Chapter 23

3.5K 505 49
                                        

Matahari sudah mulai tinggi, dan kesadaran baru menyapa Jimin. Ia sedikit mengedipkan matanya perlahan. Atensinya ia bawa ke setiap sudut ruangan itu. Ah, ia masih di rumah Ahseul. Ia ingat semalam ia tidur dengan Ahseul dalam dekapannya, tangis gadis itu menjadi penahan kepulangannya. Ahseul bahkan masih terisak kala berbaring dalam dekapan Jimin. Ia tak bisa menghentikan tangisnya dengan mudah, dan Jimin tahu itu.

Satu hal lagi yang Jimin tahu, Ahseul selalu tak berada di sisinya saat pagi hari. Tak ada Ahseul di ranjang itu. Jimin mengambil ponselnya di saku celananya. Pukul 9 pagi, tentu saja gadis itu tak ada di rumahnya. Ia pasti sudah pergi bekerja. Jimin pun bergerak keluar dari balutan selimut itu dan segera meninggalkan apartemen Ahseul. Namun, saat ia hendak memakai sepatunya, ada sebuah memo tertempel di sana.

‘Makan dulu sebelum pergi, hati-hati saat pulang nanti.’

Jimin kemudian berbalik, melirik ke arah dapur. Berbagai macam lauk sudah tertata rapi di meja makan itu dengan penutup makanannya masing-masing. Ia bahkan bisa melihat ada memo lain di atas tutup panci itu. Ahseul benar-benar tak merubah sikapnya, ia masih mengurus dirinya.

***

Masuk ke gedung besar yang menjadi kantor salah satu stasiun TV swasta dilakukan Jimin saat ini. Tak lupa dengan segala atribut penyamaran tentunya, ia tak ingin mengambil resiko berjalan dengan wajah terbuka di siang hari seperti ini. Walaupun tindakannya saat ini pun cukup beresiko. Namun, lagi-lagi ia tidak bisa mengabaikan Ahseul.

Jimin semalaman melihat dengan jelas bagaimana gadisnya menangis hebat dengan segala isakan yang membuatnya sesak sekaligus frustasi. Saat pagi harinya, Ahseul pergi begitu saja tanpa tatap muka dengannya. Apakah ia bisa tenang? Jawabannya jelas ditunjukkan Jimin saat ini, ia tidak bisa mengabaikan Ahseul.

Jimin mulai berdiri di sudut yang beberapa kali menjadi tempatnya menunggu kehadiran Ahseul. Ia mulai menghubungi Ahseul. Tak butuh waktu lama, Ahseul mengangkatnya.

“Seul-ah.”

“Oh, Jimin-ah.” Suara Ahseul tak hanya di dengar melalui ponselnya, ia bahkan mendengarnya di sekitar dirinya. Ia menoleh dan melihat Ahseul tengah berada di tengah lobi dengan mengangkat sebuah kardus berukuran sedang. Jimin tersenyum dan hendak menghampirinya.

“Kau di kantor ‘kan? Aku mau menemuimu, aku—“

“Jangan! Kau tidak perlu datang ke sini ...,” ujar Ahseul dengan sedikit nada penyesalan di akhir kalimatnya karena menyela Jimin tadi.

Jimin diserang ketekejutan di sana, Ahseul menolak menemuinya. Jimin pun terdiam di posisinya, menatap Ahseul dari kejauhan.

“Kau ... kau sudah berjanji tidak akan menemuiku dan aku menyetujui hal itu. Seperti ini saja, jangan lebih.”

“Seul-ah ....” Jimin tercengang di sana, ia tidak percaya Ahseul benar-benar mengabulkan kalimat spontanitasnya kemarin, yang ia ucapkan sekedar agar Ahseul mau berhubungan dengannya lagi.

“Ini yang terbaik sekarang, Jim. Jangan buat dirimu lelah karena harus menjaga dua hal, biarkan aku menjaga diriku sendiri saat ini.”

“Kalau begitu setidaknya kau jangan menangis. Bagaimana aku bisa mengabaikanmu saat tahu kau menangis? Jangan menangis lagi.”

Ahseul terdiam sesaat, ia mengambil napas terlebih dahulu, “ Baiklah, aku tidak akan menangis lagi.”

Bungkam kemudian menjadi pilhan keduanya, tak ada yang berucap setelah itu. Jimin lebih memilih melihat gadis itu dari kejauhan, dengan lalu lalang orang-orang yang bekerja di sana juga.

“Jim—“

“Seul—“

Lagi, mereka terdiam kala sedikit tercekat karena sama-sama memanggil.

BEHIND THE SCENE (B.T.S)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang