***
Dia mulai menyalakan mobilnya dan menjalankannya dengan kecepatan sedang ke arah kampusku.
Senyap. Tak ada suara yang terlontar diantara aku dan Bisma. Tunggu! Apa lebih baiknya aku memanggilnya 'paman'? Sepertinya aku lebih cocok memanggilnya begitu.
Aku menoleh ke arahnya. Bukan karena dia tampan. Karena merasa aneh saja dengan suasana se-sepi ini. Bahkan biasanya aku memutar lagu dan bernyanyi saat menyetir sendiri. Aku berdecak kesal melihat wajahnya yang seperti es. Dingin.
***
Bisma memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang kampus. Baru saja aku akan membuka pintu, Bisma mencegahku. Aku menoleh malas kepadanya. Pria itu nampak menyeritkan alisnya.
"Kamu nggak bilang makasih, atau apa gitu?"tanyanya
What?? Aku sudah telat dan dia menahanku cuma untuk menanyakan hal itu? Bahkan aku juga tak berharap dia menjemputku pagi tadi.
"Harus?"tanyaku ragu
Bisma terkekeh kecil. Apa maksudnya?
Aku memutar tubuhku kembali menghadap Bisma. Namun pria itu tetap santai seakan tak melakukan hal aneh.
"Apa maksud ketawamu tadi?"tanyaku dengan nada kesal
Tentu saja. Aku kesal. Sangat bahkan.
"Aku bahkan sudah menjemputmu. Sabar menunggumu yang tak kunjung keluar kamar. Dan mengantarmu dengan selamat sampai kampusmu. Tak ada rasa terima kasih sedikitpun yang ingin kau ucapkan?"tanyanya
Apakah harus? Pamrih sekali orang ini.
"Bahkan aku telat masuk kelas dan kamu menahanku hanya untuk ini? Baiklah 'Terima Kasih'"ujarku pada akhirnya
Dia kembali tertawa. Tapi aku mengabaikannya. Lebih baik aku segera keluar dari mobil ini dan berlari ke kelas.
'Brakkkss'aku membanting pintu mobilnya cukup keras
Biarkan saja jika dia kesal padaku. Mungkin dia akan marah jika mobil Bercedez Benz S 500 L yang harganya lebih dari 3,5 miliar rusak karena ku banting pintunya. Tapi aku tak peduli. Dia cukup kaya untuk membeli mobil baru. Jadi aku yakin dia tak akan menuntutku hanya karena hal itu.
*
Waktu menunjukkan pukul 12.40. Harusnya dosen itu sudah keluar dari kelas sejak 10 menit lalu. Tapi entah apa yang membuat beliau begitu betah berdiri di hadapan kelasku. Perutku berkali-kali berbunyi. Hhss.. aku berkali-kali mendesah kesal mengingatnya. Mengingat kebodohanku yang tidak sarapan tadi pagi hanya karena 'pria menyebalkan' itu ada di ruang makanku.
'Ini gara-gara si tua itu'batinku terus mengumpat
Sedetik setelah dosen yang ku perkirakan usianya sudah hampir menginjak 60 tahun itu pergi, aku bergegas ke kantin. Bahkan sesekali terdengar suara Fany yang memanggil namaku. Aissh...lamban sekali dia. Aku memilih duduk di kursi yang cukup dekat dengan pintu dan segera memesan makanan.
"Mawar, loe berapa hari sih nggak makan? Kayak orang kurang pangan aja"kesal Fany yang baru saja datang
Gadis itu sudah duduk di hadapanku. Menampakkan wajah kesal yang sudah biasa ia tunjukkan padaku.
"Gue memang lapar. Tadi pagi nggak sempat sarapan gara-gara orang nyebelin itu udah nangkring di meja makan gue"ujarku
Fany menyeritkan alisnya.
Baik. Aku paham maksud sahabatku yang super kepo itu.
"Aku di jodohkan"ujarku tiba-tiba
Fany nampak terkejut. Tentu saja. Bahkan semalam aku sendiripun terkejut.
Pesananku datang dan aku segera menyantapnya. Aku tak lagi memperdulikan Fany yang masih menatapku aneh.
"Sama siapa? Ganteng nggak? Sama Pak Brian ganteng mana?"tanya Fany bertubi-tubi
Aku menegakkan badanku untuk dapat melihatnya. Mulutku masih asyik mengunyah makanan yang beberapa detik lalu ku santap.
"Oh iya, dan kapan rencananya kalian akan menikah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BELOVED FIANCE (LovelyChick1) (Completed✔)
ChickLit#44 in chicklit (16-12-2017) #68 in chicklit (24-12-2017) #69 in chicklit (13-12-2017) Usia 19 tahun dan aku di jodohkan? Fine. Karena aku tak dapat menolak, atau ayah pasti akan memarahiku habis-habisan. BISMA. Seorang pria dengan wajah santainya...
