Getaran ponsel yang tiba-tiba saja berdering—di bawah bantal—sedikit membuat Jimin terkesiap. Ia buru-buru membuka matanya dan merubah posisinya, yang tadinya telentang begitu pulas dalam tidurnya. Kini ia terduduk dengan sedikit membungkuk, masih belum bisa mengumpulkan jiwanya. Sedikit memutar lehernya beberapa derajat kemudian, melihat sosok gadis yang semalam tidur dalam dekapannya. Tak ada, dan Jimin sudah terbiasa akan hal itu.
Ah! Deringan ponsel itu sangat mengganggunya. Ia menggerakkan tangannya ke bawah bantal, berusaha meraih ponselnya tanpa melihat ke sana. Ia bahkan belum membuka kelopak matanya sepenuhnya.
“Hei!! Park Jimin! DI MANA KAU?!!”
Refleknya cepat menjauhkan ponsel yang baru saja hendak ditempelkannya di daun telinganya itu. Menapat teriakan kuat di pagi hari cukup membuatnya sedikit terkejut dan membuka matanya dengan sempurna. Ia bahkan tak melihat siapa yang memanggilnya, meneriakinya di pagi hari. Rapmon Hyung, tertera itu di layar ponselnya.
“Kenapa? Telingaku sudah pecah di pagi hari,” ujar Jimin santai dan masih berusaha meregangkan beberapa ototnya.
Tak banyak yang diucapkan oleh Namjoon dengan nada tingginya. Namun, perubahan ekspresi Jimin yang begitu signifikan dapat dipastikan bahwa bukan hal baik yang tengah disampaikan. Panggilan berakhir, Jimin buru-buru menyentuh layar ponselnya berkali-kali, berusaha mencari sesuatu di sana.
Untuk pagi ini ia sudah dibuat terbelalak dua kali, akibat teriakan Namjoon serta yang kedua ialah yang tengah ia pandang di layar ponselnya. Dengan cepat ia turun dari ranjang dan bergegas keluar dari kamar. Saat keluar, ia langsung bisa melihat Ahseul yang tengah menyiapkan sarapan pagi di meja makan.
“Kau bangun? Duduklah, sarapan sudah siap.”
“Oh ... itu ... aku harus pergi. Ada hal mendadak,” ucap Jimin sedikit terbata, tampak ia menyembunyikan apa yang tengah terjadi.
“Hm? Hal mendadak?” Ahseul berkerut kening, meletakkan cangkir susu di meja seraya mendekat ke arah Jimin.
“Ah ... nanti akan kutelpon. Aku harus pergi, maaf.”
Ahseul hanya menatapnya, tak ada tatapan menuntut penjelasan di sana. Hanya diam sesaat sebelum Ahseul menunjukkan senyumnya dan mengangguk. Kalimat untuk berhati-hati kembali diucapkannya.
Jimin bungkam di sana, gerakan buru-burunya yang sedetik tadi masih terlihat. Kini sirna kala Ahseul tersenyum dan mengangguk tanpa menuntut penjelasan apapun darinya. Walaupun Jimin sangat yakin bahwa Ahseul sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Jimin memajukan langkahnya, mendekat dengan Ahseul hingga membuat tak ada jarak di posisi berdiri mereka. Ia membawa tangannya mengelus pelan pipi kiriAhseul, membawa rambut tipis gadis itu ke belakang telinga putihnya itu. Kemudian, sedikit menarik wajah Ahseul seraya memajukan wajahnya hingga menempelkan bibirnya di bibir Ahseul.
Tak ada penolakan atau bahkan keterkejutan yang ditunjukkan Ahseul, ia hanya diam. Tak lama kecupan itu terjadi, hanya sepersekian detik bibir keduanya bersentuhan sebelum kembali terlepas saat Jimin menjauhkan wajahnya. Sedikit menunduk menatap mata Ahseul lekat, dengan jarak yang dekat itu.
“Sudah lama aku tidak mendapat morning kiss, hari ini aku mencurinya, tak apa ‘kan?” Jimin sedikit tersenyum simpul di sana.
Ahseul terkekeh pelan, tetap menatap Jimin dengan senyuman cerahnya.
“Kau boleh mengambil lebih dari itu,” ujar Ahseul di sela senyumnya.
“Hari ini segini saja, karena nanti aku bisa melakukannya lagi ... nanti ....” Jimin tersenyum pahit kali ini, sedikit mengangguk pelan seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa melakukan yang lebih nantinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEHIND THE SCENE (B.T.S)
Fanfiction__Park Jimin__ Ketika ia yang kau cintai mengatakan untuk menghancurkan mimpimu Ketika kau harus menghancurkan hatinya demi membiarkan hidup mimpimu Ketika kau harus membuat luka baru demi melupakan rasa sakit pada luka lainnya __Lee Ahseul__ Keti...
