan Jungkook tampak tengah bercermin; melihat wajah mereka yang kini penuh keringat itu. Tak lama, Jimin pun ikut bergabung dengan langsung berdiri di sisi kanan Hoseok; menjadikannya ditengah-tengah. Hoseok sedikit meliriknya dari cermin, Jimin melakukan hal yang sama. Hanya saja Jimin turut melepaskan beberapa gelang dan cincin yang dipakainya itu.
Saat itu pula atensi Hoseok berhasil terfokus pada bagian dalam pergelangan tangan Jimin—sebelah kanan—yang tampak memerah itu. Bukan kemerahan biasa; sebab Hoseok saja dibuat sedikit tercengang untuk beberapa sekon kala melihat itu.
“Jimin, pergelangan tanganmu kenapa merah sekali?” nada kekhawatiran jelas terdengar dari Hoseok, hingga kerutan keningnya semakin terlihat kala Jimin bergerak menyembunyikan pergelangan tangannya.
“Iritasi, hyung. Biasa, gelang-gelangnya tidak cocok dengan kulitku.” Seolah ingin meredakan kekhawatiran Hoseok, Jimin sedikit menunjukkan pergelangan tangannya dengan mengangkatnya dan sedikit menggoyangkannya.
“Jangan pakai kalau begitu, atau ganti. Jangan menahan sakit untuk membahagiakan orang lain.”
Senyuman malaikat khas Jimin mulai tersungging sebelum ia menjawab, “Tidak sesakit itu.”
“Sesakit itu bagi orang yang melihatnya,” balas Hoseok dengan nada keseriusan mulai sedikit terdengar; ia benar-benar tak ingin Jimin menyakiti dirinya sendiri demi membahagiakan orang lain.
“Baiklah, baiklah.” Jimin menjawabnya dengan nada malas beserta senyuman menahan tawa melihat Hoseok begitu berlebihan menurutnya.
***
Pintu putih dengan ukuran sedang itu tergeser, Jihoon masuk dengan sebuah shopping bag yang dijinjingnya, “Noona,” panggilnya langsung saat tak menemui penghuni kamar rawat rumah sakit itu.
Ya, Ahseul nyaris 3 minggu di rawat di rumah sakit sejak gejala terparahnya kambuh saat itu. Saat di mana Jimin seharusnya bisa tahu penyebab berubahnya gadis pengisi hidupnya itu. Ahseul disarankan untuk melakukan perawatan intensif di rumah sakit sebelum menjalankan pengobatan untuk penyakitnya; setelah melewati beberapa tes dan yang lainnya.
“Noona.” Tak ada jawaban apapun yang mampu melegakan Jihoon. Ia meletakkan shopping bag itu di sofa dengan asal, dengan sedikit lirikan pada ranjang kosong itu; seolah memastikan bahwa Ahseul memang tak di sana.
Sebuah pintu yang menghubungkan ruang itu dengan kamar kecil menjadi tujuannya, dan panggilan untuk Ahseul kembali terlontar dengan suara yang sedikit dilantangkan oleh Jihoon.
“O-oh, aku di dalam.”
Langkah Jihoon terhenti sesaat ia dapat mendengan suara Ahseul dengan jelas, “Aku akan segera keluar,” ujar Ahseul kembali yang memanggil kelegaan Jihoon.
“Baiklah, cepatlah. Aku bawa buku yang kau suruh bawa.” Jihoon mulai menjauh dari pintu itu dan memilih menunggu Ahseul di ranjang gadis itu. Namun, selang beberapa sekon, tak ada tanda-tanda bahwa Ahseul akan segera keluar.
“Noona, kenapa lama sekali?”
“O-oh, perutku sedikit sakit. Mungkin karena sup semalam. Bisakah kau membeli obat pencahar untukku?”
Ada sesuatu yang janggal, Jihoon sangat merasakan aura-aura aneh yang mulai merasukinya. Tanpa kalimat lagi ia mendekat kembali pada pintu yang sempat ia jauhi itu. Kini langkahnya sedikit cepat, dan ternyata dikunci.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEHIND THE SCENE (B.T.S)
Fanfiction__Park Jimin__ Ketika ia yang kau cintai mengatakan untuk menghancurkan mimpimu Ketika kau harus menghancurkan hatinya demi membiarkan hidup mimpimu Ketika kau harus membuat luka baru demi melupakan rasa sakit pada luka lainnya __Lee Ahseul__ Keti...
