Chapter 8

4.2K 615 17
                                        

"Kau di mana? Dari bandara langsung menghilang," ucap seorang pria dengan tegas melalui sebuah ponsel.

Jimin, lelaki yang menjadi lawan bicara pria itu terkekeh geli saat Sejinㅡmanajernyaㅡyang kalang kabut sibuk mencari keberadaannya.

"Aku menemui ibuku yang datang ke Seoul dulu dan mungkin tidak akan pulang ke dorm malam ini."

"Dasar! Kau bisa katakan itu tadi dan aku bisa mengantarmu," ujar Sejin dengan nada kesalnya.

"Maaf, Hyung." Jimin hanya tersenyum tanpa dosa.

"Baiklah, sampaikan salamku pada ibumu. Katakan jika besok mau dijemput."

Sejin memang sangat memperdulikan anak-anaknya itu. Ia bahkan akan terlihat seperti seorang ayah yang menegur anaknya jika mereka salah.

Jimin kini tengah menunggu Ahseul di depan gedung apartemennya. Sedangkan ibunya sudah ia temui di sebuah hotel di mana arisannya diadakan. Dibalik alasan itu, menemui Ahseul adalah alasan sebenarnya.

Ia bisa saja menunggu Ahseul di dalam. Toh, ia juga sering masuk tanpa Ahseul di dalamnya. Namun, kali ini ia ingin menunggu dengan dingin yang menemani karena rasa rindunya tak bisa ia tahan lagi. Gadis yang hampir setiap hari ia lihat selama 3 tahun terakhir, kini hanya dalam waktu sebulan ia sudah hampir mati rasanya tak melihat wajah itu.

Jimin mulai merapatkan mantel yang membungkus tubuhnya itu. Berdiri 10 menit di malam hari dan terlebih di musim dingin bukanlah hal yang menyenangkan. Mungkin kini beberapa sarafnya sudah hampir lemas. Tak lama, gadis yang ia tunggu mulai menampakkan wujudnya.

Ahseul tampak berjalan gontai di bahu kiri jalan. Sedikit menundukkan kepalanya menandakan kini kepalanya benar-benar berat dan cukup lelah untuk mengangkatnya. Jimin awalnya tampak tersenyum senang ketika ia melihat Ahseul, tapi senyumnya sontak luntur melihat kondisi gadis itu yang begitu miris, menurutnya.

"Tubuhnya akan hancur lama-lama," ujar Jimin dengan sedikit desahan beratnya melihat bagaimana Ahseul yang begitu lemah setiap menapakkan kakinya.

Tiba-tiba, sebuah gejolak dalam tubuh Ahseul memaksa keluar secara tiba-tiba. Ia refleks membawa tubuhnya ke tembok di pinggir kiri jalan itu dan menundukkan kepalanya, mengeluarkan semua isi perutnya. Ia muntah di sana.

"Seul-ah!" Jimin sontak panik melihat Ahseul dan langsung berlari menghampiri gadis itu yang tak jauh darinya.

Ahseul terus saja memuntahkan seluruh isi perutnya. Jimin tak bisa mengedipkan matanya saat melihat bagaimana menderitanya Ahseul. Jimin pun berusaha menguranginya dengan mengusap lembut punggung Ahseul.

"Pelan-pelan," ujar Jimin pelan.

Merasa ada seseorang di sampingnya, ia kemudian menyudahi kegiatannya itu dan mulai berdiri tegak kembali.

"Jimin?"

"Hei, kau sakit? Kau ini!" Jimin malah menggeram ketakutan menatapnya.

"Kenapa kau di sini?" Tanya Ahseul lemah yang masih tampak tersengal dengan napasnya.

***

Jimin segera mendudukkan Ahseul di sofa ruang tengah apartemen Ahseul sesaat mereka masuk. Ia kemudian bergerak cepat ke meja makan yang tak jauh jaraknya, mengambil segelas air putih dan kembali kepada Ahseul.

Ahseul meminum air putih yang diambilkan Jimin itu dan bisa membuatnya sedikit merasa lega. Jimin kemudian ingin membersihkan bekas muntahan yang masih tersisa di ujung bibir Ahseul. Namun, tangan Ahseul sontak menahannya. Ia menggelengkan kepalanya seolah tanda ia malu jika Jimin harus membersihkannya.

BEHIND THE SCENE (B.T.S)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang