“Kenapa dengan kau?! Sadarlah!” seruan dengan nada tinggi itu sudah kesekian kali bergema di studio di mana BTS kini tengah menjalani syuting MV mereka untuk comeback kali ini.
Semua member BTS tampak sedikit mengigiti bibir bawah mereka seraya mengusap pelan belakang kepala mereka kala syuting kembali dipotong secara paksa akibat salah satu dari mereka memberikan gerakan yang salah. Jimin menjadi satu-satunya yang salah selama 3 kali berturut-turut sedari tadi.
“Park Jimin! Kau tidak ingin menyelesaikan ini, oh?!” menggunakan pengeras suara sutradara itu kembali memekik pada Jimin.
Jimin hanya mengacak pelan rambutnya tanda kefrustasiannya, ia juga tak berniat salah di sini. Hanya saya ia tak bisa fokus sejak syuting sedari tadi.
“Jimin, kau kenapa?” Namjoon mendekat pada Jimin dan sedikit menegurnya.
Jimin hanya berdecak pelan sebelum berucap dengan lantang, “Maafkan aku, maafkan aku.” Jimin bahkan membungkukkan tubuhnya beberapa kali ke arah para staf yang mulai lelah akibat syuting di scene hanya berjalan ditempat sedari tadi.
“Kita lakukan lagi, stand by!”
BTS mulai mengambil posisi formasi pertama mereka kembali. Hoseok yang berada tepat di sisi kanan Jimin pun sempat berucap sebelum kata action terdengar, “Tenanglah, Jimin-ah. Kajja!”
Jimin sedikit menoleh pada Hoseok dan senyuman serta anggukan pelan diberikan Hoseok di sana. Mencoba meyakinkan Jimin bahwa ia bisa.
“Ajja, ajja! Fighting!” Jin yang berada di belakang pun seolah memberikan efek semangat pada adik-adiknya yang mulai lelah itu. Sambutan pun diberikan Taehyung menyahut ucapan Jin, hingga Jimin sedikit berbalik dan menoleh ke arah mereka.
Jungkook pun ikut menepuk pundak Jimin di sana, ikut memberikan dorongan semangat pada Jimin yang mereka yakini sangat terpojok saat ini. Terlebih beberapa kali ia menerima teguran kekesalan dari sutradara tadi. Senyuman pun akhirnya ditunjukkan Jimin, ia lega member yang sudah ia anggap bagai keluarga ini tetap berada di sisinya.
***
Perutnya serasa tengah diputar, seolah tengah ada tangan yang tengah mengacak-ngacak isi perutnya. Meringkuk dengan memegangi perutnya sudah sejak beberapa menit lalu dilakukan oleh Ahseul, sampai gejolak isi perutnya memaksa keluar dari tempatnya. Ahseul menyibakkan selimutnya cepat, berlari dengan langkah tak tetap, berusaha mencari langkah tercepat menuju toilet.
Suara dobrakan pintu terdengar kuat kala Ahseul bahkan mendorongnya tanpa sadar, hingga ia terduduk dengan sebagian wajahnya berada di atas lubang WC. Tepat saat itu pula, isi dari perutnya keluar. Tak hanya sekali, tampak beberapa kali ia memuntahkan isi perutnya itu. Ini muntahannya kembali setelah terakhir kali saat Jimin melihatnya di sudut gang.
Sandaran punggungnya pada tembok dingin di toilet itu menandakan kegiatannya usai. Bahkan helaan napas yang tak beratur menjadi tanda bahwa ia sangat kesakitan untuk beberapa saat yang lalu. Namun, tampak penderitaannya belum usai kala ia kembali mengerang hebat memegangi perutnya.
“Akh—“ gerakan lambat berusaha meraih ponsel di saku bajunya kini ia lakukan dengan susah payah.
“119 ‘kan? To-tolong aku, ak-aku kesak-sakitan ...,” lirihnya susah payah kala tenaga pun tak dimilikinya saat ini. Ahseul benar-benar dikuasai kesakitan, bahkan wajahnya kini sudah tak memilki warna, keringat dingin mengalir tanpa henti di kedua pelipisnya.
***
Hampir satu jam sudah Ahseul berbaring di ranjang tipis rumah sakit tersebut. Ia tak kehilangan kesadarannya secara total. Ia hanya berbaring dan menerima infus setelah sampai di rumah sakit setelah ambulan datang ke apartemennya. Ia tahu apa yang menderitanya. Stress serta kelelahan selalu menjadi alasannya seperti ini. Jika sampai muntah seperti ini, berarti tubuhnya memang sudah tak dapat dikontrol lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEHIND THE SCENE (B.T.S)
Fanfiction__Park Jimin__ Ketika ia yang kau cintai mengatakan untuk menghancurkan mimpimu Ketika kau harus menghancurkan hatinya demi membiarkan hidup mimpimu Ketika kau harus membuat luka baru demi melupakan rasa sakit pada luka lainnya __Lee Ahseul__ Keti...
