Chapter 36

6.7K 264 10
                                        

AUTHOR POV

***

Mawar mendorong kursi roda Bisma hingga ke taman halaman belakang rumahnya. Sudah seminggu terakhir, Mawar selalu datang ke rumah orang tua Bisma untuk merawat pria itu.

Bagaimana kondisi Bisma?

Saat ini dia hanya bisa duduk di kursi roda. Tulang kaki kirinya bergeser dan perlu pemulihan selama satu bulan. Selain itu, dokter mem-vonis Bisma buta. Hal itulah yang membuat Mawar terus merasa bersalah.

"Bis, kamu mau makan sesuatu?"tawar Mawar
Bisma tersenyum kemudian menggenggam tangan Mawar. Membawa tangan kecil itu ke pangkuannya.

"Tidak. Aku hanya ingin kau disini"balasnya sembari tersenyum tipis

Mawar memutari kursi roda Bisma kemudian duduk di sebuah bangku panjang.

"Gimana kuliahnya hari ini?"Bisma
Mawar nampak mengingat-ingat, apa saja yang terjadi hari ini.

"Semua baik-baik saja, kecuali mood Fany. Dia baru saja menyadari kalau dia mencintai Erik sejak seminggu lalu. Tapi, tadi Erik membagikan undangan pertunangannya"terang Mawar

Bisma mengangguk paham.

"Kau tidak kena masalah apapun kan?"Bisma
"Tidak"jawab Mawar

"Bagaimana denganmu? Apa saja yang kamu lakukan sebelum aku datang?"

"Tiduran di kamar, mendengarkan musik, emm.... nggak banyak"Bisma

Mawar tersenyum miris mengamati Bisma saat pria itu asyik bercerita.

"Kenapa?"tanya Bisma yang menyadari Mawar yang tiba-tiba terdiam

Setetes air mata lolos dari pelupuk mata gadis itu. Namun, dengan segera ia menghapusnya.

"Aku hanya merasa bersalah. Andai saja aku tidak bersikap kekanakan, kamu pasti tidak akan seperti ini"ujar Mawar dengan suara serak

Bisma menggapai wajah Mawar untuk membelai pipinya. Selang beberapa detik, setetes air membasahi jemarinya.

"Bukan salah kamu"balas Bisma

Mawar malah semakin merasa bersalah. Pasalnya, sedikitpun Bisma tak pernah menyalahkannya. Padahal, sejak awal, sejak tau Bisma akan melakukan hal senekat itu, ia merasa semua itu adalah salahnya.

Bisma menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya.

"Aku tetap bersyukur dengan apapun yang telah terjadi. Setidaknya hal itu mampu mengembalikanmu ke sisiku"Bisma

"Walau mataku buta dan saat ini aku tak bisa berjalan, tapi ada alasan untuk aku bisa bernapas, yaitu kamu. Itu jauh lebih baik daripada seluruh fisikku baik-baik saja, tapi hatiku kosong tanpamu"lanjutnya

Tangisan Mawar semakin menjadi. Bahkan tubuhnya sampai bergetar karena isakkannya.

"Sudahlah!"Bisma

"Bagaimana dengan Brian sekarang?"

"Bukankah dia selalu kesini untuk mengabarkan perkembangan perusahaan?"Mawar

"Ya. Maksudku, bagaimana dengan hubungan kalian?"Bisma

Mawar melepaskan pelukan Bisma. Ia menatap dalam manik mata pria di depannya yang nampak kosong.

"Hey, kau masih disana?"Bisma ketika tak mendengar apapun di sekitarnya

"Hmm.."balas Mawar

"Bagaimana hubunganmu dengan Brian? Bukankah pertunangan kalian tinggal dua minggu lagi?"Bisma

Mawar menghela napas panjang. Ia menatap sendu Bisma yang masih menantikan jawabannya.

"Apa aku jahat jika aku ingin membatalkannya?"tanya Mawar

Bisma menyerit.
"Kenapa?"

"Aku ingin menjadi alasanmu untuk selalu kuat"Mawar
"Maksudmu, kamu ingin membatalkan pertunanganmu dengan Brian demi aku?"tanya Bisma tak percaya

Mawar terdiam. Rasanya begitu jahat bila ia meninggalkan Brian. Dia bahkan pernah berjanji untuk mencoba mencintai pria itu. Tapi...bagaimana dengan hatinya?

"Apa karena kamu merasa bersalah dan kasian dengan keadaanku yang seperti ini, makanya kamu ingin menebusnya dengan cara itu?"tanya Bisma sendu

Mawar yang tadinya menunduk, kini mulai mengangkat kepala untuk menatap Bisma. Dia menggelengkan kepalanya kuat.

"Bukan"jawabnya
"Lalu?"Bisma

Lagi, Bisma mendengar helaan napas seseorang di hadapannya.

"Itu karena aku cinta sama kamu. Aku sudah mencoba melupakan kamu, dan belajar mencintai kak Brian, aku sudah mencobanya berkali-kali. Tapi..sama saja. Aku tidak pernah bisa melupakan, apalagi membenci kamu"terang Mawar

Bisma terdiam. Wajahnya nampak kaku.

"Aku punya banyak alasan untuk membenci kamu. Tapi, itu semua tidak pernah cukup menghapus kamu dari hatiku, sedikitpun tidak bisa"lanjut Mawar

Mata Mawar kembali berkaca-kaca. Ia kembali teringat akan luka yang telah Bisma torehkan beberapa waktu lalu. Ia juga teringat saat beberapa bulan ini berusaha menjauh, membenci pria itu. Tapi, hatinya selalu memberontak, dan hanya membuatnya semakin tersiksa.

Bisma menarik Mawar ke dalam dekapan hangatnya. Membuat mata Mawar semakin memanas.

"Aku jahat ya Bis? Kak Brian sudah menolongku, menemaniku setiap saat, tapi aku malah ingin melepasnya"

Mawar semakin mengeratkan pelukannya. Jujur, hatinya senang. Ia bahagia saat Mawar mengatakan bahwa gadis itu masih sangat mencintainya.

"Mawar"
Bisma dan Mawar segera melepaskan pelukan mereka.

Mawar menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan mendapati Brian yang menatapnya sendu.

"Kak Brian?"kaget Mawar

Pria itu tersenyum miris menatap gadis yang sangat ia cintai itu.

Pastilah sangat hancur hatinya, mendengar kata demi kata yang Mawar ucapkan.

Mawar bangkit dari duduknya kemudian melangkah ke arah Brian dengan perasaan penuh rasa bersalah.

Sementara Bisma? Ia hanya diam. Tatapan kosongnya terarah pada titik dimana Mawar dan Brian berdiri.

Hati Mawar berdegup tak karuan. Ia menghela napas berkali-kali untuk menenangkan pikirannya. Menyiapkan jawaban terbaik atas apa saja yang akan Brian berikan untuknya. Bagaimanapun, Mawar tak ingin melukai hati pria itu.

***

Bersambung..

Jangan lupa vomment, biar semangat ngetiknya😊

MY BELOVED FIANCE (LovelyChick1) (Completed✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang