Chapter 32

3.1K 451 40
                                        

Angin malam berhembus, menyapa kulit orang-orang yang dilewati hembusan angin dengan dingin menusuk itu. Ahseul dan Jimin menjadi salah satu yang ikut merasakan bagaimana dinginnya angin malam itu berhembus di tepi sungai Han, ditambah pula dengan situasi dingin yang baru saja terjadi.

Dingin dan kelam, kedua kata itu tersirat pada manik bergetar Ahseul, menatap kosong hamparan luasnya sungai Han ditengah gelapnya malam. Keterkejutan yang tampaknya masih belum bisa diterima oleh Ahseul menjadi penyebabnya, keterkejutan akan tindakannya sendiri pada Jihoon. Ia menampar kuat dengan suara nyaring mendominasi pada Jihoon dihadapan Jimin. Bukan hanya kedua maniknya yang berekasi, kedua tangannya yang kini saling mengenggam di atas kedua lututnya yang sengaja ditekuk ikut berketar hebat.

Jimin, pemuda yang membawa gadisnya itu ke sini hanya bungkam dengan atensi yang tak beralih pada gadisnya itu. Kalimat ataupun sepatah kata pun tak terucap, lidahnya kelu kala mebayangkan betapa emosinya Ahseul saat menampar Jihoon tadi. Sosok gadisnya yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Tanpa ucapan, kini genggaman secara perlahan mulai diciptakan Jimin pada tangan pucat gadisnya yang tengah bergetar itu.

“Kau sudah memilihku ‘kan?” lirihan dengan segala titik kelemahan terdengar menggema pelan di telinga Jimin. Si pemilik suara tak mempertemukan manik mereka, gadisnya masih setia menatap gelapnya sungai di hadapannya.

“Ada apa sebenarnya? Kenapa denganmu dan Jihoon?” berbeda dengan Ahseul, Jimin mengalihkan seluruh pusat atensinya pada Ahseul, melihat sisi kanan wajah gadisnya itu.

“Aku pilihanmu ‘kan?”

“Lee Ahseul! Kau membuatku takut! Kenapa denganmu?” perubahan posisi dilakukan Jimin, ia bangkit dari duduknya dan memilih berjongkok di hadapan Ahseul. Penuh paksaan ia menarik pundak mungil gadisnya itu untuk menatapnya, gurat keseriusan dari Jimin sungguh membuat getaran pada tubuh Ahseul semakin menjadi.

“Aku tak akan melepasmu, apapun yang terjadi padaku.”

Kembali bungkam menjadi respon Jimin, kali ini helaan napas yang begitu panjang serata manik yang mulai melemah ikut serta menjadi reaksi akan ucapan Ahseul yang mulai aneh meurutnya. Jimin dapat menarik kesimpulan bahwa gadisnya kini tengah tak dapat berpikir jernih, terlalu banyak hal yang ia pikirkan sampai tak tahu harus bagaimana.

Berkali-kali Jimin menghembuskan napasnya, terkesan begitu lelah dan frustasi di saat yang bersamaan. Eratan genggaman tangannya pada Ahseul pun semakin ia kunci, sesaat sempat pula menjatuhkan kepalanya di sana, menumpu bebannya yang mulai tak sanggup ia tahan sendiri lagi. Masalahnya dengan Bang PD tadi, hingga Ahseul yang seperti ini semakin membuat jiwanya lelah.

“Kita pulang saja, ayo.” Jimin bangkit dari jongkoknya seraya menarik kedua tangan Ahseul untuk mengajaknya berdiri.

Langkah demi langkah tercipta, Jimin meraup tubuh Ahseul dalam dekapannya seraya melangkah. Angin malam membuat Jimin khawatir akan melukai gadisnya yang tengah terluka ini. Sampai pada saat jarak beberapa meter, ia menyadari bahwa Ahseul tak benar-benar melangkah. Gadisnya hanya menyeret kedua kakinya, dan tubuhnya memang berada dalam dekapan Jimin.

Kembali Jimin mengalihkan atensinya, menatap wajah Ahseul dengan tatapan kosong ke depan tanpa ada niatan mempertemukan tatapan mereka. Jimin menyerah, ia tidak akan bisa bertanya apapun pada Ahseul saat ini. Jimin memilih kembali berjongkok di depan Ahseul, menghadang jalan gadis itu dan menaikkannya ke punggung dirinya. Tanpa penolakan hal itu terjadi. Wajarnya, jika Jimin selalu hendak menggendong Ahseul, maka Ahseul dengan cepat menolak dengan alasan hanya akan membuat Jimin lelah nantinya. Tapi, lihatlah bagaimana Ahseul tetap tenang akan hal itu, membuat Jimin semakin yakin akan simpulannya bahwa Ahseul memang dalam kondisi sangat tidak baik saat ini.

BEHIND THE SCENE (B.T.S)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang